Posted by: niadilova | 16/04/2016

Visual Klasik Nusantara #33 – Generasi pertama para penggiat Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia), Leiden, 1908

Generasi pertama para penggiat  Indische Vereeniging

Generasi pertama para penggiat  Indische Vereeniging1

Generasi pertama para penggiat  Indische Vereeniging2

Catatan: Tiga foto di atas terkait dengan De Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang didirikan di Leiden, Belanda, pada tahun 1908 atas inisiatif mahasiswa Indonesia asal Batak R. Soetan Casajangan Sorpiada (dalam foto pertama di atas: duduk di tengah).

Berikut dikutipkan keterangan tentang awal berdirinya Indische Vereeniging yang ditulis oleh R.M. Noto Soeroto yang dimuat dalam Bandera Wolanda No. 26, 1909: 11-12. Salinan tentang cerita itu yang disajikan di sini sepenuhnya didasarkan atas buku Poeze, Di Negeri Penjajah (2008:67) yang memuat tulisan R. M. Noto Soeroto tersebut.

“Indishche Vereeniging”
Kami sudah lama mengetahui bahwa telah dibentuk suatu perhimpunan orang Hindia yang sedang belajar di negeri ini. Membaca berita tentang hal itu di harian-harian besar hari-hari ini, kami pun bertanya tentang perhimpunan itu kepada Tuan R. Soetan Casajangan, dan kami mendapat jawaban sbb:
Leiden, 22 Desember 1908
     “Menjawab surat tuan ttgl. Kemarin, dengan ini dapat kami jelaskan sbb.:
     Tiga tahun lalu  saya sudah punya rencana untuk mendirikan perhimpunan orang-orang Hindia yang ada di negeri ini. Karena waktu itu saya terlalu sibuk, maka saya tidak dapat melaksanakan rencana tersebut.
     Pada Juli tahun lalu Tuan Mr. J. H. Abendanon datang menjenguk saya dan bertanya apakah betul saya pernah punya gagasan untuk mendirikan perhimpunan bagi orang Hindia. Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan mengiyakan, lalu Tuan Abendanon mendorong saya untuk meneruskan rencana yang bermanfaat tersebut. Maka saya pilih salah seorang Hindia sebagai pembantu saya, yaotu Tuan R.M. Soemitro. Lalu saya kirimkan undangan kepada semua orang Hindia yang belajar di Negeri Belanda untuk menghadiri rapat pembentukan perhimpunan itu.
     Pada 25 Oktober yang lalu pada pukul dua berkumpullah kami 15 orang Hindia dir u,ah Jalan Hoogewoerd 49 Leiden, dan di situ diadakan rapat yang pertama. Saya minta Tuan Soemitro memimpin rapat; Tuan R. Hoesein Djajadiningrat menjadi sekretaris sementara.
     Sesudah pidato pembukaan ketua sementara, konsep anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dibacakan.
     Dengan suara mutlak, anggaran dasar pada pokoknya disetujui dan diputuskan untuk mendirikan “Indische Vereeniging” (Perhimpunan Hindia). Sesudah itu kami beralih pada pemilihan pengurus.
1.  Sebagai ketua perhimpunan dipilih R. Soetan Casajangan Soripada.
2.  Sebagai sekretaris dan bendahara diangkap R. R. Soemitro.
Atas nama perhimpunan, ketua sementara mengucapkan terima kasih kepada Tuan Soertan C.S. atas prakarsanya, dan mengucapkan selamat kepada kedua tuan tersebut atas pengangkatannya.
Satu komisi yang terdiri atas r.Soetan C.S., R.M.Soemitro, R.M.P. Sosrokartono, dan R. Hesein Djajadiningrat dibentuk untuk menyusun anggaran dasar dan anggaran rumah tangga secara lebih rinci.
Pada 15 November yang lalu diadakan rapat kedua di Den Haag.
Ketua membuka rapat, komisi mengajukan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga untuk dibicarakan; satu demi satu pasal dibahas dan diputuskan, sesudah itu diterima dengan suara mutlak.
Ketua mengucapkan terima kasih kepada komisi, kepada para anggota perhimpunan tsb., dan menutup rapat.
Itulah sejarah “Indische Vereeniging”.

Indische Vereening  adalah pionir perhimpunan mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Belanda. Dua foto pertama di atas mengabadikan dan mencatat nama-nama anggota generasi pertama penggiat perhimpunan ini. Indische Vereeniging dianggap masih kooperatif dengan Belanda, sebagaimana terefleksi dalam AD/ART organiasi ini (lihat repro sampulnya dalam foto ketiga di atas). Selain karena situasi politik yang masih kurang kondusif pada waktu itu, sikap kooperatif dengan Belanda ini juga karena keuangan Indische Vereeniging banyak disokong oleh para donatur orang-orang Belanda.

Namun, bukan tidak ada anggota Indische Vereeniging yang kritis terhadap kebijakan politik Pemerintah Belanda di Hindia Belanda (Indonesia). Salah seorang di antaranya adalah Baginda Dahlan Abdullah (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2013/12/30/minang-saisuak-156-nasionalis-asal-pariaman-h-bgd-dahlan-abdullah/) yang menjadi voorzitter perhimpunan ini pada tahun 1917-1919. Di bawah kepemimpinan Dahlan, Indische Vereeniging mulai makin sadar politik. Dahlan sendiri adalah salah seorang anggota Indische Vereeniging yang sangat vokal terhadap Belanda. Puncak dari perubahan ini adalah pada akhir 1922: Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) menyusul keterlibatan Mohammad Hatta di dalam organisasi ini tak lama setelah ia sampai di Belanda pada 5 September 1921. Sejak itu,  perhimpunan ini sepenuhnya menyatakan diri terlibat aktif dalam gerakan politik untuk memerdekakan Indonesia dari penjajah Belanda.

Selain satu bagian dalam buku Poeze yang dirujuk di atas, sejauh yang saya ketahui, belum ada penelitian yang lebih mendalam tentang Indische Vereeniging dan para penggiatnya. Risalah ilmiah tentangnya masih kurang banyak dibanding penelitian tentang suksesornya, Indonesische Vereeniging.

Setakat ini saya sedang menulis biografi Baginda Dahlan Abdoellah. Dahlan, yang meninggal di Bagdad, Irak, pada 1950, ketika masih menjabat sebagai Duta Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk Irak, Syiria, dan Strans-Yordania, telah mendapat apresiasi dari orang kampungnya di Pariaman, Sumatera Barat, dengan mengabadikan nama beliau untuk nama sebuah jalan di kota kelahirannya itu (lihat: http://www.antarasumbar.com/berita/174319/pemkot-pariaman-resmikan-jalan-bagindo-dahlan-abdullah.html; dikunjungi 16-04-2016). Mudah-mudahan penelitian saya ini nantinya akan dapat diwujudkan dalam bentuk sebuah buku, supaya sumbangsih Dahlan dan Indische Vereniging terhadap Republik Indonesia tetap dapat dikenang oleh generasi yang akan datang.

***

Sumber foto:  Foto 1: Bandera Wolanda No. 36, 1909: 2; Foto 2: Bandera Wolanda No. 27, 1909: 8; Foto 3: Universiteit Leiden shelfmark 1 970 887 9.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: