Posted by: niadilova | 20/06/2016

Asrama Pelajar di Tanjungpinang (1940an)

Asrama Pelajar di TanjungpinangTanjungpinang – dalam ejaan lama ditulis: ‘Tandjong Pinang’ – sudah lama menjadi kota penting di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Orang dulu menyebutnya ‘kota dollar’, lantaran mata uang (currency) yang dipakai di sana adalah dollar The Straits Settlement, demikian penjelasan sejarawan Aswandi Syahri kepada saya. Oleh karena itu pula Tanjungpinang menjadi pusat aktivitas ekonomi yang membuat banyak orang dari daerah lain datang ke kota ini untuk mengadu nasib. Walau kini kota Tanjungpinang sudah disaingi oleh kota Batam, namun kota ini tetap penting sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi di wilayah Kepri. Sebagai ‘kota dollar’, Tanjungpinang juga menjadi magnet di bidang pendidikan di masa lampau. Banyak orang tua dari daerah sekitar mengirim anak-anak mereka bersekolah ke Tanjungpinang.

Aswandi Syahri dalam artikelnya, “Dari Cornets de Grootfonds Hingga Riouw Studiefonds (Sekolah dan Pendidikan Modern di Kepulauan Riau 1857-1939)”, Batam Pos (lembaran Jembia, rubrik ‘Khutubkhanah’) edisi 10 Januari 2016, mengatakan bahwa pendidikan di Kepri sudah mulai jauh sebelum Ki Hajar Dewantara lahir pada tahun 1889. Aswandi menyebutkan, dua Resident Riouw yang amat berjasa dalam pembangunan yayasan penunjang pendidikan adalah Cornet de Groot yang mendirikan Cornet de Groot Fonds dan Doeve yang mendirikan Doeve Stichting. Dalam perjalanan masa, intelektual bumiputera dan orang Tionghoa terlibat pula dalam bidang pendidikan di Kepri.

Artikel ini menyarikan sebuah laporan jurnalistik tentang dunia pendidikan di Tanjungpinang di tahun-tahun awal kemerdekaan. Dari artikel itu dapat pula diketahui beberapa aspek seputar dunia pendidikan di Tanjungpinang pada masa itu, yang tentunya dapat menambah pengetahuan kita mengenai sejarah pendidikan di Kepri. Laporan jurnalistik itu bertajuk “ASRAMA DOEVE STICHTING”, dimuat dalam majalah Waktoe (terbit di Medan), No. 9, Tahun III, Sabtu 26 Maret 1949: 21.

Satu foto menyertai laporan itu, yang dilampirkan di sini. Menurut Aswandi Syahri, bangunan yang diabadikan dalam foto itu dikenal orang sebagai  Asrama Pelajar yang dibangun oleh Riouw Studie Fonds  (RSF) yang berdiri tahun 1939. Mengapa koresponden Waktoe di Tanjungpinang, Kemalawati, menulis judul artikel itu  “ASRAMA DOEVE STICHTING”? Menurut Aswandi RSF bukan kelanjutan dari Doeve Stichting yang didirikan pada tahun 1920an.

Namun besar kemungkinan ada yang diwarisi oleh RSF dari Doeve Stichting. Saya interpretasikan demikian berdasarkan keterangan yang agak tersirat dalam laporan itu. Dikatakan bahwa “sejak sebelum Perang Dunia Kedua di Tandjong Pinang memang telah ada Asrama untuk peladjar2 putra dan putri jang datang dari kepulauan yang berkeliling Tandjong Pinang dan djuga dari daerah luaran, ma’lumlah karena Daerah Riau terbagi atas berpuluh2 pulau yang ketjil2[,] djadi sangat susah dengan perhubungan.”

Selanjutnya dikatakan: “Tetapi sesudah peperangan kedua ini [Perang Dunia II] jang biasa djuga dikatakan zaman pembangunan, maka Asrama itu diperbesar lagi dengan 3 (tiga) local dan sebuah rumah tempat pengurusnja.”

“Asrama tersebut sekarang telah mempunjai 8 kamar tidur[,] sebuah kantor dan dua buah rumah pengurusnja”, demikian bunyi laporan itu lagi.

Dari penjelasan itu dapat dikesan bahwa asrama tersebut sudah ada sejak sebelum Perang Dunia II dan telah mengalami tiga tahap proses sebelum mendapatkan bentuknya yang sekarang (seperti diabadikan dalam foto ini). Pertanyaannya adalah: apakah bentuk yang mula-mula, yang telah ada sebelum Perang Dunia II itu, adalah Internaat Doeve Stichting? Pertanyaan lainnya: apakah lokasi Asrama RSF ini sama dengan lokasi Internaat Doeve Stichting? Atau lokasinya kemudian dipindahkan? Menurut Aswandi, lokasi Internaat Doeve Stichting berada di Jl. Teuku Umar sekarang, di tempat Bioskop Cathay didirikan belakangan, yang kemudian sejak 1960an berganti nama menjadi Bioskop Gembira. Sedangkan lokasi Asrama RSF berada di Jl. Agus Salim sekarang, persisnya di areal yang kini menjadi Kantor Camat Tanjungpinang Barat.

Agaknya untuk memastikan apakah ada hubungan historis antara RSF dan Doeve Stichting, perlu ditelusuri data-data lain. Namun, jelas kiranya bahwa asrama itu dikelola oleh RSF sebab dalam laporan itu sebutkan bahwa “Asrama tersebut ialah kepunjaan Daerah Riau, yang mana telah biasa dikundjungi oleh tuan2 Anggota Dewan, anggota District-Commissie seluruh Riau.”

Di dalam foto terlihat penghuni asrama tersebut. Mereka adalah “murid2 O.V.V.O. (peladjar sekolah guru rendah) dan murid2 M.S.” Di tengah-tengah terlihat sebuah papan yang bertuliskan sesuatu. Sayang sekali tulisannya kabur sehingga sulit dibaca.

Pada tahun 1949 – merujuk ke tarikh  laporan itu – tercatat “keluarga [penghuni] asrama tersebut ada 90 orang, terdiri dari 54 peladjar guru, 10 peladjar sekolah menengah dan [sisanya] keluarga-keluarga pengurus2nja.” Nama pengurusnya adalah Tuan Moehamad Saleh (tanda I pada foto) dan Tuan Moehamad Kasim gelar Chatib Sampono (tanda II pada foto). Dikesan dari namanya, Mungkin Moehamad Kasim berasal dari Minangkabau. Beberapa orang Minangkabau terpelajar memang pernah ditempatkan di Tanjungpinang, antara lain Soetan Mohamad Salim (ayah Haji Agus Salim) yang diangkat menjadi hoofddjaksa di sana pada awal 1900 (Bintang Hindia, No. 8. Tahoen jang pertama, 15 April 1903:80) dan Baginda Dahlan Abdoellah asal Pariaman, aktivis Indische Vereeniging di Belanda yang kembali ke Indonesia pada awal 1924, kemudian pada 1950 menjadi Duta RIS di Bagdad dan wafat di sana. Setelah kembali ke Tanah Air, Dahlan ditempatkan sebagai guru di Tanjungpinang, dan pada 1927 ia menjadi hoofdonderwijzer H.I.S. Tanjungpinang (Pandji Poestaka, No. 14, Tahoen V, 18 Februari 1927:225 [Kroniek]).

Dikatakan pula dalam laporan itu bahwa asrama tersebut “djadi pusat masjarakat peladjar dari seluruh kepulauan Riau jang berada di Tandjong Pinang”. Jadi, dapat diperkirakan bahwa pada waktu itu sudah ada rasa persatuan di kalangan pelajar yang berasal dari Kepri. Melihat kemegahan bangunannya, maka “Tandjong Pinang chasnya dan Riau umumnja berasa bangga mendapat Asrama sebagai tersebut”, demikian bunyi laporan itu.

Di dalam paragraf berikutnya disebutkan bahwa asrama tersebut  telah dikunjungi pula oleh “Utusan2 dari Kalimantan Barat.” Tidak ada keterangan mengapa utusan-utusan dari Kalimantan Barat  juga mengunjungi asrama itu? Barangkali saja ada murid-murid dari Kalimantan Barat yang bersekolah di Tanjungpinang dan tinggal di asrama itu.

Demikianlah, sedikit lagi maklumat historis tentang sejarah pendidikan di Kepri diinformasikan dalam artikel ini. Adalah sangat mungkin untuk menulis buku sejarah pendidikan di Kepri yang lebih komprehensif. Hasil terokaan Wan Tarhusin Bsc., Perkembangan sekolah di Negeri Segantang Lada (Tanjungpinang: C.V. Mitra Utama, 2001) perlu dilanjutkan dengan penelitian kepustakaan yang lebih ekstensif, termasuk menggali data-data dari sumber-sumber pertama (bronnen) di Negeri Belanda.

Suryadi – Leiden University, Belanda

Foto: KELUARGA Asrama T. Pinang (peladjar2  OVVO dan Sek. Menengah) dimuka lensa WAKTOE – photo Kemalawati. (Caption ditulis sesuai teks aslinya)

* Artikel ini diterbitkan di harian Batam Pos (lembaran ‘Jembia’), Minggu, 19 Juni 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: