Posted by: niadilova | 11/05/2016

Kilas Balik: Sjarif Usman, Air Mata dan Darah dalam Pemberontakan Komunis Madiun [1948]

Sjarif Usman, Air Mata dan Darah dalam Pemberontakan Komunis MadiunDapatkah keamanan dipulihkan dan hukum dijalankan kalau kaum pemberontak dibiarkan secara aman memerankan rolnya?

Musuh dari luar

Pada bulan September 1948, persiapan-persiapan Belanda untuk melakukan penyerangan terakhir buat menghancurkan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta hampir selesai.

Dari sudut politik, Belanda telah mengepung RI dengan negara-negara boneka yang mereka bentuk, yaitu Jawa Timur dan Negara Pasundan. Blokade ekonomi pun dijalankan dengan sangat rapat sekali, baik dari darat ataupun dari laut. Republik Indonesia hampir tak kuat lagi menentang pengepungan itu.

Tentara Belanda telah dipusatkan di garis-garis demarkasi. Seluruh persenjataan, meriam-meriam dan tank-tank besar, [siap] sedia menunggu perintah melangkahi garis demarkasi, menyerbu daerah Republik sampai ke Yogyakarta. Karena dengan itu tamatlah riwayat RI menurut pikiran Belanda.

Dalam suasana serupa itu, meletuslah pemberontakan kaum Komunis di Madiun (18-9-1948) terhadap Republik Indonesia, tak obahnya dengan orang yang sedang berjuang menghadapi lawan, tiba-tiba ditikam dari belakang dengan pisau belati.

Komunis lawan Non-Komunis

Sebelum pecahnya pemberontakan Komunis Madiun, pertentangan partai-partai di Yogyakarta hebat benar. Pertentangan itu dapat dibagi kepada dua blok, yaitu:

  1. Komunis dan kawan-kawannya
  2. Masyumi-P.N.I. dan kawan-kawannya

Pertentangan terletak dalam tujuan dan strategi serta taktik perjuangan.

Komunis dan kawan-kawannya ingin membawa Indonesia  ke bawah pimpinan Sovyet Rusia yang dikendalikan dari Moskow, dan Indonesia harus mematuhi itu, sebagaimana negara-negara Komunis yang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam akhir pidato Muso, pemimpin pemberontak Madiun pada tanggal 8 September 1948 dalam satu rapat raksasa PKI di Madiun, yang berbunyi sebagai berikut:

Sovyet Rusia adalah pemimpin revolusi dunia, [dan] Revolusi kita adalah bagian dari padanya; jadi kita berada di bawah pimpinan Sovyet Rusia. Jika kita berada di pihak Rusia, maka adalah kita benar.

Blok yang satu lagi terdiri dari Masyumi-PNI dan kawan-kawannya. Blok ini berpendirian bahwa bangsa Indonesia berjuang menuju kemerdekaannya atas kemauan dan pimpinannya sendiri. Indonesia yang merdeka tidak usah dipimpin Rusia atau Amerika, tetapi harus memimpin sendiri sebagai bangsa yang merdeka.

Tetapi Komunis mencap orang-orang yang tidak mau takluk ke bawah Moskow [sebagai] kaki tangan imperialis Amerika.{26}

Persiapan-persiapan pemberontakan

Persiapan-persiapan pemberontakan Komunis Madiun, menurut tinjauan kita, dapat dibagi dalam 3 bagi[an]:

  1. Menghasut-hasut rakyat membenci pemerintah Republik [Indonesia] dan memberi janji-janji yang muluk-muluk.
  2. Melakukan infiltrasi ke dalam alat-alat negara.
  3. Mempersiapkan pasukan-pasukan di luar alat-alat negara.

Menghasut-hasut rakyat untuk membeci pemerintah Republik Indonesia adalah geestelijke voorbereiding dari pemberontakan Madiun. Dalam surat-surat kabar dan rapat-rapat, pemimpin Komunis melakukan kritik-kritik yang telah meningkat kepada penghasutan. Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam masyarakat akibat perjuangan dan revolusi dilemparkan kepada Pemerintah Republik Indonesia yang di waktu itu dipimpin oleh Hatta. Di samping itu, mereka memberikan janji-janji yang muluk-muluk kepada rakyat banyak. Kepada rakyat banyak mereka janjikan perbaikan kehidupan, pembagian tanah bagi kaum tani, memperbaiki kesehatan, memajukan pelajaran, dan lain-lain.

Pendeknya, usahanya dapat disimpulkan kepada dua hal, yaitu hasutan dan janji.

Orang-orang yang mengikuti surat kabar dan pidato-pidato pemimpin PKI sebelum pemberontakan Madiun akan merasakan hal ini dengan sungguh-sungguh. Teristimewa pidato-pidato Muso, gembong pemberontakan Madiun, tanggal 8 September 1948. Pidato itu berisi tiga garis besar, yaitu:

  1. Maki-makian dan hasutan terhadap pemerintah Hatta.
  2. Janji-janji yang bagus terhadap rakyat.
  3. Propaganda untuk membawa rakyat Indonesia ke bawah pimpinan Rusia.

Infiltrasi ke dalam alat-alat negara juga dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh kaum Komunis. Infiltrasi itu dilakukan dengan [cara] mempengaruhi orang-orang yang berada dalam alat-alat negara atau memasukkan kader-kader Komunis ke dalam alat-alat negara seperti tentara dan polisi.

Sewaktu pemberontakan Madiun [terjadi], hal ini telah menjadi kenyataan. Brigade TNI yang berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dahlan telah menjadi tulang punggung kaum pemberontakan Madiun. Selain infiltrasi ke dalam alat-alat negara, maka kaum Komunis juga mempersiapkan laskar-laskar bersenjata dengan berbagai jalan. Laskar-laskar bersenjata, yang berada di bawah pimpinan Biro Perjuangan Yogya, yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Djokosujono, adalah tenaga-tenaga penting bagi persiapan pemberontakan Komunis. Sewaktu pemberontakan Madiun, Jenderal Mayor ini menjadi panglima besar tentara Komunis Madiun.

Meletusnya pemberontakan

Formeelnya pemberontakan Madiun dimulai tanggal 18 September 1948, karena pada tanggal itulah terjadinya perebutan kekuasaan di Madiun oleh kaum Komunis dari pemerintah Republik Indonesia. Tetapi yang sebenarnya [terjadi], pemberontakan telah dimulai tanggal 12 September 1948, yaitu dengan cara teratur sekali mereka merebut kekuasaan di desa-desa yang [ada] di sekeliling Madiun. Tanggal 18 September selesailah perebutan kekuasaan atas seluruh Madiun. Dan dari sana kaum Komunis membuat pernyataan untuk menguasai seluruh Jawa dan Republik Indonesia. Kepada rakyat mereka katakan bahwa pemerintahan Sukarno-Hatta telah hancur.

Tanggal 19 September 1948 Presiden Sukarno mengucapkan pidato dan amanat kepada seluruh rakyat Indonesia yang menyatakan pemberontakan kaum Komunis di Madiun terhadap {27} pemerintah Republik Indonesia. Ada dua hal yang penting kita cantumkan dari isi pidato itu di sini, yaitu:

  1. Kaum Komunis mengadudombakan tentara yang Hijrah dengan tentara yang berada di Yogya dengan maksud memecah belah tentara RI, supaya mudah menghacurkan Republik Indonesia.
  2. Membuat Madiun menjadi pangkalan [untuk] merebut kekuasaan atas seluruh Indonesia.

Antara lain Presiden Sukarno berkata dalam pidatonya itu sbb:

Tentara RI yang tetap di pedalaman diadu dombakan orang dengan pasukan-pasukan Hijrah, terutama terhadap pasukan-pasukan Siliwangi.

Orang mengusahakan untuk memecah Tentara kita supaya mudah menggulingkan pemerintah. Sekarang akan saya sampaikan kepada saudara-saudara suatu kejadian yang lebih menyedihkan kita lagi. Kemarin pagi, Muso dan PKI telah melakukan coup di Madiun. Di Madiun telah dirampas kekuasaan dan telah dibentuk suatu pemerintahan Sovyet ala Muso di sana. Perebutan kekuasaan ini mereka anggap sebagai permulaan dari usaha untuk menjatuhkan seluruh pemerintah Republik Indonesia.

Air mata dan darah

Kekejaman dan nafsu kekuasaan.

Sebagaimana lazimnya dalam sejarah kekuasaan Komunis, mereka melakukan pembersihan untuk langkah pertama. Orang-orang yang menentang komunis dibersihkan lebih dahulu, sehingga kemuasaan Komunis dapat ditanamkan dengan tidak ragu-ragu. Di tiap-tiap negeri yang jatuh di tangan Komunis, pembersihan dilakukan. Pelajarilah sejarah negara-negara Komunis. Pembersihan-pembersihan terhadap lawan politik adalah suatu feit atau kenyataan sejarah. Membantah ini artinya memungkiri terbit matahari di timur di waktu pagi.

Berkenaan dengan pembersihan yang dijalankan oleh pemerintahan Komunis di Madiun, setelah mereka berkuasa di sana, surat kabar Mestika [di] Medan pada tanggal 2-10-1948 antara lain menulis sbb:

Berpuluh-puluh guru agama, pemimpin-pemimpin rakyat, pegawai negeri dan guru-guru telah dibunuh atau ditangkap di Madiun oleh kaum Komunis. Mereka itu termasuk golongan orang-orang yang terpelajar di antara rakyat Indonesia. Jika mereka sudah disingkirkan, maka dengan mudah rakyat dapat menjadi mangsa propaganda Komunis.

Sewaktu tentara Republik Indonesia memasuki Madiun, ternyata semua orang-orang yang ditangkap itu telah habis dibunuh oleh kaum Komunis.

Suara Indonesia Merdeka [edisi] tanggal 6-10-’48 mengumumkan keterangan yang diterima dari pihak militer (TNI) sbb:

Di dalam satu gedung (di Madiun) ditemukan mayat-mayat dari anggota TNI. Rupanya, sebelum ditembak mati, mereka telah disayat-sayat lebih dahulu, sehingga tak mungkin mengenal bentuknya lagi. Lantai gedung itu telah ditutupi dengan darah setebal 2 cm. Kepala Polisi Keresidenan juga telah dibunuh dengan cara kejam oleh tentara partai PKI –Muso.

Pegawai-pegawai negeri di Magetan dibunuh semuanya. Lurah-lurah Republik dilenyapkan dengan tidak meninggalkan jejak.

“Front Nasional” no. 3098 tanggal 26-10-1948 memuat laporan pandangan mata dari seorang pembantu dari Madiun, antara lain: (Bersambung ke halaman 39){28}

Sesudah perebutan kekuasaan, Madiun menjadi centrum dari pemerintah Komunis dalam Republik Indonesia. PKI melaksanakam aksi pembersihan; semua pemimpin-pemimpin Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh dengan tidak diperiksa lebih dahulu. Kekejaman mencapai puncaknya tatkala Barisan Warok Ponorogo yang bersenjata revolver dan kelewang masuk Kota (Madiun). Di mana saja anggota Masyumi dan PNI atau orang-orang yang dicurigai ditemui, dengan tidak kenal ampun terus ditembak mati oleh Barisan itu. Kepalanya dipisahkan dengan kelewang dari badannya. Kota [Madiun] merupakan pemandangan yang mengerikan, bangkai manusia yang telah dibunuh dan disiksa berhamparan di sepanjang jalan-jalan raya. Pembunuhan besar-besaran itu berjalan berketerusan selama periode kekuasaan merah.

Pemberontak berkeliaran dalam negara

Sampai hari ini kaum pemberontak Madiun ini berkeliaran dalam negara kita dengan aman. Dapatkah keamanan dipulihkan dan hukum dijalankan kalau kaum pemberontak berjalan dengan leluasa dan menghasut-hasut untuk menimbulkan kekacauan dalam negara kita ini?

Bagaimana sikap Pemerintah dan Jaksa Agung terhadap pemberontak yang nyata ini??? {39}

***

Sumber: Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal [Nomor Madiun Affair], No. 52 TAHUN KE VII, SEPTEMBER 1953: 26-28, 39. Ejaan disesuaikan. Angka dalam tanda “{ }” merujuk pada halaman asli majalahnya. Kata-kata dalam tanda “[ ]” dan cetak miring merupakan tambahan dari penyalin. Cetak tebal mengikut teks aslinya. Ilustrasi (foto) berasal dari: www.slideshare.net.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda

Advertisements

Responses

  1. Sungguh sangat mencerahkan bagi kami yg lahir ditahun 80an..sejarah memang hrus dipelajari secara benar supaya anak bangsa ini punya pijakan dalam bernegara.

  2. Reblogged this on Bukit Tinggi Heritage and commented:
    Musuh dalam selimut: Pemberontakan Komunis 1948

  3. Semoga bermanfaat, Sdr, Afrianto. Memang untuk lebih memahami situasi sosial politik bangsa kita di masa lampau, lebih baik terlebih dahulu merujuk dokumen2 pribumi yang diproduksi oleh bangsa kita sendiri, ketimbang mendengar atau merujuk kepada laporan orang asing.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: