Posted by: niadilova | 24/05/2016

Merayu Sukma (1914-1951) – Pengarang Prolifik ‘Roman Sumatera’

Merayu Sukma (1914-1951)Merayu Sukma (ejaan lama: Meraju Sukma) adalah salah seorang pengarang ‘roman Sumatera’ yang terkemuka, sebuah  korpus sastra pop yang pernah meramaikan jagad sastra Indonesia pada tahun 1930an sampai 1960an. Istilah ‘roman Sumatera’ sering dijumpai dalam penamaan umum sezaman terhadap korpus ini. Sementara kalangan akademik lebih mengenalnya dengan istilah ‘roman picisan’ (ejaan lama: roman pitjisan), yang terkesan agak meremehkan, kalaulah tidak merendahkan (lihat misalnya: Siti Faizah Rivai, ‘Roman Pitjisan Indonesia sebelum Perang’, Skripsi UI, 1963). Tampaknya istilah ini menjadi populer setelah A. Teeuw menerjemahkan artikel R. Roolvink, “De Indonesiase ‘dubbeltjes-roman’”, dalam A.A. Cense et al. (eds.), Bingkisan Budi, sebuah festchrift untuk merayakan 80 tahun usia Prof. Ph.S. van Ronkel, 1 Agustus 1950 (Leiden & Brussels: A.W. Sijthoff’s Uitgeversmaatschappij N.V., 1950: 255-64) ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Roman Pitjisan Bahasa Indonesia” dalam bukunya, Pokok dan Tokoh dalam Kesusatraan Indonesia Baru, Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1952: 239-251.

Korpus besar

‘Roman Sumatera’ meliputi beberapa seri yang terbit di beberapa kota Sumatera, seperti seri “Doenia Pengalaman” (Medan, 1930an – 1950an; yang kemudian dialihkan ke Malang), “Loekisan Poedjangga” (Medan, 1930an-1940an), “Soeasana Baroe” (Medan, 1940an), “Panorama” (Medan, 1950an), “Poestaka Nasional” (Medan, 1950an), “Menara” (Medan, 1960an), “Roman Pergaoelan” (Bukittinggi, 1930an-1940an; lihat Sudarmoko, Roman Pergaoelan, Yogyakarta: INSISTPress, 2008), dan  “Roman Indonesia” (Padang, 1930an-1940an). Terdapat pula beberapa seri lain dengan berusia lebih pendek, seperti “Gubahan Maja”, “Moestika Alhambra”, “Djiwa Baroe”, dan “Perdjoeangan Hidoep”. Selain itu, ada pula jilid-jilid yang berdiri sendiri yang, selain terbit di kota-kota yang telah disebutkan di atas, juga terbit di Sigli, Langsa, dan Tebing Tinggi. Di antara kota-kota itu, Medan paling menonjol karena di ‘capital of pulp fiction’ inilah – meminjam istilah Marije Plomp (dalam Heirs to World Culture: being Indonesian 1950-1965, 2012: 371-95) – roman ini paling banyak diterbitkan. Oleh sebab itulah acap kali pula orang menyebut korpus ini dengan istilah ‘roman Medan’.

‘Roman Sumatera’ umumnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit pribumi. Terbit rata-rata sekali dua minggu, roman-roman dalam korpus ini berbentuk buku saku dengan ketebalan rata-rata 70-120 halaman. Cetakan pertama sering mencapai 1000 eksemplar, dan karena populer, banyak di antaranya yang mengalami cetak ulang lebih banyak lagi. ‘Roman Sumatera’ tidak hanya beredar di wilayah Hindia Belanda saja, tapi juga sampai ke Semenanjung Malaya (kini Malaysia dan Singapura) dan Brunei.

Genre  ini juga terbit di beberapa kota di Jawa, seperti di Jakarta, Solo, dan Malang, tapi kurang populer dibanding taranya (counterpart-nya) yang terbit di Sumatera, karena kalah pamor oleh karya-karya sastra terbitan Balai Poestaka (Commissie voor de Volkslectuur) yang lebih intensif diedarkan di Jawa. Memang dari segi estetika, ‘roman Sumatera’ mengandung hakikat resistensi terhadap karya-karya sastra terbitan Balai Poestaka yang dianggap memenuhi standar moral dan bernila sastra tinggi. Dengan kata lain, ‘roman Sumatera’ mengandung hakikat perlawanan terhadap center of authority Batavia.

Dari segi gaya bahasa ‘roman Sumatera’ berbeda dengan sastra Cina peranakan, namun dari segi isi dan moral cerita ada persinggungan dengan ‘bacaan liar’ yang muncul pada masa yang lebih awal (mengenai ini lihat: Hilmar Farid dan Razif, “Batjaan liar in the Dutch East Indies: a colonial antipoda”, Postcolonial Studies 11(3), 2008: 277-92). Sebagaimana halnya bacaan liar, roman Sumatera mengandung semangat kebangsaan yang dikemas dalam kisah-kisah percintaan muda-mudi, namun memiliki nuansa literer yang berbeda dengan genre sastra pop sekarang. Hal ini dikarenakan para pengarang ‘roman Sumatera’ pada umumnya adalah orang-orang muda yang aktif di dunia pergerakan atau setidaknya memiliki semangat anti penjajahan. Kebanyakan dari mereka berlatar etnis Minangkabau, tapi ada juga yang berasal dari etnis/daerah lain, seperti pengarang yang kita bicarakan ini. Mereka menjalin aliansi kesastraan di luar jalur Balai Poestaka. Jadi, ‘roman Sumatera’ dapat dianggap sebagai arketip gerakan sastra pedalaman yang di zaman kemerdekaan mencoba melawan dominasi Jakarta.

Pengarang prolifik

Merayu Sukma, yang namanya hampir terlupakan dalam penelitian tentang (sejarah) sastra Indonesia, adalah nama pena dari M. Sulaiman Hassan. Ia adalah salah seorang penulis ‘roman Sumatera’ yang sangat prolifik. Sedikit sumber di internet menyebut dia sebagai pengarang naskah drama di Zaman Jepang. Posisi dia sebagai pengarang justru lebih tampak dalam korpus ‘roman Sumatera’ di mana ia sudah banyak menghasilkan karya-karya dalam korpus ini.

Sulaiman Hassan lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada tahun 1914. Ketika masih kanak-kanak, ia telah dibawa hijrah oleh orang tuanya ke Banjarmasin. Pendidikannya hanya sampai sekolah rakyat, dan selepas itu ia belajar secara otodidak. Di masa remaja, ia pernah ia membina perpustakaan sendiri sambil belajar karang-mengarang.

Pada 1930-an M. Sulaiman Hassan sudah muncul dalam dunia kepengarangan Indonesia dengan cerita-cerita pendeknya, dengan memakai nama pena ‘Meraju Sukma’. Waktu itu ia sudah merantau ke Malang, Jawa Timur. (Sebelumnya, selama beberapa waktu tampaknya ia juga pernah merantau ke Medan). Namun masa produktifnya datang di tahun 1940an, ditandai dengan banyak publikasinya dalam beberapa seri ‘roman Sumatera’ yang telah disebutkan di atas. Di antara karya-karyanya yang berhasil diidentifikasi adalah: Teratai Terkoelai (1940), Djiwa jang Disiksa Dosa (1941), Menoeroetkan Djedjak di Padang Pasir (1948), Martil Membangoen (1949?) dari seri “Doenia Pengalaman”; Joerni-Joesri (1940) dan Djiwa Berdosa (1941) dari seri “Roman Pergaoelan”; Berlindoeng dibalik Tabir (1940), Menanti Kekasih dari Mekkah (1940), Dilereng Hajat (1949), Djurang Meminta Korban (1949), Mariati: Wanita Adjaib (1949),  dari seri “Loekisan Poedjanga”; dan Putera Mahkota jang Terbuang  (1963) dari seri “Menara”.

Penelusuran kepustakaan yang penulis lakukan menemukan beberapa judul lain buah pena Merayu Sukma, tapi tidak teridentifikasi serinya, seperti Gema Revolusi (Medan: Poestaka Madjoe, 1949); Pahlawan Pedih (Malang: Oesaha Merdeka, 1946); Kawin Tjita-tjita (Medan: Sinar Harapan, 1965); dan Sinar Pemboeka Rahasia (Medan: Tjerdas, 1965).

Belum seluruh karya Merayu Sukma berhasil diidentifikasi. Salah satu kesulitan meneliti sejarah ‘roman Sumatera’ adalah karena tidak seluruh eksemplar yang pernah terbit masih tersisa di perpustakaan-perpustakaan di dunia sekarang. Oleh karena itu peneliti harus melacak judul-judul yang pernah terbit melalui iklan-iklan tentangnya dalam berbagai buku, majalah dan surat kabar yang terbit sezaman. Ini jelas memerlukan ketekunan dan waktu yang panjang. Sebuah sumber menyebutkan, Merayu Sukma juga menulis Sinar Memetjah Rahasia, Kunang2 Kuning, dan di Zaman Jepang: Dalam Gelombang Darah, Gema dari Menara, Djiwa Merdeka, dan Njajian dipenghadapan (lihat: “Kenangan terachir dengan Meraju Sukma”, Penuntun No.4/5 Th. Ke-V, April/Mei 1951:56).

Pribadi teguh dan idealis

Merayu Sukma adalah pribadi yang teguh, idealis dan taat beragama. Ia seorang swasta yang bebas dan tidak mau menjadi pegawai pemerintah. Selain menulis cerita pendek dan roman, ia juga menulis sajak. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi dan menjadi koresponden beberapa majalah. Di masa hidupnya, Merayu Sukma memiliki dua orang istri dan beberapa orang anak. Ketika terjadi Agresi Belanda I (Juli 1947), ia dan istri pertamanya mengungsi ke Yogyakarta, dan di sana ia dan keluarganya hidup susah. Untunglah istri pertamanya bekerja pada Kementerian Agama. Menjelang Agresi Belanda ke-2, ia kembali ke rumah istri keduanya di Malang (Penuntun, ibid.:55).

Pada bulan Desember 1950, Merayu Sukma mengunjungi Yogyakarta lagi untuk menghadiri Muktamar Muhammadiyah yang diadakan di kota itu. Ia datang selaku wakil Muhammadiyah cabang Malang. Waktu itu ia sudah kelihatan kurus dan sakit. Akan tetapi gelora jiwa kesastraannya masih kuat sebagaimana terefleksi dalam esainya yang terakhir, “Pekerdjaan untuk Kebudajaan”, yang dimuat dalam majalah Penuntun No. 2-3, Th. ke-V, Febr./Maret 1951:37-41).

Sulaiman Hassan, yang lebih terkenal dengan nama Merayu Sukma (nama penanya), pengarang yang pernah memenangi beberapa sayembara mengarang di masa produktifnya, wafat pada tanggal 11 Maret 1951 (jam 19:30) di rumah istri keduanya di Singosari, Malang (Penuntun No. 2-3, Th. ke-V, Febr./Maret 1951:55; Foto direproduksi dari sumber ini). Sampai akhir hayatnya ia hidup dalam kemiskinan. Namun, dalam usianya yang relatif pendek (37 tahun), ia meninggalkan ‘kekayaan’ yang tidak mungkin dapat dinilai dengan uang: buah penanya yang berserakan dalam berbagai surat kabar, majalah dan banyak buku ‘roman Sumatera’, yang telah memberi warna dalam perjalanan sejarah kesastraan Indonesia modern.

Dr. Suryadi, dosen dan peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Belanda

* Esai ini diterbitkan di harian Bali Post (rubrik ‘Jendela’) edisi Minggu, 24 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: