Posted by: niadilova | 25/04/2016

Refleksi hari buku dunia: Perpustakaan, Literasi, dan kualitas Bangsa

refleksi hari buku dunia - Perpustakaan, Literasi, dan kualitas BangsaSebagaimana telah dilansir oleh media, budaya literasi Indonesia masih sangat rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) mengungkapkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara yang diteliti di dunia pada tahun 2012. Penelitian itu juga menemukan bahwa indeks minat baca masyarakat kita baru mencapai 0,001, yang berarti bahwa dalam setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Kenyataan ini tentu memprihatinkan kita sebagai sebuah bangsa. Dengan keadaan seperti ini bangsa Indonesia akan sulit bersaing secara global. Bagaimana kita akan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain jika kemampuan membaca dan menulis, hakikat dari literasi, masih belum menyenyawa dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Literasi adalah syarat utama sebuah nasion yang berkemajuan.

Fakta-fakta yang menyembabkan timbulnya keadaan ini sudah sering diungkapkan. Salah satunya adalah kehadiran media sosial baru yang justru malah makin menyuburkan budaya kelisanan (orality) kita. Perhatikanlah bagaimana gilanya orang Indonesia bergosip ria atau berdebat kusir tak berkeruncingan di grup-grup WA (WhattsUp), Facebook, dan Twitter. Bahkan mahasiswa Indonesia di luar negeri pun tak bebas dari budaya ini, walaupun mereka sudah hidup dalam lingkungan masyarakat yang hidup dalam budaya literasi yang kuat. Di tanah air kondisinya lebih parah. Sejauh yang dapat diamati, hanya dalam rentang waktu tidur saja pergosipan dan perdebatan itu agak mereda sebentar. Jika matahari sudah terbit lagi, pergosipan dan berdebatan virtual itu mulai lagi, dan hanya akan berakhir menjelang waktu tidur lagi.

Dengan kata lain, teknologi komunikasi modern menjauhkan bangsa Indonesia dari tradisi keberaksaraan atau literasi (literacy) yang fondasinya sempat terbangun sedikit sejak akhir zaman kolonial. Namun, gerakan ke arah tradisi literasi yang lebih membumi dalam masyarakat Indonesia dimentahkan lagi oleh hadirnya televisi dan radio di negeri ini. Dan kini, teknologi sosmed cenderung memperparah keadaan ini.

Di sinilah pentingnya untuk membangun perpustakaan dan tradisi kearsipan. Jika kita menengok negara-negara maju, perpustakaan dan tradisi kearsipan sudah menjadi bagian yang integral dan inheren dalam kehidupan masyarakatnya. Universitas-universitas memiliki perpustakaan dengan koleksi yang lengkap, yang terus-menerus ditambah. Setiap kota, besar ataupun kecil, memiliki perpustakaan umum untuk warganya, di mana sering kita melihat orang tua membawa anak-anak mereka yang masih kecil untuk diperkenalkan sedini mungkin kepada buku. Budaya literasi harus ditumbuhkan sejak usia dini.

Museum-museum juga memiliki perpustakaan, di samping tentunya koleksi benda-benda budaya dari dalam negeri dan berbagai belahan dunia lainnya. Balaikota dan instansi-instansi pemerintah pada umumnya memiliki arsip yang rapi yang menyimpan dokumen apapun yang pernah dikeluarkan atau diterima oleh instansi yang bersangkutan. Dalam setiap rumah hampir dapat ditemukan perpustakaan pribadi, besar atau kecil.

Seiring dengan perkembangan zaman, koleksi perpustakaan di negara-negara maju (misalnya di Belanda, tempat saya bekerja sekarang) memperkaya koleksinya dengan bahan-bahan audio dan audio-visual. Sistem pengelolaannya terus diperbaharui, disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Demikianlah umpamanya, secara bertahap, buku-buku tua yang berusia ratusan tahun didigitalkan sembari buku aslinya tetap dipelihara melalui teknik konservasi.

Para pustakawan, dan ini tentunya merefleksikan perspektif negara, berpandangan jauh ke depan: waktu terus bergerak dan yang bersifat material akan rusak (termasuk kertas), tapi huruf-huruf yang membentuk kata, rangkaian cerita yang terulis, yang merupakan ‘cermin terus’ untuk meninjau masa lampau, apapun jenisnya, harus terus diselamatkan. Wal hasil, dengan teknologi digital sekarang, perpustakaan-perpustakaan di Eropa masih akan dapat mengabadikan isi buku-buku tua yang sudah berusia ratusan tahun itu untuk beberapa ratus tahun ke depan.

Meskipun demikian, buku-buku konvensional terus diproduksi, di samping jurnal-jurnal yang bersifat online. Walaupun dunia digital makin mempengaruhi hidup manusia, ia belum akan menghilangkan bentuk perpustakaan konvensional.

Apa yang hendak saya katakan adalah bahwa perpustakaan merupakan salah satu pilar utama untuk menegakkan tradisi literasi. Dari situ berbagai program untuk membudayakan keberaksaraan dalam masyarakat dapat dikembangkan, termasuk kurikulum di sekolah-sekolah. Logikanya sederhana: jika orang banyak membaca, maka ia juga akan mampu menulis banyak. Dan hal itu tentu akan mungkin terjadi jika ada buku, jika ada bahan bacaan yang cukup. Dan jika kita berbicara tentang ketersediaan bahan-bahan bacaan yang cukup, tentu itu terkait erat dengan ketersediaan perpustakaan.

Lalu bagaimana dengan bangsa Indonesia? Harus diakui bahwa kita masih kekurangan perpustakaan. Kekurangan itu tidak saja dalam hal kuantitas, tapi juga kualitas. Pelayanan perpustakaan-perpustakaan kita masih jauh dari memuaskan. Koleksi perpustakaan-perpustakaan kita pun masih jauh dari lengkap.

Akan tetapi, kendala yang amat besar yang kita hadapi adalah: bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan. Jika di Eropa, misalnya, perpustakaan tak pernah sepi, baik oleh orang tua maupun orang muda, maka di negara kita ini hal yang sebaliknya yang tampak: perpustakaan bukanlah tempat favorit bagi warga, termasuk pada pelajar dan mahasiswa.

Apa sebabnya hal yang demikian itu terjadi? Saya kira hal ini terjadi karena tradisi literasi masyarakat kita yang baru mencapai 0,001 itu. Dengan presentase yang amat sangat rendah itu, dapat dibayangkan: 999 orang dari tiap 1000 penduduk Indonesia masih lebih suka mengaktifkan mulut dan telinganya (maota , menggosip) ketimbang menggunakan mata dan tangannya (membaca dan menulis). Dengan keadaan seperti itu, perpustakaan, yang identik dengan tempat yang sepi, tenang, dan memerlukan konsentrasi, adalah sebuah siksaan bagi mereka. Budaya bangsa kita masih berciri budaya kerumumanan. Ia dicirikan oleh mudahnya orang mempercayai gosip/rumor/kabar angin/kabar burung, suka mencampuri urusan orang lain, dan tingginya potensi friksi sosial. Oleh sebab itu dapat dipahami mengapa tidak banyak orang yang betah duduk berlama-lama di perpustakaan untuk membaca dan menulis.

Jika kita ingin mengadakan revolusi mental yang mendasar, maka sebenarnya yang harus dilakukan adalah membangun dan menambah jumlah perpustakaan di negeri ini. Dari situ budaya literasi dikembangkan dan dipertebal dalam masyarakat kita. Jika budaya literasi mengakar dalam masyarakat, maka akan terjadi transformasi sosial dan budaya. Masyarakat dengan literasi yang kuat akan memiliki perspektif kebangsaan yang kuat pula dan tentunya lebih maju secara individu. Inilah hakikat yang sesungguhnya dari revolusi mental. Sebagaimana direfleksikan dalam ilustrasi esai ini, orang yang banyak membaca juga memiliki perspektif atau pandangan yang lebih luas daripada orang yang jarang menyentuh buku.

Kita boleh belajar ke negara jiran yang dekat saja, Singapura dan Malaysia. Mereka telah berhasil meningkatkan kualitas bangsanya karena investasi yang terencana dan berkelanjutan di bidang pendidikan, antara lain dengan meningkatkan kualitas perpustakaan-perpustakaan mereka, yang pada gilirannya telah menampakkan hasil, yaitu kualitas bangsa Singapura dan Malaysia menjadi lebih baik, yang mampu bersaing di dunia global.

Memang tidak ada kerugian apapun jika jumlah perpustakaan diperbanyak. Semua stakeholder yang terkait di negeri ini, sejak dari pendidik sampai pemerintah, harus memikirkan hal ini. Jika tidak ada program yang jelas dan berkelanjutan untuk membangun literasi masyarakat kita, dikhawatirkan bangsa Indonesia akan makin sulit berkompetisi dalam persaingan global yang makin bebas dan kompetitif ini.

Leiden, 22 April 2016

* Esai ini diterbitkan di harian Padang Ekspres (lembaran “Cagak”) edisi Minggu, 24 April 2016.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: