Posted by: niadilova | 16/05/2016

Kilas Balik: Pemberontakan [PKI] Madiun [1948]

Oleh: Muhammad Dimyati

(dalam sejarah perjuangan Indonesia)

Jenazah MUSOSejak Muso datang (11 Agustus ’48 Red.) hingga sampai saat ketika ia mengadakan koreksi dan lalu semua partai-partai yang bergabung dalam FDR melebur dalam PKI, Amir Sjarifuddin terus “mengurung” Muso dalam lingkungannya sendiri hingga orang-orang di luar FDR yang ingin menemui atau berunding dengan Muso tidak dapat menemui dia secara bebas. Muso terus dikawal oleh anak-anak Pesindo. Segala keterangan-keterangan yang diminta Muso untuk mengetahui perkembangan politik di daerah Republik hanya diberikan oleh gerombolan Amir. Kaum Komunis kiri (golongan Tan Malaka) seperti Rustam Effendy, Syamsu Harya Udaya dan lain-lainnya musuh FDR tidak dapat mengadakan kontak dengan Muso. Ini pun memang tidak perlu, karena kemudian Muso mengeluarkan keterangan bahwa golongan Tan Malaka itu benar-benar pengikut Trotsky dan kontra-revolusioner, jadi tidak perlu diajak berunding dan bekerja sama.

Dalam Majalah Bintang Merah (organ PKI) bulan September 1948 ada dimuat rencana resolusi Politbiro PKI, di antaranya lain-lain dikatakannya: “PKI yang dibangun oleh Sdr. Muso secara ilegal dalam tahun 1935 itu dilanjutkan perjuangannya pada waktu penjajahan Jepang1 sampai ke Zaman Republik dan hingga sampai waktu ini masih memimpin gerakan anti imperialis.

PKI illegal hingga sekarang dijadikan sasaran oleh kaum Trotskyst yang langsung atau tidak langsung tergabung dalam PARI2 dengan maksud untuk mengacaukan gerakan Rakyat dengan mengatakan bahwa PKI itu adalah PKI yang dikuda-kudai oleh Belanda atau “PKI Van der Plas”. Tuduhan itu lebih-lebih lagi menunjukkan kecurangan golongan Trotsky untuk membusukkan PKI illegal yang benar-benar dibangun oleh Muso dengan kawan-kawannya, di antaranya ialah Saudara Pamudji (almarhum), Ahmad Sumadi Razak, Marsaid, dll. Kemudian diteruskan oleh Sdr. Amir Sjarifuddin, Wikana, Sardjono, Sudisman, Djoko Sujono, [dan] D.N. Aidit.

Jadi, dengan pengumuman itu golongan PKI (FDR) tetap tercampakkan kaum Komunis pengikut Tan Malaka dan tak mungkin diajak bersama-sama menggalang Front Nasional.3

Pada tanggal 7 September 1948 pemimpin-pemimpin PKI Muso – dikatakan demikian karena sejak 23 Agustus partai-partai yang menggabung dalam FDR, seperti Partai Sosialis, Partai Buruh Indonesia, Sobsi, dll. telah terfusi dalam PKI dan dipimpin oleh Muso hingga PKI sejak waktu itu tidak lagi disebut PKI/Alimin, tapi PKI Muso (sekalipun Alimin masih tetap menjadi pemuka PKI, tapi kedudukannya di bawah Muso) – mengadakan perjalanan keliling di Jawa Timur untuk menggelorakan semangat rakyat supaya berdiri di belakang PKI yang sedang menggalang Front Nasional. Rombongan itu berangkat dari Yogya[karta] dengan beberapa pemimpin Komunis seperti Amir Sjarifuddin, Wikana, Harjono, dll. Tanggal 8 mere-{15}ka mengadakan rapat raksasa di Madiun, lalu meneruskan ke Kediri, Jombang, Bojonegoro, Ceput dan Purwodadi hingga tanggal 17 September.

Sementara rombongan-rombongan pemimpin-pemimpin PKI mengadakan perjalanan keliling itu, di kota Surakarta telah terjadi huru-hara. Pada tanggal 13 September, sehari sesudah selesai Pekan Olah Raga (PON), terjadi tembak-menembak antara kesatuan-kesatuan yang menjadi pengikut PKI Muso dengan kesatuan Siliwangi di muka asrama Srambatan, [di] muka stasiun Balapan. Pasukan yang menyerbu ke sana minta dikembalikannya kawan-kawan [mereka] yang diculik oleh orang-orang yang dikatakan bernama Alip.4 Karena pasukan Siliwangi mengatakan tak tahu-menahu tentang penculikan itu, dan karena pihak penyerang mengatakan benar-benar kawannya diculik oleh [pasukan] Siliwangi, maka terjadilah tembak-menembak hingga beberapa pemuda di kedua pihak gugur.

Kota Solo menjadi geger. Pada hari itu juga Dr. Muwardi, ketua Barisan Banteng dan Gerakan Revolusi Rakyat, diculik orang waktu beliau sedang melakukan dinesnya di Rumah Sakit Pusat.5

Selanjutnya, kekacauan di Solo meningkat menjadi “perang” antara kesatuan-kesatuan Siliwangi dengan kesatuan-kesatuan yang menjadi pengikut Amir-Muso. Kemudian ternyata bahwa keonaran itu mempunyai background politik, bahwa kaum Komunis PKI Muso yang akan mengadakan coup di Madiun lebih dahulu memilih kota Solo sebagai daerah kekacauan untuk memutuskan hubungan antara Yogya dan Madiun.

Kesatuan-kesatuan merah mundur ke luar kota, dan di pinggir kota terjadi tembak-menembak. Siliwangi memegang komando pertahanan dalam kota dan karena disiplin dan organisasi mereka lebih baik, dapatlah mereka menggagalkan rencana kesatuan-kesatuan merah yang akan menduduki kota Solo.

Hingga tanggal 17 September kekacauan di Solo itu baru dapat diatasi. Tetapi tiba-tiba pada esok harinya, tanggal 18 September, terbetik berita bahwa kaum Komunis di Madiun telah melakukan staatsgreep.

Berita tentang coup di Madiun itu mula-mula disiarkan oleh harian Murba di Solo. Malah jauh-jauh di muka, harian ini telah mensinyalir bahwa kaum PKI akan segera mengadakan pemberontakan. Tetapi karena pihak resmi tinggal diam saja, rakyat masih agu-ragu menerima kebenaran berita itu. Barulah kebimbangan rakyat dilenyapkan ketika ada pengumuman resmi dari pemerintah:

Bahwa di kota Madiun oleh dan di bawah pimpinan PKI (bekas FDR) dengan memakai tenaga salah satu kesatuan Brigade TNI Jawa Timur telah melakukan penyerangan atas alat-alat kekuasaan Negara dan penggantian Pemerintahan daerah secara tidak syah dengan kekuasaan senjata.

Kemudian menyusul berita Antara [yang] juga menguraikan terjadinya coup itu sebagai berikut:

Coup itu dilakukan mulai pukul 3 tengah malam hingga pagi hari pukul 7. Tentara pemberontak yang disiapkan lebih dulu melakukan penyerbuan dan pendudukan atas gedung-gedung Pemerintah, tangsi-tangsi kepolisian, gudang-gudang dan perlengkapan penting. Tembak-menembak terjadi di kantor kepolisian, tetapi akhirnya berhasil juga coup itu. Yang menandatangani di antaranya ialah Letnan Kolonel Sumantri, Wakil Residen Isdarto, Walikota Purbo, Ketua Sobsi Madiun Hasanuddin, Ketua Seksi PKI Istam, Ketua PBI Sukiran, Ketua Partai Sosialis Madiun Surodarmodjo, Ketua Komisariat Daerah Pesindo dan Sarekat Rakyat Singomentolo, Residen Samadikun pada waktu itu sedang pergi ke Yogyakarta. Oleh kaum pemberontak dikatakan bahwa pemerintah baru yang akan dimulai diselenggarakannya ialah pemerintahan Front Nasional. Bendera Merah Putih diturunkan dan diganti dengan bendera Merah bergambar Palu Arit.

Sekian berita itu.

Seperti yang dikatakan di atas tadi, bahwa tanggal 17 September rombongan Amir-Muso masih berada di Puwodadi. Coup di Madiun dilakukan pada pagi hari tanggal 18 [September 1948]. Seorang wartawan Antara yang mengikuti perjalanan Amir-Muso sejak berangkat dari Yogya, Madiun, Kediri, Jombang, Cepu, Bojonegoro dan … Purwodadi, menceritakan pengalamannya dalam perjalanan sbb:

Tanggal 17 [Spetember 1948] malam hari menginap di Purwodadi. Mulai di kota ini saya lihat pemandangan yang tidak pernah saya alami dalam perjalanan: di dalam rapat umum yang dikunjungi oleh 40.000 orang kelihatan banyak orang membawa bendera merah dan panji-panji Palu Arit, dan waktu kami dalam perjalanan pulang akan meninggalkan tempat itu, rombongan Muso dikawal oleh sebuah truk yang dipersenjatai dengan lengkap. Sesudah lewat Ngawi maka tampak suasana dalam keadaan bersiap. Orang-orang kelihatan memegang bambu runcing atau senjata tajam. Kami tiba di Rejoagung (Madiun) pada jam 24:00 malam tanggal 18, menginap di rumah Sumarsono. Di rumah ini saya melihat Djokosujono, Wikana, Setiadjid, Muso, Amir [Sjarifuddin] dan lain-lain orang yang tidak saya kenal berbicara di suatu kamar. Orang-orang di dalam rumah itu yang kebanyakan bersenjata pistol kelihatan sibuk sekali. Jam 8 pagi keesokan harinya saya tinggalkan rumah Sumarsono tersebut dan lalu pergi ke kantor Antara. Barulah saya tahu bahwa semalam sudah terjadi perebutan kekuasaan di Madiun.

Sekian keterangan wartawan Antara itu, dan keterangan itu disiarkan dalam surat kabar.

Jadi coup itu sudah disiapkan lebih dahulu. Amir-Muso selama dalam perjalanan keliling itu tetap mengadakan kontak dengan Madiun. Sebelum coup di Madiun, kota Purwodadi (tgl. 17 September 1948) telah dikuasai oleh pasukan merah. Jadi, seperti kekacauan di Solo sebelum coup di Madiun itu. Kembalinya Amir-Muso ke Madiun tepat waktunya dan segalanya berjalan running well.

Pada tanggal 20 September, Presiden Sukarno berpidato di corong radio, memberitahukan tentang peristiwa Madiun itu, di antara lain-lain dikatakannya:

Kemarin pagi PKI Muso mengadakan coup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun dan mendirikan {17} di sana suatu pemerintahan Soviet di bawah pimpinan Muso. Perampasan kekuasaan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh kekuasaan Republik. Ternyata peristiwa Solo dan Madiun itu tidak berdiri sendiri, melainkan adalah suatu rantai tindakan untuk merobohkan Pemerintah Republik………..
Saya berseru kepadamu [rakyat Indonesia]: pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami percobaan sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri, bagimu adalah pilihan di antara dua: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka, atau ikut Sukarno-Hatta yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin negara Republik Indonesia kita ke arah Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apapun juga.
Saya percaya bahwa rakyat Indonesia, yang sudah sekian lama berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, tidak akan ragu-ragu dalam menentukan sikapnya akan berdiri di belakang pemerintah yang syah.
Bantulah alat-alat Pemerintah dengan sekuat tenaga untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang syah di daerah yang bersangkutan.
Dari pihak FDR sejak beberapa waktu yang akhir ini berlaku tindakan jiwa yang sistematis kepada buruh, tani dan pemuda, pegawai dan rakyat, yang dilakukan dengan intimidasi dan ancaman. Jika betul-betul mau membela kebenaran, janganlah takut kepada gertakan dan ancaman, berjuanglah dan bergeraklah bersama-sama dengan pemerintah untuk kemerdekaan diri saudara dari rasa takut, dan untuk mencapai demokrasi yang sebenarnya.

Selanjutnya, Presiden mencatat rencana illegal FDR untuk menimbulkan kekacauan dengan mengorganisir organisasi-organisasi penjahat untuk melakukan penggedoran, penculikan, dll.

Pidato Presiden itu besar pengaruhnya kepada rakyat. Keragu-raguan dapat dilenyapkan dan lalu serempak kaum Republiken yang belum terikat dalam organisasi FDR dan PKI  sama berdiri di belakang Pemerintah.6

Pada malam itu juga mulai dilakukan penangkapan serempak di berbagai daerah, termasuk juga di Ibukota Yogyakarta sendiri. Para pemimpin FDR-PKI Muso di berbagai daerah sama ditangkapi. Beberapa kesatuan yang sejak semula menjadi pengikut Amir dilucuti, dan sebagiannya ada yang menyatakan berpihak kepada Pemerintah, sehingga kemudian dapat dibatasi pemberontakan Madiun itu tidak menjalar ke semua daerah Republik, hanya beberapa daerah yang sudah lama berada di bawah pengaruh FDR, seperti Cepu, Ngawi, Purwodadi, Blora dan kota-kota kecil lainnya memihak Madiun dan melakukan perebutan kekuasaan daerah.

Pada hari itu juga Badan Pekerja KNIP mengadakan sidang darurat untuk mengeluarkan undang-undang pemberian kekuasaan penuh kepada Presiden karena Negara berada dalam bahaya; undang-undang itu terdiri dari 3 pasal dan bunyinya:

Selama 3 bulan, terhitung mula tanggal 15 September 1948, kepada Presiden diberikan kekuasaan penuh untuk menjalankan tindakan dan pengadakan peraturan-peraturan dengan menyimpang dari undang-undang dan peraturan yang telah ada, guna menjamin keselamtan negara dalam  menghadapi bahaya yang memuncak.

Undang-undang itu diterima dengan 25 lawan 1 suara. Sebelum undang-undang itu dimajukan Wakil Presiden Muhammad Hatta telah berpidari di muka sidang Dewan Pekerja KNIP {18} yang antara lain dikatakan:

Sekarang PKI Muso telah mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun dan bermaksud merobohkan Pemerintah. Kita sekarang menghadapi bahaya yang sangat besar, yang mengancam keselamatan negara kita. Hanya pihak Belanda memperoleh keuntungan besar dari aksi Muso. Sebab, apabila Muso berhasil merebut kekuasaan dengan merobohkan kekuasaan Republik, maka Belanda barangkali dengan bantuan Amerika Serikat akan menyerbut ke Republik kita dan menguasainya.
Muso dulu satu kali menyebabkan bangkrutnya pergerakan rakyat, yaitu tatkala ia menggerakkan pemberontakan tahun 1926 dengan persiapan-persiapan dan persediaan dan syarat-syarat yang cukup, [tapi] a gagal sama sekali, mengakibatkan beratus-ratus pemuka rakyat dibuang ke Boven Digul.
Jangan sampai kedua kalinya Muso menyebabkan bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka. Kita harus memberantasnya.

Untuk operasi ke Madiun telah diangkat Gubernur Militer baru buat daerah Jawa Tengah, yaitu Kolonel Gatot Subroto, berkedudukan di kota Surakarta, karena Gubernur Militer yang lama, Wikana, ikut berontak dan lari ke selatan bersama pasukan merah. Komando untuk operasi ke Madiun dilakukan dari Surakarta sebagai pusat kedudukan Gubernur Militer Jawa Tengah.

Tanggal 22 September Angkatan Perang Republik mulai digerakkan untuk menyerang Madiun. Panglima Besar Sudirman mengatakan bahwa Madiun harus ditundukkan dulu, karena ia merupakan motor atau modal pokok dalam pemberontakan itu. Bila Madiun sudah jatuh, baru daerah-daerah lainnya yang ikut memberontak ditundukkan pula. Menurut rencana, paling lambat dalam waktu setengah bulan hendaklah Madiun sudah dikuasai Republik kembali.

Berduyun-duyun pemuda menyatakan mau bersedian ikut menjadi pasukan Sukarela, terutama pemuda-pemuda pelajar. Pemerintah dan angkatan Perang mendapat bantuan dari berbagai pihak hingga usaha menggerakkan tentara guna menyerbu ke Madiun itu dapat berjalan lancar.

Sementara itu radio pemberontak di Madiun terus-menerus berpropaganda, memaki-maki Pemerintah Sukarno-Hatta dan mengajak segenap kaum FDR dan PKI di seluruh pedalaman serentak membela Madiun dan melakukan perebutan kekuasaan di daerah masing-masing. Hari-hari pertama radio Madiun itu sangat agresif dalam berpropaganda. Akan tetapi hari-hari beri{19}kutnya ketika ternyata tidak mendapat simpati dari berbagai daerah dan rakyat beridri di belakang Pemerintah, terutama pelajar-pelajar di Madiun menunjukkan keberaniannya menantang perebutan kekuasaan itu, mulailah radio Madiun memperdengarkan suara lunak, malah kemudian dikatakan bahwa aksi di Madiun itu bukan berontak, tapi hanya koreksi saja, masih menghormati bendera Merah Putih dan menjunjung tinggi Undang-undang Dasar Republik.

Tetapi pembelaannya itu tidak menolong, karena ucapan berlainan dengan perbuatan. Perbuatan mereka tanggal 18 September dan hari-hari berikutnya adalah suatu perbuatan pelanggaran terhadap Negara Hukum, malah satu perbuatan teror karena banyak polisi, Pamong Projo dan orang-orang yang menjadi lawan politik FDR-PKI Muso sama dibunuh.

Gerakan Angkatan perang Republik yang bertugas “mengoreksi” Madiun dipancarkan dari beberapa jurusan. Dari Surakarta Mayor Achmad Wiranatakusuma dari divisi Siliwangi bergerak mendaki lereng Gunung Lawu melalui Tawangmangu, Sarangan dan Maospati. Sebagian dari pasukan Siliwangi yang dikepalai oleh Mayor Sentot Iskandar Dinata bergerak melalui jalan raya Solo-Madiun, melewati Sragen dan lalu menggempur pertahanan merah di Ngawi, dibantu oleh pasukan-pasukan dari Batalyon Sukawati, pasukan-pasukan Banteng, Hizbullah, Corps Mahasiswa Akademi Militer. Sedang TNI yang dari Kediri yang dikerahkan menuju ke Madiun dari jurusan timur dipimpin oleh Kolonel Surachman, bergerak menuju ke Nganjuk dan lalu menjepit Madiun.

Tanggal 30 September jam 16:15 anak buah Kolonel Sadikin dari Divisi Siliwangi telah masuk kota Madiun.  Tentara yang menyerbu Madiun itu dipimpin oleh Kapten Sjafei dari Batalyon Kian Santang dan dibantu oleh Batalyon Sukawati serta kadet-kadet Akademi Militer.

Dalam tempo seminggu saja (dari 24-30 September) gerakan Angkatan Perang ke Madiun itu selesailah. Perlawanan yang terhebat ialah di sepanjang jalan raya antara Ngawi dan Madiun, karena di sanalah ditempatkan pasukan Merah yang bersenjata lengkap, hingga pasukan-pasukan penyerang lambat sampainya di kota Madiun. Mayor Achmad Wiranatakusuma lebih cepat sampainya ke sana karena melalui Gunung Lawu. Orang-orang [Komunis] yang bertahan di Madiun tidak menyangka bahwa mereka akan dibokong dari lambung kiri. Daerah Maospati, Magetan dan lainnya di sebelah barat taklah dipertahankan kuat-kuat, karena sangkanya TNI pasti hanya akan melalui jalan raya Solo-Madiun hingga mereka memperkuat pertahanannya di Ngawi saja.

[Begitu] Madiun runtuh, kaum pemberontak menjadi kalang kabut dan dengan tidak teratur dan dalam suasana kacau balau mereka mengundurkan diri ke selatan, yaitu ke Dungus dan Kandangan. Kolonel Djokosujono yang menjadi “panglima besar” angkatan perang merah itu hendak memusatkan pertahanannya di selatan Madiun. Sebelum mereka mundur, lebih dahulu dihancurkannya kantor pos dan telepon. Mereka menghamburkan URI [Uang Republik Indonesia] cetakan baru yang di tempat lain belum diedarkan.

Penduduk kota Madiun bernafas lega ketika pasukan  merah sudah pergi. Di dalam dua minggu selama kota Madiun diduduki pasukan merah, penduduk kota itu terus ketakutan seperti tikus diintai kucing, karena di antara pasukan Merah [ada yang] tidak dapat dikendalikan {20}sama melakukan teror, penangkapan, penculikan, pembunuhan dan perampasan harta benda berlaku siang dan malam, sehingga penduduk kota seperti kehabisan udara untuk bernafas. Masuknya korps Mahasiswa Akademi Militer dan pasukan Siliwangi ke kota Madiun disambut dengan tempik sorak oleh penduduk kota, terutama pemuda-pemuda pelajar yang selama pendudukan merah melakuka aksi ilegal memperjuangkan Republik Indonesia. Di antara pemuda pelajar Madiun yang menjadi korban ialah SUTOPO, pemegang juara lari 10.000 meter dari Pekan Olah Raga di Surakarta. Setibanya pemuda itu di Madiun lalu ikut aktif melawan pasukan merah, akhirnya [ia] ditangkap dan dibunuh di Dungus pada tanggal 14 Oktober [1948]. Gugurnya “Jose Owen Indonesia” itu sangat menyedihkan kawan-kawannya pemuda pelajar Madiun hingga mereka itu lalu berjuang melawan pasukan merah.

Nasib Muso

Seperti yang sudah kita sebut tadi, tanggal 30 September Madiun jatuh ke tangan Republik. Kaum pemberontak lagi ke Dungus. Pertempuran di sana tidak lama. Segera kaum pemberontak dihalau dari Dungus, [mereka] lari ke selatan lagi. Jatuhnya Dungus memperlihatkan kekejaman-kekejaman kaum pemberontak yang tak ada taranya. Di sebuah desa yang tak jauh dari Dungus, yaitu desa Kretek, diketemukan banyak mayat-mayat yang dibunuh kaum pemberontak dengan cara yang sekejam-kejamnya. Penyembelihan manusia dilakukan di sebuah kamar hingga darah yang melimpah di lantai kamar itu tebalnya sampai 2 cm. Lebih dari 1000 orang yang dibunuh dengan dipotong lehernya, setengahnya lagi dicincang, ditembak dari jarak dekat. Mereka itu ialah pemimpin-pemimpin Masjumi, Pamong Projo, pemimpin-pemimpin PNI, orang-orang pengikut Tan Malaka, Tentara Pelajar dan penduduk preman. Banyak bangkai [mayat manusia] yang terhantar di sana-sini, dan bangkai-bangkai itu masih baru, menunjukkan bahwa barusan saja ditinggalkan algojo-algojonya.

Lima ratus jumlah rumah-rumah yang dibakar oleh kaum pemberontak di daerah Madiun, kebanyakan di pinggir-pinggir jalan antara Madiun dan Ponorogo.

Gadis Rasjid, wartawan wanita dari [majalah] Siasat yang mengikuti perjalanan Divisi Siliwangi dari Solo ke Tawangmangu dan Sarangan untuk menyerbu Madiun, dapat melihat dengan kedua belah matanya sendiri akan kekejaman-kekejaman kaum pemberontak. Ia menulis di harian Nasional Yogya di antaranya sbb:

Waktu prajurit Kian Santang yang paling muka mau memasuki kompleks pabrik gula, terdengarlah teriakan dari sebuah rumah administrateur, minta pertolongan. Kurang lebih 50 orang tampak terjatuh di lantai bermandi darah. Beberapa orang yang masih hidup menceritakan bahwa sebelum kaum pengacau melarikan diri, dua orang menembaki kaum tawanan dari luar melalui jendela. Tidak akan saya lupakan pemandangan ini. Badan manusia yang tidak berdosa berbaring jatuh dalam sebuah kolam darah!
Di Dungus, sebelah timur Madiun, beberapa hari kemudian mereka melakukan hal ini dengan cara yang lebih kejam. Begitu juga di Magetan, di Sumoroto, di Ponorogo, Purwodadi dan Kanigoro. Dan bertambah ketegasan bagi saya bahwa apa yang dimulai sebagai gerakan politik, kemudian berubah menjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan teror ini, bukanlah suatu aliran yang dapat memberi manfaat atau kebahagiaan bagi rakyat Ind{21}onesia, betapapun muluknya cita-cita yang mereka dengungkan…..

Gadis Rasjid adalah satu-satunya wartawan Republik yang berani mengikuti perjalanan Batalyon Kian Santang sejak dari Solo melintasi Tawangmangu, Sarangan, Palaosan dan lalu ikut masuk kota Madiun. Banyak pemandangan yang ngeri-ngeri yang menyeramkan bulu roma [dilihatnya] di daerah Palaosan, Dungus dan lain-lainnya.

Dari Dungus kaum pemberontak lari ke Ngebel dalam keadaan kocar-kacir. Berjuta-juta URI dan barang-barang perhiasan emas [dan] berlian yang diambil dari Bank dan rumah pegadaian dan jawatan-jawatan di kota Madiun mereka bawa. Lain-lain barang yang berat, seperti mesin tulis, beras berkarung-karung, amunisi, kambing, kuda, cikar, mobil-mobil rusak dan lainnya ditinggalkan di tengah jalan, karena mereka itu terus dikejar-kejar oleh TNI.

Tanggal 5 Oktober Ponorogo jatuh ke tangan TNI. Sisa-sisa pasukan merah lalu berserak ke pegunungan Sewu di daerah selatan (daerah Pacitan). Pada tanggal 31 Oktober (sebulan kemudian, sesudah Madiun direbut kembali oleh TNI) sebuah pasukan dari Brigade “S” di bawah pimpinan Kapten Sunandar yang melakukan pembersihan di daerah sebelah selatan Ponorogo, waktu mengadakan patrol telah menjumpai Muso dengan menyamar sebagai kusir. Ia [hanya] dikawal oleh dua orang kepercayaannya. Lalu terjadi tembak-menembak. Muso membela diri dan lalu lari ke sebuah rumah orang desa. Dengan menggunakan kedua laras pistol Vickers, Muso bertahan di rumah itu, membalas tembakan dari balik pintu dan jendela. Ia tidak mau menyerah. Dia memang berani, walaupun ketika itu ia terkepung sudah. Seruan dari pihak TNI supaya menyerah saja tidak diindahkannya. Waktu itu patroli TNI yang mengepung dia tidak mengerti bahwa orang itu sebenarnya Muso, dan disangka tentara merah biasa saja. Kemudian bertubi-tubi tembakan dilepaskan dari luar rumah dan akhirnya Muso kena peluru…..rubuh sambil menjerit “aduh”. Tak lama kemudian matilah ia.

Mayat Muso kemudian dipotret, disaksikan oleh pegawai pemerintah yang dipanggil dari Madiun. Sesudah disahkan bahwa mayat itu benar-benar Muso, lalu dikubur [di] “salah satu tempat yang tidak diumumkan”.7

Demikianlah akhirnya riwayat pemimpin Komunis ini. Baru dua bulan saja ia datang ke Indonesia (sesudah bertahun-tahun lari ke luar negeri dikejar-kejar oleh pemerintah penjajahan) dan belum lagi ia mendekati masyarakat bangsanya, telah mati dalam satu pemberontakan yang sangat menyedihkan.

Muso berasal dari desa Pegu distrik Papar, Kabupaten Kediri. Orang tuanya bernama Mas Martaredjo, sudah lama meninggal di waktu Muso berada di luar negeri. Di antara familinya yang masih hidup dan tinggal di desa Pegu ialah Sridadi, Haji Musbah, Haji Iljas, Partodipuro dan masih ada beberapa orang lagi. Di waktu kecilnya [Muso] pernah mendapat pendidikan surau.

Sebagai[mana] yang telah kita uraikan dalam bagian pertama, Muso ini di dalam tahun 1917 ikut Serikat Islam [SI] dan menjadi pelaku penting dalam huru-hara SI afdeeling B di Garut. Sesudah keluar dari penjara karena perkara Garut itu lalu ia pergi ke Surabaya memimpin gerakan revolusioner PKI dan menerbitkan majalah “Proletar”. Dalam tahun 1926 ia ikut menyetujui Konferensi Prambanan tentang niat akan mengadakan pemberontakan Ko{22}munis. Sebagai[mana] yang telah diceritakan, ia bersama Alimin pergi ke Singapura untuk mengabari Tan Malaka tentang rencana pemberontakan itu, dan keras kehendaknya supaya segera berontak walaupun persiapan belum ada. Tan Malaka tidak menyetujuinya, karena keadaan organisasi yang menurut perhitungan revolusi dan massa aksi belum mengizinkan. Muso tidak mau surut. Pemberontakan mesti [di]langsung[kan], gagal tak gagal bukan soal! Dan ia terus pergi ke Moskow mau tidak mau bagaimana hasil pemberontakan itu. Itulah yang disinyalir oleh Muhammad Hatta bahwa Muso ini “pernah satu kali menyebabkan bangkrutnya pergerakan rakyat”.

Penghargaan orang-orang di Indonesia terhadap Muso ketika baru kembali dari luar negeri ialah bahwa ia telah dapat mengadakan koreksi yang sangat baik dan menyatukan kaum Sosialis kiri (FDR) dengan kaum Komunis PKI hingga kaum buruh dan kaum tani yang tergabung dalam SOBSO, PBI dan BTI dapat disatukan dalam PKI. Ia telah menunjukkan kesalahan-kesalahan Alimin, Amir [Sjarifuddin]., Setiadjid, Marutodarusman dan lain-lainnya jago FDR sehingga dalam sekejap saja mereka itu kembali berjejak dalam saluran revolusioner yang konsekwen.

Yang tidak terduga ialah bahwa ia segera percaya begitu saja pada keterangan pemimpin-pemimpin FDR (Amir cs.] bahwa pengikut FDR sudah sangat kuat dan sanggup memimpin massa aksi bahwa pengikut Republik sudah kecil dan pemerintah Yogya mudah ditumbangkan. Muso yang baru datang ke Jawa hanya dapat melihat rakyat yang berduyun-duyun di rapat raksasa yang dikerahkan oleh FDR. Spontan ia menyangka bahwa rakyat yang berduyun-duyun itu ialah orang Komunis gemblengan yang sudah masak, sudah staat bewust dan politik bewust, – tidak diketahuinya bahwa sebagian besar [dari] rakyat-rakyat itu masih buta huruf, buta politik, buta penerangan dan belum pernah mengaji teori-teori Marx yang sebenarnya, malah di antaranya tidak sedikit terdapat penjahat-penjahat dan orang-rang demoralisasi yang masuknya ke PKI tidak karena ideologi Komunisme, tapi hanya [karena] mau ikut rame-rame melakukan teror guna kepentingan diri sendiri, seperti penjahat-penjahat dari Magetan, Plosan dan Maospati.8

Mengapa Muso terpencil di bukit-bukit di daerah Ponorogo dan hanya sedikit saja mempunyai pengiring? Di manakan Amir [Sjarifuddin] dan induk pasukan merah yang dikepalai oleh “Panglima besar”Djokosujono?  Mengapa [Muso] sampai terpisah dari induk pasukan dan Muso dibiarkan saja oleh anak-anaknya pasukan merah yang masih beribu-ribu itu?

Pertanyaan ini menjadi penting karena sejak semula orang sudah bertanya-tanya siapakah sebenarnya yang jadi biang keladinya pemberontakan [Madiun] itu? Siapakah sebanarnya yang berkuasa dalam PKI? Muso atau Amir [Sjarifuddin]?

Sejak Muso dan Amir meninggalkan Madiun, keduanya masih tetap berkumpul dengan induk pasukan merah. Dari Dungus [mereka] pergi ke Balong. Di sana [mereka] bari berpisah. Apa sebabnya berpisah, masih menjadi soal gelap yang tidak mudah diterangkan. Induk pasukan Amir yang kuat pergi ke Tagalombo menuju ke Pacitan, sedang Muso dan beberapa orang pengawal[nya] lalu terdampar di pegunungan di selatan Ponorogo.

Induk pasukan Amir itu ialah satu-satunya pasukan pemberontak yang paling kuat peralatan [perang]nya, lagi pengiringnya lengkap: Djokosujono, Gubernur {23} Militer Soviet Madiun; Abdulmuthalib, Residen Soviet Madiun; Singomentolo; Batalyon Abdulrachman; Maruto Darusman; Suripno; Sumarsono; dan lain-lain pembesar FDR-PKI.9

Di daerah Pacitan rombongan Amir menuju ke Kismantoro dan di sana bertemu [dengan] pasukan Alri yang dipimpin oleh Amat Jadahu. [Dengan demikian], induk pasukan itu bertambah kuat.

Tanggal 23 Oktober induk pasukan Amir dari Pacitan bergerak menuju ke utara. Ternyata daerah Wonogiri telah dikuasai oleh Republik. Pada mulanya mereka mengira bahwa daerah Wonogiri berada di tangan pasukan merah, karena beberapa hari lamanya kota Wonogiri memang berada di tangan pasukan merah, hingga Amir memerintahkan anak buahnya menjelajah pegunungan selatan dari Ponorogo menuju ke barat untuk bertemu dengan induk pasukan yang menguasai daerah Wonogiri. Alangkah kecewanya [mereka setelah] mengetahui bahwa pertahanan di front selatan Surakarta ini sudah tembus.

Sebahagian dari Divisi Siliwangi yang mempertahankan kota Solo sejak terjadinya huru-hara pada pertengahan bulan September tidak ikut bergerak ke Madiun, tetapi lalu mengejar pasukan merah di frot selatan. Sukoharjo diduduki, lalu [pasukan Siliwangi] terus ke Wonogiri dan pada minggu pertama bulan Oktober daerah Wonogiri dikuasai Republik kembali. Ternyata banyak orang-orang yang dibunuh pasukan merah [di daerah itu]. Di Tirtomojo [telah terjadi pembunuhan-pembunuhan] yang tidak kalah kejamnya dengan di Dungus dan Magetan. Bupati Sukoharjo, Patih, Wedono, Asisten Wedono, Alim Ulama (di antaranya Kyai Termas Pacitan yang terkenal itu) ikut pula menjadi korban. Ada yang disembelih, ada yang dimasukkan ke lobang, dicincang, ditikam, atau ditembak, setengahnya lagi dianiaya [dengan cara] yang sangat mengerikan.

Pada pertengahan bulan Oktober, jenazah-jenazah korban kekejaman Tirtomojo itu digali, dimasukkan ke peti mati dan terus dibawa ke kota Surakarta. Beratus-ratus ribu penduduk kota Surakarta menghormati jenazah korban-korban itu. Peristiwa itu sangat dramatis dan mengharukan hingga banyak orang yang berderet-deret di sepanjang jalan raya Purwosari sama mencucurkan air mata. Selain itu, di daerah Purwodadi, Cepu, Blora dan Bojonegoro juga terjadi kekejaman-kekejaman yang melewati batas.

Banyak jembatan-jembatan, jalan kereta api dan jalan raya yang dihancurkan pasukan merah, banyak gedung-gedung yang terbakar, hutan-hutan jati yang dibakar (seperti di daerah Kediri ada 4654 [pohon] jati yang dibakar habis), 180.300 ton kayu bakar untuk kereta api dibakar habis, di Ngawi berton-ton bibit padi musnah. Kerugian berjuta-juta [rupiah], menambah penderitaan rakyat jelata.

Pada tanggal 22 [Oktober] kota Pacitan dan Pati yang tadinya dikuasai pemberontak telah dapat direbut TNI dan perlawanan teratur dari berbagai daerah dianggap sudah habis.

Pada hati itu, Presiden Sukarno selaku Panglima tertinggi angkatan perang berpidato di corong radio untuk mengumumkan tentang berakhirnya operasi TNI terhadap pemberontakan {24} Madiun. Antara lain ia berkata:

Dengan ini berakhirlah sejarah yang amat sedih karena akibat pertentangan yang diruncing-runcingkan, sehingga panglima tertinggi terpaksa memerintahkan kepada angkatan perang untuk mengembalikan keamanan dan dasar-dasar persatuan yang kuat dengan kekuatan senjata dan batuan rakyat kita.

Seminggu kemudian daripada itu, yaitu pada tanggal 31 Oktober [1948], seperti yang sudah kita sebut di atas, Muso menemui ajalnya di dekat Ponorogo.

______________________________________

(La’natullahi alaihi, Red.) {25}

______________________________________

Catatan

  1. Kata orang, dalam tahun 1935 Muso pernah datang menyamar ke Jawa.
  2. Yaitu partai illegal yang dikepalai oleh Tan Malaka.
  3. PKI Muso hanya menawarkan kepada Masjumi dan PNI supaya suka masuk Front Nasional.
  4. Sejak 8 September memang terjadi penggeledahan dan penculikan terhadap orang-orang pemimpin dan pengikut PKI Muso.
  5. Sampai sekarang tak ada kabar tentang nasib Dr. Murwadi [Muwardi?]; sangat boleh jadi beliau mati dibunuh. Barisan Banteng kemudian menjadi partai politik dengan nama “Partai Demokrasi Rakyat” atau “Partai Banteng RI”, diketuai oleh Imam Sutardjo.
  6. Dari segi psikologis memang sukar pihak Madiun mencari pengikut baru di luar kalangan FDR, karena koreksi Muso yang sangat baik dan tepat itu tidak konsekwen, yaitu orang-orang yang bersalah karena menjalankan politik bankrut (yaitu Amir [Sjarifuddin] dan kawan-kawannya) tidak disingkirkan, malah diangkat lebih tinggi lagi, sedang kebanyakan rakyat (terutama pengikut PNI, Masjumi dan kaum Komunis Tan Malaka) menginginkan orang-orang FDR yang bersalah itu disingkirkan. Sesudah Muso mengoreksi kesalahan FDR-PKI, [ia] malah lalu melindungi mereka yang bersalah. Inilah kelemahan koreksi Muso sehingga aksi Madiun itu tidak mendapat sambutan baik, malahan menimbulkan kebencian dari segala pihak, sebab seolah-olah koreksi Muso itu dipakai untuk menolong prestise pemimpin-pemimpin FDR saja.
  7. Sebulan kemudian penduduk daerah Sumoroto, Ponorogo, mengadakan upacara pembakaran mayat Muso.
  8. Seperti juga penjahat-penjahat di Jawa Barat yang dalam tahun 1949 dan 1950 ikut gerombolan DI, bukan karena mengerti cita-cita Darul Islam, tapi mau menjalankan teror peralgojoan dengan berkedok DI.
  9. Alimin tidak ikut, karena waktu permulaan aksi Madiun ia berada di Solo dan lalu ikut pasukan merah di Wonogiri.

***

Sumber: Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal [Nomor Madiun Affair] No. 52, TAHUN KE VII, SEPTEMBER 1953: 15-25). Ejaan disesuaikan, tapi nama-nama orang dan institusi atau partai politik ditulis sebagaimana aslinya. Angka dalam tanda ‘{ }’ merujuk pada halaman asli majalahnya. Bagian kalimat dalam tanda “[ ]” merupakan tambahan dari penyalin. Cetak tebal berasal dari teks aslinya. Ilustrasi juga merupakan tambahan dari penyalin (yang dirujuk dari: blogperang.wordpress.com).

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: