Posted by: niadilova | 07/08/2016

Sebuah Catatan Klasik mengenai Mitos tentang Kembar Buncing (Manak Salah) di Bali

Sebuah Catatan Klasik mengenai Mitos tentang Kembar BuncingTradisi lokal berbagai etnis di Indonesia terus berubah. Banyak yang sudah hilang ditelan zaman, tapi tak sedikit pula yang masih bertahan karena mampu beradaptasi dengan perubahan waktu.

Bali dikenal sebagai etnis yang dianggap kuat mempertahankan tradisi lokalnya. Begitulah kesan kebanyakan orang luar terhadap masyarakat Bali. Pulau Dewata ini sangat menarik perhatian dunia karena masyarakatnya yang tetap teguh mempertahankan adat resam nenek moyang mereka, walaupun negeri mereka dibanjiri turis asing yang membawa masuk budaya regional dan global.

Namun demikian, Bali bukan tidak mengalami perubahan sosial-budaya. Dalam sebuah seminar tentang kebudayaan Bali Utara di Buleleng yang saya hadiri beberapa tahun lalu, saya mendapat kesan bahwa di kalangan intelektual Bali sendiri terdapat percanggahan pandangan: satu pihak melihat pariwisata dapat meningkatkan kesadaran orang Bali untuk mempertahankan tradisi mereka; pihak lain melihat pariwisata telah menimbulkan erosi budaya dan efek-efek lainnya terhadap masyarakat Bali.

Mitos tentang kembar buncing di Bali

Salah satu aspek kebudayaan tradisional Bali yang menarik adalah kepercayaan tentang anak kembar buncing atau orang manak salah. Menurut penjelasan scholar Bali, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, kalau kembar buncing (lelaki-perempuan) terjadi pada keluarga biasa, itu dianggap bencana dan (dulu) berakibat dikucilkan. Jika itu terjadi pada keluarga ‘kasta-atas’, maka itu dianggap anugerah. Air bekas memandikan bayi kembar buncing dari ‘kasta-atas’ itu diyakini dapat menyuburkan sawah-ladang.

Majalah Pandji Poestaka No. 46, TAHOEN IV, 11 Juni 1926, hlm.1052-1053 memuat tulisan Soedjana tentang kembar buncing. Menurut tulisan yang berjudul “ORANG MANAK SALAH DIPOELAU BALI” itu, “jang diseboet ‘manak salah’ jaitoe seorang iboe bangsa soedra jang melahirkan doea anak, laki2 [dan] perempoean. Adapoen iboe bapa dan kedoea anak jang baroe lahir itoe dikatakan berdosa (menjebabkan negeri panas, mengoerangkan hasil negeri dan memboeat mala atau chara, kepada seloeroeh désanja), sehingga meréka itoe patoet dihoekoem menoroet ‘adat.”  Soedjana sama sekali tidak menyinggung manak salah yang terjadi di kalangan ‘kasta-atas’ sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Darma Putra.

Soedjana, yang kemungkinan berasal dari Bali sendiri, menjelaskan bahwa “apabila dalam seboeah désa ada orang ‘manak salah’, maka perempoean itoe dengan soeaminja bersama anak-anaknja dioesirlah oléh orang désa itoe serta ditetapkan meréka itoe mesti tinggal beroemah diloear désa boeat sementara; biasanja ditepi tanah koeboer. Empat poeloeh doea hari lamanja meréka mesti tinggal tertoetoep dalam seboeah pondok ketjil (karantina) jang disediakan oléh orang-orang désa itoe baginja.”

Dijelaskan lebih lanjut oleh Soedjana: “Djika soedah genap 42 hari, maka orang jang manak salah itoe baroe dilepaskan dari koeroengan dan meréka mesti memboeat selamatan (metjaroe namanja) doea kali oentoek menjelamatkan désanja. Selamatan jang pertama diboeat ‘Ngeloengah’, dan jang kedoea ‘Mesadi’ namanja. Biaja bagi doea matjam selamatan itoe ± 150 poekoe képeng atau f 300 banjaknja.”

“Kalau méreka itoe miskin, ta’ mampoe memboeat selamatan itoe”, lanjut tulisan itu lagi, “maka pendoedoek désa itoe haroes memberi oeang oeroenan setjoekoepnja.” Masyarakat Bali percaya bahwa selama selamatan metjaroe belum dilakukan, “maka désa itoe dikatakan orang charam, jaïtoe sabel atau mala, dan didalam désa itoe tiada boléh orang memboeat selamatan sembahjang déwa atau ngajoe-ngajoe, sebab tempat itoe dipandang masih kotor.”

Jadi, jika ada orang yang berani melakukan ngajoe sebelum petjaroe diadakan, maka hal itu dianggap dapat mengotori desa, dan apabila ada Pedanda (Pendéta) yang ikut memberi doa dalam selamatan itu, maka “Pendéta itoepoen toeroet dianggap charam (kotor).” Pendeta yang melakukan kesalahan demikian akan dihukum oleh raja dengan hukuman ‘Matirtja-Jatra’, jaïtoe mandi sambil memboeat selamatan dimata-mata air.”

Jika seorang ibu yang melahirkan anak kembar buncing sakit, dia pun bersama suaminya dihukum juga. “Ia dikoeroeng 42 hari lamanja [di sebuah pondok yang dipagar] dengan menanggoeng segala kesoesahan jang boekan sedikit beratnja.” Kedua anak buncing-nya juga ikut dibawa ke sana. Selama hukuman itu berlangsung, ia dilarang keluar dari pondok isolasi itu. Akan tetapi suaminya “dapat kelonggaran oentoek pergi meminta-minta derma kepada orang2 didalam sepoeloeh désa ‘adat (adasô Baleagoeng), tetapi ia sekali-kali tiada boleh bermalam di tempat itoe.” Si ibu yang dihukum itu juga harus merawat “anak-anaknja jang baroe lahir itoe, dan dibantoe djoega oleh soeminja jang toeroet terhoekoem itoe.” Setiap malam pondok itu dijaga oleh empat orang lelaki atas suruhan kepala desa. Mereka berganti-ganti melakukan penjagaan.

Kritik

Karena perubahan zaman, mitos mengenai anak kembar buncing ini, yang konon juga ada dalam tradisi orang Tionghoa, mulai mendapat kritik dari orang-orang atau golongan tertentu dalam masyarakat Bali. Menurut Soedjana, hukuman adat ini sangat memberatkan si ibu dan anaknya. Katanya: “[D]isebabkan oléh atoeran atoeran penjiksaan jang kerap kali terdjadi sebagai terseboet di atas itoe…maka kebanjakan anak-anak jang lahir sematjam itoe [kembar buncing] mati dalam ‘oemoer jang amat péndek, jaïtoe mati dalam pondok [isolasi]nja sebeloem ber’oemoer 7 hari.”

Si penulis mengekspresikan kesedihannya. Ia mengatakan bahwa kebanyakan wanita yang mengalami hukuman adat seperti itu terlihat sangat kurus dan sangat letih. Mereka masih harus memenuhi kewajiban lagi membuat sajen Metjaroe dengan tanggungan ongkos yang amat berat. Mereka yang tidak punya uang sering terpaksa “mendjoeal roemahnja atau sawah ladangnja.”

“Achiroe’lkalam”, demikian Soedjana mengakhiri tulisannya, “besar pengharapan penoelis, moedah-moedahan atoeran itoe lambat laoen dapat dilenjapkan sama sekali, serta diperhatikan poela oléh jang berwadjib.”

Tulisan Soedjana yang terbit 90 tahun lalu itu menunjukkan bahwa kritik terhadap kepercayaan orang Bali tentang  anak kembar buncing sudah lama muncul. Tampaknya sampai sekarang orang Bali masih mempercayainya, sebagaimana terefleksi dalam novel Incest karya Wayan Artika (Yogyakarta: Pinus, 2005). Novel ini sempat menimbulkan gejolak di Bali karena di dalamnya Wayan Artika mengeritik kekolotan adat menyangkut kembar buncing, tidak hanya tentang perlakuan kepada mereka ketika masih bayi, tapi juga tentang keharusan kepada mereka untuk melakukan kawin incest ketika sudah dewasa. Novel Incest menyuarakan pendapat bahwa adat yang menyangkut kembar buncing tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang.

Menurut Katrin Bandel yang mengulas Incest dalam bukunya, Sastra, Perempuan, Seks (Yogyakarta: Jalasutra, 2006: 129-134), gugatan terhadap novel ini mungkin terkait dengan kesan (image) tentang Bali yang merupakan objek turisme dunia, sehingga “timbul rasa bangga yang sangat kuat [di kalangan orang Bali] dengan budaya sendiri yang tidak dimiliki kebanyak kelompok etnis lain” (133). Katrin mencatat pula, kritik terhadap adat dalam novel Incest cukup berbeda dengan kebanyakan novel berlatar Bali lainnya, termasuk yang terbit di zaman kolinial, di mana mitos pengukuhan terhadap adat lebih kuat dibanding mitos pembebasan.

* Lihat juga: http://www.kompasiana.com/suryadileiden/sebuah-catatan-klasik-mengenai-mitos-tentang-kembar-buncing-manak-salah-di-bali_57a4ee1e927a61cf37b11dc0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: