Posted by: niadilova | 23/04/2016

Presiden Indonesia Joko Widodo berkunjung ke Belanda

13087303_10209416602761602_7788438262151290433_n

Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi), berada di Belanda selama 2 hari (21-22 April 2016) untuk kunjungan kenegaraan dan juga untuk bersilaturahmi dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di Belanda.

Ini adalah kunjungan pertama Presiden Indonesia ke negara bekas penjajahnya (colonial master) sejak 16 tahun terakhir. Kunjungan predecessor Jokowi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ke Belanda dibatalkan pada saat-saat terakhir menjelang keberangkatan beliau pada awal Oktober 2010 karena adanya ancaman dari para pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) yang ada di Belanda untuk menangkap dan memenjarakannya.

 

Walaupun jaminan keamaman sudah disampaikan secara resmi oleh Pemerintah Belanda, kunjungan SBY ke Negeri Kincir Angin itu tetap dibatalkan.1 Saya masih ingat betapa repotnya kami di Universiteit Leiden akibat pembatalan kunjungan Presiden SBY itu. Semula Presiden SBY sudah direncanakan akan memberi ceramah umum di Academiegebouw, gedung utama Universiteit Leiden yang bersejarah itu, yang mulai dipakai tahun 1575. Lusinan undangan sudah disebar. Akibat pembatalan kunjungan yang mendadak itu, kami harus mengirimkan undangan pembatalan lagi kepada orang-orang yang sudah dikirimi undangan.

Syukurlah, kekecewaan kami di Universiteit Leiden agak terobati dengan kunjungan resmi Wakil Presiden, Dr. Boedieono, ke Universiteit Leiden  pada 26 Maret 2014 (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2014/04/01/wakil-presiden-republik-indonesia-berkunjung-ke-universitas-leiden/; diakses 22-4-2016). Dalam kunjungannya itu, Dr. Boediono memberikan kuliah tamu (guest lecture) di hadapan Civitas Academica Universiteit Leiden yang berjudul “Sustaining Indonesia’s Economic and Political Transformation”.

13012764_10209416610081785_949669838733416477_n

Setelah sampai di Belanda pada 21 April pagi, Presiden Jokowi segera berjumpa dengan PM Belanda Mark Rutte di Den Haag, yang dilanjutkan dengan rangkaian pertemuan dengan kalangan pebisnis Belanda. Setelah itu Presiden Jokowi bertemu dengan masyarakat Indonesia di Belanda. Pertemuan diadakan di Hotel Kurhaus, dekat pantai Scheveningen, kota satelit Den Haag. Pada kesempatan itu Presiden Jokowi memberi ceramah tentang kebijakan ekonomi yang beliau terapkan di Tanah Air yang tampaknya memang lebih berpijak kepada sistem pasar bebas: menekankan keterbukaan dan kompetisi. Tidak ada pilihan lain dalam mengadapi kebijakan ekonomi yang memakai sistem ini selain meningkatkan daya saing. Pertanyaannya: apakah masyarakat Indonesia sudah siap menghadapi persaingan bebas ini? Ataukah mereka hanya akan jadi pencundang? Ceramah Presiden itu agak terasa ‘kurang formal’ dengan sering munculnya siutan, dengusan, dan komentar ala tanggapan langsung menonton pertunjukan ketoprak, demikian kesan seorang mahasiswa yang menghadiri acara itu.

Agenda penting lainnya dari lawatan Presiden Jokowi ke Belanda adalah kunjungan beliau ke Maasvlakte 2, salah satu proyek civil engineering terbesar di Belanda yang berlokasi di Pelabuhan Rotterdam. Kunjungan ke Rotterdam dilakukan setelah pertemuan dengan PM Mark Rutte.

Pada tanggal 22 April sore, sebelum bertemu dengan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima pada malam harinya di Istana Noordeinde2, Presiden Jokowi mengunjungi kampus Universiteit Leiden. Kunjungan Presiden Jokowi di Leiden berlangsung kurang lebih selama satu jam, dimulai sekitar jam 15:20. Komunitas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universiteit Leiden menyambut Presiden Jokowi dengan antusias dan secara spontan menyanyikan lagu “Tanah Airku Indonesia.”

Dalam undangan melalui email yang disebarkan oleh panitia penerima di Universiteit Leiden, disebutkan:

The programme for this honorable visit includes a visit to the bronze statue of Hoesein Djajadiningrat, the first Indonesian to obtain his PhD in Leiden in 1913, with a short introduction to Indonesia experts at Leiden University, a presentation of the University Library project on Maps in the Crowd with a small exhibition of a number of old maps and other relevant archival documents relevant archival documents from the Library Special Collections, and a short visit to the Sweat Room3.

 

13062157_10209416606481695_2297012153475291545_n

Demikian penggalan email dari  Rosalien van der Poel, Chief of Cabinet and Protocol | Coordinator Leiden Asia Year Universiteit Leiden, yang dikirimkan kepada komunitas mahasiswa/dosen Indonesia di Universiteit Leiden.

Karena waktu kunjungan ke Leiden sangat singkat, maka mahasiswa tidak memperoleh kesempatan untuk berdialog langsung secara lebih khusus dengan Presiden Jokowi. Sebelum meninggalkan Academiegebouw, Presiden sempat berfoto bersama dengan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Leiden.

Kunjungan Presiden Jokowi di Belanda merupakan bagian terakhir dari rangkaian lawatan beliau ke empat negara Eropa: Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda. Kunjungan itu, yang menggunakan pesawat kepresidenan, dengan mengikutsertakan lusinan pejabat tinggi di seputar Presiden (ring 1), jelas memakan biaya yang sangat banyak yang tentu dibebankan kepada anggaran negara yang berasal dari uang rakyat.

Rakyat Indonesia tentu berharap kunjungan Presiden Jokowi ke Eropa itu akan berhasil membawa pulang reward yang setimpal. Ibarat kata pepatah: kalau tidak mendatangkan untung (surplus), paling tidak pulang pokok pun cukuplah.

Seperti yang sudah dirilis di berbagai media, agenda kunjungan Presiden Jokowi ke Eropa  terfokus pada isu penguatan hubungan ekonomi/perdagangan. Akan tetapi, sebagaimana biasa, negara-negara Eropa selalu mengaitkannya dengan masalah HAM, demokrasi, toleransi beragama, serta kebebasan media, yang di Eropa sendiri masih sering menjadi pokok masalah dalam masyarakatnya.

Dengan Belanda, selain mempererat hubungan ekonomi, Presiden Jokowi juga membahas hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara mantan penjajahnya itu, investasi, pengelolaan air (water management), pendidikan tinggi, dan kemitraan di bidang maritim.

Menurut saya, beberapa hal lain yang menjadi keunggulan Belanda, seperti agro industri dan peternakan, yang tentu saja sangat relevan bagi Indonesia, agak luput dari perhatian Presiden. Belanda jelas merupakan sebuah negara yang sudah sangat maju dan berpengalaman di bidang ini. Indonesia adalah negara pertanian, tapi pertaniannya belum berkembang dengan baik. Pengolahan hasil-hasil pertanian Indonesia jauh tertinggal dari Thailand dan Vietnam. Produk-produk pertanian dari kedua negara anggota ASEAN itu lebih banyak dipasarkan di Belanda dibanding produk-produk pertanian dari Indonesia. Begitu juga bidang peternakan. Banyak hal yang bisa dipelajari Indonesia dari Belanda dalam industri peternakan.

Jika Indonesia bisa belajar dari Belanda tentang industri pertanian dan peternakan, tentu hal itu akan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk desa/petani kita. Dan jika pemerintah memberi perhatian serius di bidang ini, tentunya hal itu akan berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat kita di level bawah, golongan terbesar yang telah mengantarkan Jokowi ke kursi kepresidenan. Jika fokus kunjungan ini, yang terkait dengan perdagangan, masih seputar negosiasi pajak atas ekspor minyak sawit (palm oil), sebagaimana diberitakan oleh media, itu berarti bahwa Pemerintah Jokowi hanya mengutamakan kepentingan kapitalis kota pemilik perkebunan-perkebunan sawit besar dan pembakar hutan di Sumatera dan Kalimantan. Dengan kata lain, para petani dan nelayan Indonesia masih belum bisa berharap banyak bahwa produk beras, rempah-rempah, ikan, dan buah-buahan mereka akan berhasil memasuki lebih banyak perut orang Eropa, khususnya Belanda, sebagaimana yang sudah sukses dilakukan oleh Thailand, Vietnam, Cina, dan Maroko. Jika saya pergi ke toko-toko Asia di Belanda, saya melihat, jahe pun diimpor dari Thailand.

Ini tentu merupakan pesan penting kepada Jokowi’s administration: jangan sampai melupakan ‘si pemberi roti’.

Catatan:

  1. Para eksil dari Maluku di Belanda, yang menginginkan kemerdekaan Maluku Selatan, terus berjuang. Namun, komunitas-komunitas Maluku yang tinggal di Belanda sekarang sudah terbelah dua: mereka yang mendukung dan yang anti RMS. Kelompok yang pertama cenderung makin mengecil. Tentang aktivitas politik RMS di Belanda, lihat dua orgaan (media) yang mereka terbitkan sejak tahun 1950-an: Mena Muria dan De Stem van Ambon. Lihat juga memoar Ir. J.A. Manusama, pemimpin RMS paling aktif dalam pelarian (di Belanda), Eigenlijk moest ik niet veel hebben van de politiek: Herrineringen aan mijn leven in de Oost 1910-1953 (Utrecht: Moluks Historisch Museum; ’s-Gravenhage: Bintang Design & Communicatie, 1999). Tentang masa awal RMS, lihat: https://niadilova.wordpress.com/2016/03/28/visual-klasik-nusantara-29-presiden-pertama-rms-dan-anggota-kabinetnya/ dan https://niadilova.wordpress.com/2016/03/12/visual-klasik-nusantara-23-johannes-hermanus-manuhutu-presiden-pertama-republik-maluku-selatan-yang-hanya-berkuasa-8-hari/; diakses 22-04-2016). Lihat juga beberapa nomor majalah Pesat. Mingguan Politik Ekonomi & Budaja edisi bulan April dan Mei 1955.
  2. Pertemuan Jokowi dengan Raja Alexander tidak dalam kapasitasnya sebagai Presiden Indonesia, tapi sebagai Penasehat PBB untuk isu-isu ekonomi inklusif (http://www.indonesia-investments.com/news/news-columns/joko-widodo-visits-europe-germany-britain-belgium-and-the-netherlands/item6748; diakses 22-04-2016).
  3. Sweat room (kamar keringat) adalah ruangan khusus di Academiegebouw tempat para mahasiswa Universiteit Leiden yang sudah diwisuda (S1, S2, kadang-kadang juga S3) mencoretkan tanda tangan mereka di dinding ruangan itu. Sampai sekarang sudah ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, tanda tangan telah dibubuhkan di dinding ruangan itu. Hakikatnya adalah sebagai kenangan yang ditinggalkan oleh semua orang yang pernah memperoleh diploma dari Universiteit Leiden.

Leiden, 22 April 2016

Dr. Suryadi, dosen/peneliti di Universiteit Leiden, Belanda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: