Posted by: niadilova | 25/04/2016

Hang Tuah: korvet pertama di laut kita

Hang Tuah - korvet pertama di laut kitaBagi bangsa Melayu yang mendiami pulau-pulau yang bertebaran di lintasan khatulistiwa ini, kisah Hang Tuah bukanlah sesuatu yang asing lagi. Kepahlawanan Hang Tuah dan kawan-kawannya telah diceritakan dari generasi ke generasi. Dalam perjalanan masa, kisah itu telah pula diadaptasikan ke dalam berbagai genre: buku cerita (dengan berbagai variasinya), komik, film, (naskah) sandiwara, dan lain-lain.

Kini, kalau orang berbicara tentang Hang Tuah, ada kesan kisah itu terkait dengan negara Malaysia saja. Di negara jiran itu Hang Tuah dianggap merepresentasikan dignity kemelayuan. Sampai sekarang di negeri Semenanjung itu nama Hang Tuah terus-menerus menjadi wacana politik dan kebudayaan. Bahkan sampai hari ini ada-ada saja debat yang muncul tentangnya. Yang baru kita dengar adalah soal-jawab di antara beberapa orang intelektual di Kuala Lumpur dan sekitarnya tentang apakah Hang Tuah itu benar-benar ada atau hanya tokoh fiksional saja. Apa gunanya soal-jawab seperti itu? Toh Hang Tuah, lebih dari sekedar ada atau tidak, telah wujud dalam hati orang Melayu dari generasi ke generasi. Fakta ini cukup untuk membuat Hang Tuah itu (benar-benar) wujud dalam kehidupan orang Melayu, yang tak dibatasi oleh Selat Malaka.

Dan… memang Hang Tuah itu pernah ada: kuat dan trengginas. Dan ia menjaga laut Indonesia, malah  ketika nasion itu baru berusia seumur jagung dan masih rentan terhadap serangan dan niat jahat si “Pinke”.

Dialah kapal perang Indonesia pertama: HANG TUAH! Gambarnya (agar kenangan menjadi lebih terang) disertakan di sini, yang direproduksi dari Madjalah Merdeka, No. 10, Th III, 11 Maret 1950, hlm. 3.

Hang Tuah adalah saudara kembar Pati Unus. Itulah dua kapal perang Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yang pertama. Hang Tuah dan Pati Unus lahir karena dimungkinkan oleh Konferensi Meja Bundar (KMB), 23/8 – 2/10, 1949. Kedua kapal perang Indonesia pertama itu diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia.

Pada tanggal 28 Des[ember] 1949 jang lalu, sehari setelah penjerahan kedaulatan kepada RIS, berlangsunglah upatjara resmi penjerahan dua buah korvet, jang segera diberi nama Hang Tuah dan Pati Unus. Dua kapal perang ketjil jg. bisa didjadikan kapal pendjeladjah patroli, mendjaga lautan dari pada penjelundup-penjelundup jang merugikan negara”, demikian tulis Madjalah Merdeka yang dirujuk di atas.

Hang Tuah (dan juga Pati Unus) adalah jenis korvet (patrol vessel) dengan dua “triple expansion zuigermachine” yang berkekuatan 1000 HP (tenaga kuda). Kapal ini berkecepatan 15-15,5 mil per jam, dengan 80 awak, dikomandani oleh Mayor E. Martadilaga. Hang Tuah memiliki panjang 162 kaki, lebar 28 kaki, dan tinggi 8 kaki, dengan berat 560 ton tanpa muatan dan 790 ton  dengan muatan penuh. Korvet ini dilengkapi dengan dua meriam 4 inci, satu meriam 40 mm dan empat meriam 20 cm jenis penangkis serangan udara.

Ketika masih menjadi milik Belanda, kapal ini bernama Morotai, yang merupakan salah satu kapal perang yang digunakan oleh Belanda untuk memblokade laut Indonesia. Namun, betapapun rapatnya blokade si “Pinke”, ternyata para pejuang Indonesia berhasil menembusnya, sebagaimana telah dibuktikan oleh John Lie (Lie Tjeng Tjoan) yang berhasil menyelundupkan senjata dari Singapura ke Indonesia, menembus blokade laut dan udara Belanda yang berbahaya.

Morotai diperoleh Belanda dari Australia. Ketika masih di tangan Australia, kapal ini bernama Ispitch. Begitu juga dengan Pati Unus, yang bernama Tidore ketika masih di tangan Belanda dan Kalgoorlie ketika masih di tangan Australia. Setelah diserahkan kepada pihak Indonesia, “nama ‘Morotai’ [lalu] diganti mendjadi ‘Hang Tuah’ dan ‘Tidore’ mendjadi ‘Pati Unus’. Nama jang kiranja adalah tjotjok sekali dengan arti kedua kapal itu bagi bangsa Indonesia, sebagai pelopor pendjeladjah lautan nusantara dalam melaksanakan keamanan atas lautan.” (Merdeka, ibid: 4)

Jelaslah bahwa penamaan Hang Tuah dan Pati Unus kepada kedua kapal perang pertama ALRI itu ingin mengambil semangat dua pahlawan yang mewakili Melayu dan Jawa, dua puak utama yang mendiami Kepulauan Nusantara. Tokoh Hang Tuah terkenal sebagai laksamana penakluk gelombang laut dari Kerajaan Malaka. Sementara Pati Unus, sebagaiman telah sama pembaca ketahui, adalah Raja Kerajaan Demak kedua (memerintah 1518-1521). Pada tahun 1521 Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka untuk mengusir kekuasaan “Si Patokah” (Portugis) di sana. Ia gugur dalam pertempuran itu.

Begitulah secebis kilas balik, untuk melawan amnesia sejarah, tentang bagaimana jiwa Hang Tuah (di)hidup(kan) di seberang Selat Malaka sini. Tidak hanya dalam wujud sebuah korvet yang gagah dan siap mengamankan laut Indonesia, laksamana Kerajaan Malaka itu juga hadir dalam cerita, komik, kaba (Minangkabau), bahkan menjadi tajuk sebuah surat kabar yang pernah terbit di Padang tahun 1930-an.

HANG TUAH memang milik sesiapa saja di rantau Zamrud Khatulistiwa ini. Negara-bangsa post-koloniallah yang telah mencabik-cabik jiwa dan raganya.

* Esai ini diterbitkan di harian Batam Pos (lembaran “Jembia”) edisi Minggu, 24 April 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: