Posted by: niadilova | 29/06/2016

Ramadan ‘Senyap’ di Belanda

Ramadan ‘Senyap’ di Belanda

Seperti di belahan dunia lainnya, umat Islam di Belanda memulai puasa tahun ini pada tanggal 6 Juni. Pada hari pertama Ramadan, waktu Magrib jatuh pada pukul 10:00 malam dan jadwal imsak adalah jam 02:52. Pada hari kedua, waktu Magrib masuk pada pukul 10:02 malam.

Hari-hari berikutnya, jadwal Magrib bergeser ke depan sebanyak satu menit, sementara waktu Imsak selatif tetap: beberapa menit sebelum jam tiga dinihari. Menurut kalender yang sudah disusun oleh komunitas Islam di Belanda, pada akhir Ramadan nanti (Senin, 5 Juli 2016), waktu Magrib jatuh pada pada pukul 10:07 malam dan jadwal Imsak pada pukul 02:56 dinihari.

Dari penjelasan mengenai jadwal magrib dan Imsak di atas dapat dihitung  bahwa panjang waktu menahan/puasa di Belanda, khususnya di Leiden, setiap harinya adalah sekitar 19 jam. Jadi, kami berpuasa di Belanda lebih panjang daripada di Tanah Air yang rata-rata sekitar 13 jam. Waktu menahan di Belanda lebih panjang karena Ramadan kali ini, sebagaimana tahun yang lalu, jatuh pada musim panas.

Sebagaimana telah sama kita ketahui, pada musim panas siang menjadi lebih panjang dan malam menjadi lebih pendek. Makin ke ujung musim panas (Agustus), makin memanjang pula siang dan, sebaliknya, makin memendek pula malam. Meskipun begitu, umat Islam di Belanda masih beruntung karena Ramadan tahun ini (1437 H) jatuh pada bulan pertama atau awal musim panas (Juni). Pada tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, lamanya menahan di bulan puasa tentu akan lebih pendek lagi, karena pada tahun-tahun mendatang Ramadan di Belanda dan Eropa pada umumnya akan jatuh pada musim semi. Sebabnya adalah: setiap tahun jadwal Ramadan bergerak mundur sekitar seminggu. Itu artinya bahwa dalam Ramadan pada tahun-tahun mendatang di Belanda/Eropa, siang menjadi lebih pendek, dan malam menjadi makin panjang.

Bagi saya pribadi, masa menahan yang agak panjang itu (sekitar 19 jam) agak terasa ringan karena Ramadan tahun ini jatuh pada saat sudah dimulainya libur semester genap di Universitas Leiden (break semester musim panas/summer). Jadi, puasa bagi saya terasa tidak terlalu berat karena saya tidak harus mengajar setiap hari. Bayangkan, jika harus mengajar (berbicara di depan kelas selama 6 jam sehari) sambil puasa yang panjangnya 19 jam, tentu akan kering kerongkongan dan akan habis tenaga.

Sebagai minoritas di negeri yang mayoritas dihuni oleh umat Khatolik dan ateis, umat Islam di Belanda (jumlahnya sekitar 4% daro total penduduk Belanda menurut sensus 2012; menurut cacah jiwa 2016 jumlah penduduk Belanda 17 juta jiwa) menjalani Ramadan dengan cara sederhana saja. Dengan kata lain, semarak Ramadan sebagaimana yang terlihat di negeri-negeri mayoritas Islam di Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, tidak terlihat di Belanda. Kedatangan Ramadan tidak mempengaruhi ritme kerja masyarakat Belanda dan juga tidak begitu terlihat di ruang publik: tidak ada bunyi sirene (apalagi beduk) membangunkan orang bersahur, suara mengaji dan azan dari mesjid (azan dengan mikrofon yang dipancarkan ke luar mesjid dilarang di Belanda), keramaian di sekitar mesjid oleh jemaah taraweh, dan kesibukan di pasar tempat orang menjual menu pabukoan. Memang di tempat-tempat tertentu, sedikit terlihat suasana Ramadan, seperti di antara komunitas-komunitas imigran dari Timur Tengah, khususnya di kalangan komunitas Maroko yang jumlahnya cukup menonjol di Belanda. Demikianlah umpamanya, minggu lalu, sekitar jam 4 sore, saya pergi ke slagerij Mabroek di Leiden, sebuah toko yang menjual aneka jenis makanan halal bercitarasa Arab dan Magribi (Toko Mabroek didirikan oleh imigran asal Maroko di Leiden sejak 1974). Di situ sedikit terasa suasana Ramadan: toko itu ramai dengan orang-orang yang membeli pabukoan dan aneka bahan makanan lainnya yang bercitarasa Arab dan Margribi.

Ramadan ‘Senyap’ di Belanda1

Dengan kata lain, di Belanda, Ramadan, sebagaimana aktivitas keagamaan lainnya, lebih terkait dengan wilayah privat orang per orang. Keluarga-keluarga muslim berbuka bersama di rumah masing-masing. Walau sesama Islam, komunitas-komunitas muslim di Belanda lebih diikat oleh batasan nasion dan negara asal masing-masing, tidak terkecuali komunitas Islam Indonesia yang tinggal di Belanda. Mereka amat jarang bercampur satu sama lain. Kalaupun ada kontak, umumnya lebih bersifat pribadi ketimbang komunal.

Kedutaan Indonesia/KBRI Den Haag dan Mesjid Al-Hikmah, mesjid Indonesia di Den Haag, misalnya, selalu mengadakan shalat taraweh bersama. Biasanya kesempatan itu diisi pula dengan tausiyah agama oleh seorang yang dianggap mengetahui soal agama (sering disampaikan oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani PhD-nya di bidang Islamic studies di Belanda). Demikian pula halnya dengan Mesjil Al-Hikmah di Den Haag. Mesjid milik Indonesia hasil sumbangan Probosutedjo itu selalu menyelenggarakan acara berbuka dan shalat taraweh bersama pada bulan Ramadan. Akan tetapi tentu saja warga muslim Indonesia yang tinggal di kota lain seperti saya dan keluarga, tidak mungkin akan pergi shalat taraweh ke mesjid itu, karena letaknya jauh dari rumah kami.

Organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda, seperti PPI Leiden, selalu pula mengadakan acara buka bersama setiap tahun. Biasanya mereka berkumpul di sebuah apartemen/rumah mahasiswa. Sebagaimana halnya acara buka bersama di KBRI Den Haag, acara seperti itu biasanya diikuti oleh mahasiswa lintas agama. Mereka berbuka bersama dengan aneka makanan yang sudah disiapkan sebelumnya secara bersama-sama. Acara seperti itu, sebagaimana juga terjadi di Tanah Air, makin kentara nuansa kultural dan komunalnya ketimbang nuansa religiusnya: selesai buka bersama mereka bernyanyi bersama, tidak shalat taraweh bersama. Akan tetapi “sikap netral” terhadap agama itu sudah menjadi ciri mahasiswa Indonesia sejak zaman saisuak, sebagaimana dicatat oleh seorang mahasiswa kita bernama Tjok ketika dia sampai di Leiden pada musim dingin 1937 (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2016/03/17/kilas-balik-tiba-di-negeri-belanda-1937/; diakses 26-6-2016). Memang harus kita akui bahwa Ramadan dalam perspektif Indonesia makin mengalami pergeseran nuansa. Lihatlah citranya di televisi-televisi kita selama sebulan ini: Ramadan di-pop culture-kan. Ini adalah ‘buah’ dari komodifikasi dan monetisasi agama yang semakin masif di Indonesia.

Demikianlah sedikit gambaran tentang suasana Ramadan (tahun ini) di Belanda. Walau bagaimanapun, bagi diaspora Indonesia di luar negeri, rindu untuk merasakan suasana Ramadan di Tanah air adalah ‘siksaan hati’ tahunan yang selalu mereka derita. Kurang lebih dua minggu lagi lebaran akan datang – “suikerfeest (pesta gula)”, kata orang Belanda. Kerinduan kepada Tanah Air tentu akan makin memuncak pula: terbayang suasana Hari Raya yang meriah bersama keluarga besar; terbayang shalat Idul Fitri yang ramai di mesjid-mesjid dan lapangan-lapangan umum; terbayang orang kampung memotong kerbau bersama-sama; terbayang pesta pantai di Pariaman dan keramaian di tempat-tempat wisata lainnya. Seperti tahun lalu, kami mungkin hanya akan pergi shalat Ied di Mesjid Al-Hikmah di Den Haag, kemudian pergi ke kediaman Duta Besar Indonesia di Wassenaar untuk bersilaturahmi dengan staf kedutaan dan komunitas Indonesia lainnya. Selepas itu, orang-orang akan kembali ke rumah masing-masing. Dan kehidupan kembali seperti biasa. Lebaran yang agak senyap. Begitulah. Urang mambantai kudo / Awak mambantai itiak / Urang bahari rayo / Awak baguluang lapiak.

Suryadi – Leiden, 23 Juni 2016

* Artikel ini diterbitkan di harian Padang Ekspres, Selasa, 28 Februari 2016.


Responses

  1. Tulisan yang padat akan informasi tentang suasana Ramadan di Belanda. Terima Kasih Uda Adi.

  2. Terima kasih banyak atas kunjungan dan apresiasinya Bung Eka ‘Serbalanda’ Semoga sehat dan sukses selalu.

  3. Assalamualaikum…
    pembaca pun bisa merasakan senyap nya…. 😦 😦
    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: