Posted by: niadilova | 20/06/2016

Minang Saisuak #267 –Vervolgschool (Sekolah Sambungan) di Gaduik, Fort de Kock (Bukittinggi)

Vervolgschool (Sekolah Sambungan) di Gaduik

Daerah Fort de Kock (Bukittinggi) dan sekitarnya adalah wilayah yang paling antusias mengadopsi pendidikan sekuler yang diperkenalkan Belanda sejak paroh kedua abad ke-19. Dimotori oleh warga Koto Gadang, gairah menerima pendidikan ala Eropa itu mewabah ke berbagai daerah di Minangkabau. Tentang hal ini, bacalah kembali studi Elizabeth E. Graves, Asal-usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX, Penerjemah: Novi Andri, Leni Marlina, Nurasni; Editor ahli: Mestika Zed. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007 (aslinya: disertasi University of Wisconsin, 1971).

Rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini menurunkan foto klasik yang mengabadikan guru-guru dan murid-murid “Verlvolgschool di Gadoet (Fort de Kock)”. Dikatakan bahwa sejak 1923 di Gaduik sudah berdiri sebuah sekolah sambungan/lanjutan (vervolgschool). Pada awalnya masyarakat kurang antusias menyambut kehadiran sekolah itu: hanya sekitar 15% dari murid-murid yang terdaftar  yang rajin datang ke sekolah. Tetapi dengan ikhtiar guru-guru, terutama ketika seorang guru yang bernama Engku Soeki mengajar di sekolah itu, yang kemudian menjadi kepala sekolah itu, minat murid-murid untuk belajar terus meningkat dan jumlah murid sekolah itu makin bertambah ramai.

Sejak 1925-1928 tercatat 32 orang murid lulusan sekolah itu dapat masuk ke sekolah tingkat yang lebih tinggi. Di antara lulusannya ada yang kemudian menjadi guru. Karena prestasi itu, Engku Guru Soeki mendapat pujian dari bagian inspeksi/penilik sekolah. Untuk merayakan kesuksesan sekolah itu, sekaligus untuk menghormati Guru Soeki, maka pada bulan April 1928 sekolah itu menyelenggarakan helat gedang yang dihadiri oleh pemuka masyarakat, Asisten Residen dan Controleur Agam. Para pengunjung dihibur dengan musik dan perarakan serta pertunjukan “main komidi dengan tjeritera Siti Djamilah”. Semua orang bersuka ria. Tuan Asisten Residen dan wakil-wakil pemuka masyarakat memberikan sambutan yang memuji-muji kemajuan sekolah itu. “Pada keesokan harinya […] murid-murid yang berbahagia itu bersama-sama dengan iboe bapa, ninik mamaknja, serta beberapa orang pengholoe dalam negeri Gadoet [pergi] menodjoe roemah e [engku] Soeki, sambil mengantarkan seékor djawi betina dan sehelai destar kepada engkoe goeroe kepala jts [yang tersebut] oentoek mendjadi tanda mata bagi goroe jang berdjasa besar itoe. Pemberian ini diterima oleh e [engku]. Soeki dengan soeka hati.”

Di bawah foto ini tertulis keterangan: “Gambar ini meloekiskan moerid-moerid jang telah berbahagia dapat mentjapai peladjaran lebih tinggi, bersama-sama dengan goeroe-goeroenja. Jang doedoek dikoersi dari kiri kekanan: e. [engku] M. Sjarif, hulponderwijzer [guru bantu]; e. Soeki, hoofd der school [kepala sekolah]; e. Iljas, hulponderwijzer, dan e. A. Gani, hulponderwijzer.”

Begitulah guru-guru dihormati oleh murid-muridnya, orang tua murid-murid, dan masyarakat pada maso saisuak. Kini? Entahlah! Rabab sajalah yang menyampaikan.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Singgalang, Minggu, 19 Juni 2016 (Sumber foto dan teks kutipan: Majalah Pandji Poestaka, No. 36, Tahoen VI, 4 Mei 1928: 660).


Responses

  1. […] ini disalin dari tulisan Engku Dr. Suryadi Sunuri di blog […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: