Posted by: niadilova | 25/04/2016

Minang Saisuak #260 – “Larashoofd” Rao-Rao: Si Kayo Inan gala Parmato Lelo

Minang saisuak - Larashoofd Rao-Rao Si Kayo Inan gala Parmato Lelo

Profil tokoh ini sudah pernah kami tampilkan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ edisi Minggu, 9 Oktober 2011. Dalam foto yang kami tampilkan waktu itu, tokoh ini terlihat lebih tua. Sekarang kami tampilkan lagi tokoh ini dengan raut wajah yang kelihatan agak lebih muda. Foto ini dikirimkan oleh F. de Nijs kepada redaksi Bintang Hindia di Amsterdam.

Tokoh yang kita tampilkan ini adalah ‘si Kajo Inan gala Parmato Lelo’. Beliau adalah Tuanku Laras /Angku Lareh (Larashoodf) Rao-Rao, Tanah Datar.

Si Kayo lahir sekitar tahun 1841, tapi belum ditemukan informasi nagari asalnya. Besar kemungkinan ia berasal dari Nagari Rao-Rao sendiri. Di masa kecilnya, di samping mendapat pendidikan surau, si Kayo telah menerima pendidikan sekolah Eropa.

Informasi yang lain yang kami dapat tentang si Kayo adalah bahwa pada 27 November 1860 ia diangkat menjadi dokter Jawa, “serta mendjalankan pekerdjaan vaccinateur (menteri cacar) sedjak boelan Februari 1862. Negeri-negeri tempat ia melakoekan dienstnja [tugasnya], ialah: Menindjau, Fort de Kock [Bukittinggi], Solok, Soepajang dan Fort van de Capellen [Batusangkar]. Dalam boelan October 1870 ia ditempatkan kedoea kalinja di-Fort de Kock. Gadjinya bertoeroet-toeroet 10. 20. 25 [gulden]. Dalam tahoen 1870 ia moelai dapat [gaji] 30 [gulden] dan dalam 1872 35 [gulden]. Dan dalam tahoen 1877[,] 40 [gulden] seboelan, sesoedahnja 16 tahoen dalam dienst (Bintang Hindia Thn 4, No. 14, 1 Nov. 1906:174).

Tahun 1877 si Kayo diangkat sebagai Tuanku Laras (larashoofd) Rao-Rao dengan gaji 80 gulden sebulan. Pria yang terbilang pintar dan sangat mahir menunggang kuda ini sangat sehat sampai hari tuanya. Diceritakan bahwa walau sudah tua dengan uban yang sudah memutih di kepala, si Kayo tetap gesit dan rajin melakukan tugas-tugasnya. Pemerintah Kolonial Belanda berterima kasih banyak atas performance-nya yang bagus dalam pemerintahan dalam negeri kolonial. Tentu saja, karena sebagai bagian dari rantai administrasi kolonial yang ingin menguasai Minangkabau sampai ke tingkat nagari, si Kayo dinilai berhasil menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Pada 14 Juni 1877 Pemerintah Kolonial Belanda menganugerahinya medali perunggu.

Si Kayo banyak membantu  Ir. J.W. Ijzerman asal Belanda dalam penelitiannya di daerah Kuantan dan Siak tahun 1890. Ir. Ijzerman mencoba merintis pembuatan jalan kereta api dari pedalaman Minangkabau, khususnya dari Sawahlunto, ke arah pantai timur Sumatra. Atas bantuannya itu, Pemerintah Kolonial, berdasarkan besluit no. 17 tertanggal 17 Oktober 1891, menganugerahi si Kayo lagi penghargaan berupa bintang perak.

Pada tahun 1906 si Kayo Inan Gala Parmato Lelo sudah berusia 65 tahun dan sudah 46 tahun berdinas dalam administrasi kolonial Belanda. Belum didapat keterangan kapan ia meninggal.

Kisah hidup si Kayo Inan gelar Parmato Lelo  merefleksikan peran unik dan kompleks Tuanku Laras di zaman Belanda. Melalui rubrik ‘Minang saisuak’  ini sudah cukup banyak foto Tuanku Laras yang kami tampilkan. Mudah-mudahan ada sejarawan yang tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang kehidupan para Tuanku Laras ini dan peran mereka dalam dinamika sosial-politik Minangkabau di awal abad ke-20.

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 24 April 2016 (Sumber foto: Bintang Hindia, 1903).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: