Posted by: niadilova | 11/06/2016

‘Senang Atie’: Restoran Indonesia (Jawa) yang tertua di Belanda (1922)

Sebuah Restoran Indonesia (Jawa) yang tertua di BelandaHubungan kolonial antara Indonesia dengan Belanda selama beratus tahun tidak hanya meninggalkan kenangan buruk, tapi juga hal-hal baik. Salah satu hal yang baik adalah kedekatan selera orang Belanda dengan kuliner Indonesia. Hal itu antara lain terbukti dari banyaknya restoran yang menjual masakan Indonesia di Belanda dan banyaknya kosakata Indonesia yang terkait dengan makanan yang diserap ke dalam bahasa Belanda, seperti krupuk, babi panggang, nasi goreng, dll.

Sekarang, di kota-kota Belanda banyak ditemukan restoran yang menjual makanan Indonesia. Di Leiden, misalnya, ada restoran Surakarta, Selera Anda, dan Sumatra. Di Den Haag, ada restoran Poentjak, Garoeda, dll.  Di Amsterdam ada Blauw, Sampurna, dan Tempo Doeloe – untuk sekedar menyebut contoh.

Keberadaan restoran Indonesia di Belanda bukan fenomena baru. Di sini kami akan menginforasikan kepada pembaca sebuah restoran Indonesia yang menjual masakan Jawa di Den Haag pada tahun 1920an. Nama restoran itu adalah Senang Atie (Ejaan karang: Senang Hati). Informasi ini dadasarkan atas tulisan yang dimut dalam majalah Pandji Poestaka  No. 14, TAHOEN IV, 19 FEBRUARI 1926: 296-297, yang berjudul: “TUAN BOUMAN; Hotel Restaurant Djawa di Den Haag”. Berikut salinan tulisan itu (ejaan disesuaikan).

Kata setengah orang Den Haag itu ialah Hindia di Negeri Belanda. Tuan-tuan ambtenar Hindia yang pulang ke Negeri Belanda dengan pensiun,  atau tuan-tuan kaum partikulir kebanyakan diam di Den Haag; demikian pula ambtenar-ambtenar yang tengah pulang perlof. Pemuda-pemuda Hindia yang menuntut ilmu di Negeri Belanda pun tak sedikit yang ada di Den Haag juga. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang telah bertahun-tahun diam di Hindia, yang telah biasa hidup cara Hindia dan memakai adat istiadat cara Hindia, sesudah pulang ke negerinya tiada kembali memakai cara kehidupan dan adat istiadat cara Belanda, melainkan sebahagian besar tetap sebagai mereka itu masih ada di Hindia. Banyak babu dan jongos dibawanya ke sana. Banyak yang makan nasi dan sayur cara Hindia, dsb. Oleh sebab itu, maka pemandangan di kota Den Haag dalam beberapa hal kelihatan serupa dengan pemandangan di Hindia. Di situ dibuka orang kedai nasi dan kopi seperti di Hindia Pula, biasa dinamai orang “warung(*) Jawa”. Tidak hanya sebuah, tapi hingga beberapa buah, ada yang kepunyaan orang Belanda, ada pula yang milik orang Hindia.
Satu dari warung-warung itu ialah warung kepunyaan “meneer Bouman”. Bouman itu bukan namanya yang sejati. Betapa sejarahnya, baiklah tirukan ketika tuan Bouman sendiri meriwayatkan kepada kami demikian:
“Saya seorang Betawi nama Saiman, dan bini saya nama[nya] Sujirah dari Yogya; ia tinggal di sini (di Negeri Belanda) sudah 11 tahun, saya 7 tahun lamanya. Mula-mula saya datang kemari dengan seorang tuan yang membawa saya dari Jawa. Dengan sekoyong-koyong saya bertemu dengan Sujirah bini saya di Jawa, yang telah lima tahun ikut nyonyanya ke Negeri Belanda. Selama itu saya tak tahu bertemu dengan dia, dan saya berpikir: tak akan bertemu lagi dengan dia. Tetapi oleh takdir Tuhan saya bersua lagi [dengannya]. Sejak itu kami sama-sama bekerja, dan menyimpan uang sedikit-sedikit. Waktu tuan saya pulang ke Jawa, saya tidak mau ikut pulang, sudah senang ada di Negeri Belanda.  Pada tahun 1922 adalah saya menyimpan uang sedikit. Ketika itu saya bertemu dengan tuan Sarpin Sutan Melayu. Kami putuskan mufakat akan mendirikan satu Hotel Restoran makanan Jawa, sebab di Den Haag kebanyakan penduduknya yang makan nasi.
Mula-mula restoran itu mendapat banyak gangguan dari kiri dan dari kanan; hingga kadang-kadang kecil hati saya. Satu kali telah pernah terjadi, hanya tinggal lagi kami bertiga yang mengurusnyal; semua personel lari. Tetapi karena keras hatinya dan pandainya Sarpin, kami terus bekerja juga.  ‘Ayo maju’, kata Sarpin, membikin besar hati saya,  “semua pekerjaan yang baik ada gangguannya. Saya jadi boy, bapak jadi Baas [bos], mak jadi koki.’ Kami bekerja keras-keras. Kata Sarpin [pula]: ‘Barang siapa mau {296} perut kenyang, kantong berisi uang, jangan malu bekerja!’ Saya lalu tertawa, berbesar hati bekerja dengan Sarpin. Tidak berapa lama kemudian personel saya datang kembali, dan kami terus bekerja.
Tapi pada bulan Maret 1924 Sarpin St. Melayu minta bercerai dengan saya, sebab katanya pelajarannya di Instituut buat handel (perniagaan) kurang maju. Tetapi karena ia berjanji akan datang-datang juga mengunjungi kami, senanglah hati saya; saya kasih ia pergi, serta saya bilang: ‘Het ga je goed hoor jongetje, en Studeer hard! (**) Begitulah sampai sekarang restoran ini berjalan baik.

Sebuah Restoran Indonesia (Jawa) yang tertua di Belanda1

Adapun nama Bouman asalnya begini: Anak jagaan saya dulu namanya Bouman, jadi orang selalu panggil saya Pak Bouman. Student-student tidak mau panggil nama saya yang asli, melainkan Pak Bouman-Pak Bouman saja, hingga lama-lama umum orang sebut saya punya nama meneer Bouman, dan bini saya mak Sujirah.
Sekianlah riwayat tuan Bouman itu. Karena baik dan bersih pekerjaannya, restoran itu banyak benar langganannya. Restoran itu sama sekali diatur seperti perusahaan Eropa yang besar-besar, memakai klerk, boekhouder dan kepala koki dsb., sekaliannya orang Hindia. Di situ dijual nasi sayur, gado-gado, pecel, sayur lodeh, tumis, sambal goreng, sate, ketupat, lontong, dll.
Ada pula disewakan seperangkat gamelan dengan niyogonya (pemalunya) guna pesta cara Jawa.
Begitulah berkat hemat [dan] keras hati, mau bekerja, orang Hindia di Negeri Belanda dapat berusaha denhan baik buahnya.
(*) Sekadar namanya saja “warung”, tetapi [w]ujudnya seperti “restoran” Eropa di sini.
(**) Selamtlah, dan belajar keras-keras.

Demikianlah cerita tentang “Hotel-Restaurant ‘Senang Atie’” milik Saiman alias Tuan Bouman yang berdiri di Den Haag tahun 1922. Tampaknya restoran ini tidak ada lagi sekarang. Namun, ada sebuah restoran Indonesia di Maastricht yang bernama Senang Hati. Akan tetapi tidak pasti apakah pemiliknya keturunan dari tuan Saiman/Bouman atau orang lain.

Namun, pada akhir 2015, sebuah restoran yang disebut-sebut sebagai restoran Indonesia tertua di Belanda, Tempat Senang, terpaksa ditutup karena bangkrut. (Restoran ini masih sempat bertahan sampai akhir 2014; lihat: http://www.serbalanda.com/2014/10/rumah-makan-indonesia-tertua-di-belanda.html; diakses 11-06-2016). Restoran itu berdiri tahun 1922 (lihat: http://www.omroepwest.nl/nieuws/2793970/Belastingdienst-haalt-spullen-Tampat-Senang-in-Den-Haag-weg-sluiting-fameus-Indonesisch-restaurant-dreigt; diakses 11-06-2016). Apakah restoran Senang Atie adalah Tempat Senang? Hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Kuat dugaan saya Senang Atie adalah Tempat Senang. Terkait dengan dugaan ini, ada dua kemungkinan: 1) barangkali Redaksi Pandji Poestaka di Batavia tidak tepat menyebut nama restoran ini: Tempat Senang ditulisnya Senang Atie; 2) mungkin nama restoran itu belakangan diubah oleh pemiliknya: Senang Atie diubah namanya menjadi Tempat Senang atau sebaliknya.

Sedikit informasi tambahan mengenai Sarpin St. Melayu (dalam dokumen-dokumen lama namanya ditulis: Sarpin St. Melajoe) yang disebut dalam salinan teks di atas: ia adalah salah seorang mahasiswa Indonesia yang belajar ekonomi perdangangan di Rotterdam, sama dengan sekolahnya Bung Hatta. Sarpin juga aktif dalam organisasi pelajar Indonesia di Belanda, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang kemudian, sejak akhir 1922, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Sarpin antara lain aktif sebagai anggota Redaksi majalah Hindia Poetra yang ditebitkan oleh Perhimpunan Hindia. Kisah Sarpin menunjukkan aspek lain dari kehidupan mahasiswa Indonesia di Belanda pada awal abad 20. Jika Hatta, Baginda Dahlan Abdullah, Sjahrir, dll. agak terganggu sekolahnya karena aktif dalam organisasi Perhimpunan Hindia atau Perhimpunan Indonesia, Sarpin berjuang di rantau yang jauh itu melanjutkan sekolah dengan mendirikan usaha restoran yang berpatungan dengan orang lain, selain juga aktif dalam organisasi mahasiswa,  (Perhimpunan Hindia).

Sekarang mahasiswa Indonesia di Belanda kebanyakan lebih senang hidupnya: tinggal belajar, banyak juga yang membawa keluarga, dan di musim panas jalan-jalan keliling Eropa (Tentang pelesiran keliling Eropa ini, mahasiswa Indonesia di zaman kolonial juga melakukannya). Ada juga satu-dua orang mahasiswa sekarang yang bekerja, tapi kebanyakan hidup senang dengan beasiswa yang disediakan oleh negara. Belajar yang rajin yo, demi masa depan bangsa dan negara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: