Posted by: niadilova | 21/03/2016

Renung #64 – Bahasa Taik

Renung #64 - Bahasa Taik“Maaf, tidak ditemukan kata yang dicari…”, demikian jawaban Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online (http://kbbi.web.id/) ketika saya mengetik kata ‘taik’. Lalu saya segera beralih ke salah satu edisi KBBI versi cetakan (konvesional), mencoba mencari kata yang sama dalam senarai kata-kata yang diawali dengan huruf ‘t’. Akan tetapi….yang tersedia hanya kata ‘tahi’.

Kenapa KBBI tidak mencantumkan kata ‘taik’? Padahal di Republik ini kata itu sekarang sedang populer, layaknya McDonald, hijab, dan korupsi. Kemungkinan penyebabnya adalah karena kata ‘taik’ merupakan bentuk paling kasar dibanding sinonimnya yang lain seperti ‘berak’ dan ‘tahi’ (keduanya tercantum dalam KBBI), juga mungkin karena kata ‘taik’ identik dengan bahasa Melayu Tionghoa yang dianggap rendah di zaman lampau.

Arkian, adalah mulut Ahok yang membuat kata ‘taik’ kini begitu naik daun. Orang-orang yang digila politik, khususnya mereka yang cenderung anti Islam (sebagaimana halnya juga telah terjadi di Republik ini di tahun 1950-an), ikut-ikutan mengembangbiakkan kata yang identik dengan umpatan kasar ala bahasa Melayu Tionghoa ini di dalam mulut dan rumah mereka.

Kata ‘taik’, dan sejumlah kata berbau comberan lainnya begitu populer di mulut Ahok (yang mungkin telah menular pula kepada para pengagumnya). Sadar atau tidak, gaya berbahasa Gubernur DKI Jakarta itu, yang ceplas-ceplos, rada kasar dan agak bernuansa dialek Melayu Tionghoa, telah menjadi ‘tauladan’ bagi banyak orang dan telah mengubah lanskap ragam lisan bahasa Indonesia. Dalam berbagai acara formal, yang bersifat langsung atau yang direpresentasikan dalam berbagai media, terkesan bahwa kesantunan bahasa masyarakat kita dalam bertutur kata makin aus. Mungkin kepopuleran kata ‘taik’ yang pemakaiannya berleleran di ruang-ruang publik sekarang menjadi salah satu indikator yang menunjukkan makin terkelupasnya kesantunan berbahasa orang Indonesia.

Jika kita mendengar Ahok berbicara, maka kita akan terperangah. Begitu banyak kata-kata kasar dan vulgar yang tersembur dari mulut beliau, yang di masa-masa sebelumnya jarang terdengar keluar dalam tutur kata para pejabat negara ini di ruang publik.

Gaya bahasa Ahok yang bernuansa (untuk tidak mengatakan berbau) taik itu kini menjadi sangat populer. Makin banyak orang yang menganggap wajar gaya berbahasa lisan seperti itu. Orang sekarang menyebutnya gaya berbahasa ceplas-ceplos, dan anehnya, gaya berbahasa seperti itu diidentikkan dengan politikus berhati jujur. Ini dapat dikesan dari perbincangan virtual di media sosial. Kalangan penyuka gaya bahasa Ahok ini berkilah: lebih baik jadi pemimpin yang berbahasa lugas, ceplas-ceplos dan berterus terang tapi ‘bersih’ seperti Ahok daripada pemimpin yang bertutur kata lemah lembut tapi korup. Seolah-olah ada logika: kalau ingin jadi politikus jujur pakailah gaya bahasa bercarut-carut di depan publik.

Akan tetapi lihatlah! Gaya bahasa menghardik-hardik yang dibanjiri kata ‘taik’, ‘anjing’, ‘maling’, goblok’,  ‘monyet’, ‘banjingan’, ‘kunyuk’, ‘ …..’, yang penuh umpatan dan berkualitas rendah makin danggap biasa sekarang ini. Gaya berbahasa trade mark Ahok ini kian mode dan makin lama mungkin bisa menggeser kesantunan berbahasa yang pernah menjadi ciri penting etika bertutur kata masyarakat kita.

Disadari atau tidak oleh rakyat Indonesia yang banyak layuh ingatan, Ahok telah mempopulerkan kembali bahasa Melayu Tionghoa alias bahasa Melayu rendah, dalam hal ini ragam lisannya. Berbeda dengan situasi di zaman lampau, di mana dialek Melayu Tionghoa dianggap rendah, maka kini dialek itu, sebagaimana dipraktekkan Ahok dalam bertutur kata sehari-hari, yang makin dikagumi banyak orang, justru dipandang sebagai gaya yang unggul dan mainstream. Sekarang dunia memang terbalik-balik: yang rendah dianggap tinggi, yang tinggi dianggap rendah.

Sejarah telah mencatat bahwa sudah sejak zaman dulu muncul kritik terhadap dialek Melayu Tionghoa ini karena dianggap ‘kasar’ dan ‘merusak’ bahasa Indonesia. Pun para sarjana Belanda berpandangan begitu. (Di zaman modern mungkin hanya Babe Ben yang tidak setuju dengan pandangan ini). Akan tetapi di mana saja di dunia ini memang ada penilaian bahasa seperti itu: ada gaya berbahasa yang dianggap sopan dan ada yang kasar. Demikianlah umpamanya, redaksi mingguan Hang Toeah yang terbit di Padang (No. 9, Th. 1, 30 Juli 1932:4) menulis:

Kita ingat akan bahasa Indonesia jang dengan leloeasa diroesakkan oleh orang jang tidak mengetahoei oendang-oendang bahasa itoe. Siapa jang soedah pandai sedikit bertjakap dengan djongos atau koeli, soedah berani mengatakan ia tahoe akan bahasa Indonesia.Siapa jang soedah mendengar sepatah doea patah kata “Riau” ia soedah berani menoelis dalam bahasa Indonesia!

 Orang tjermat mendjagai bahasa Belanda. Sedikit sadja salah seodah ditertawakan. Orang amat tjermat mendjaga bahasa Arab. Sampai kepada titik jang kecil diselidiki, di[l]afalkan. Salah sedikit sadja boenjinja, soedah dikatakan “batal” atau tidak ada faedahnya.

Dan ba[ha]sa Indonesia?

Hampir tidak  ada orang jang memperhatikan. Orang Indonesia diam sadja kalau orang lain memperkoetak katikkan bahasa Indonesia. Tidak ada protes! Malahan sebaliknya. Dengan kemegahan anak Indonesia sendiri meniroe orang yang meroesakkan ba[ha]sa Indonesia. Berapa banyak toekang pemberi kabar atau menoelis soerat kabar jang meniroe niroe ba[ha]sa “Melajoe Tionghoa” dalam toelisannja.

Oentoenglah journalisten Indonesia jang soedah boleh diseboetkan journalist ada perduli, tetap mempertahankan kebaikan bahasa Indonesia itu.

Perubahan lanskap gaya berbahasa lisan orang Indonesia sekarang memang cukup dahsyat. Kaum muda produk Zaman Instagram tidak lagi bisa membedakan gaya bahasa formal dan informal. Lihatlah dalam diskusi-diskusi ilmiah, pesertanya memakai gaya berbahasa dong, sih, gue, lu, nggak, deh, gitu tanpa tergigit lidah. Mereka tidak bisa lagi membedakan gaya berbahasa Indonesia yang formal dan yang informal. Kadang-kadang kita bosan mendengarkan gaya berbahasa informal berdialek Jakarta dipakaikan dalam diskusi-diskusi ilmiah.

Catatan dalam surat kabar Hang Toeah 84 tahun yang lalu itu mungkin perlu kita renungkan: kalau bahasa Indonesia dirusakkan, “hampir tidak  ada orang jang memperhatikan. Orang Indonesia diam sadja […]. Tidak ada protes! Malahan sebaliknya. Dengan kemegahan anak Indonesia sendiri meniroe orang yang meroesakkan ba[ha]sa Indonesia.” Sampai sekarang, memang belum terdengar kritik atau diskusi mengenai meruyaknya gaya berbahasa taik ala Ahok yang merusakkan bahasa Indonesia ini di dan oleh Badan Bahasa, lembaga yang seharusnya berada di garis depan untuk menjaga mutu bahasa Indonesia.

Dan lihatlah sekarang: “Berapa banyak toekang pemberi kabar [wartawan] meniroe niroe ba[ha]sa “Melajoe Tionghoa” dalam toelisannja. Tentu saja hal ini tidak berlaku pada semua surat kabar, tetapi lebih pada koran-koran kuning. Dan berapa banyak pula orang Indonesia sekarang yang ikut-ikutan gaya berbahasa seperti yang dipraktekkan Ahok.

Apakah perubahan gaya berbahasa orang Indonesia yang cenderung mengekspresikan kekasaran ini wajar dan alamiah? Terserah kepada Anda untuk menilainya. Akan tetapi, baik Anda maupun saya, mungkin tidak akan bergembira jika generasi anak cucu kita di belakang hari nanti menjadikan gaya berbahasa seperti yang dipakaikan Ahok atau gaya berbahasa tokoh film-film murahan Amerika yang dibanjiri kata ‘fucking’ sebagai ‘pakaian’ sehari-hari mereka.

* Esai ini diterbitkan di harian Batam Pos (laman “Jembia”) edisi Minggu, 20 Maret 2016 | Foto: Mohak @mainhorse on Twitter

Advertisements

Responses

  1. […] Mengenai bentuk “taik” adalah varian dari “tahi” dan varian ini dianggap sebagai sesuatu yang jauh lebih kasar dari “tahi,” ada tulisan yang menarik tentang ini, yang menurut saya di bagian pembukaan tulisannya menurut saya terlengkapi dengan endnote ini, yang ditulis oleh Suryadi dan terbit di Batam Pos, Minggu, 20 Maret 2016 dengan judul “Bahasa Taik.” […]

  2. Pak apakah tionghoa ini termasuk melayu?

  3. Tidak, Mas Arief. Kecuali mungkin yang peranakan. Tapi dalam banyak kasus, jarang orang Cina kawin dengan orang Melayu (ada satu dua), tapi dengan etnis lain (Jawa, Batak misalnya) cukup banyak. Saya kira ini karena masalah agama: orang Cina/Tionghoa umumnya beragama Kristen, sementara orang Melayu identik dengan agama Islam. Sudah sejak dulu Bahasa Melayu-Tionghoa disebut ‘Bahasa Melayu Rendah’ lantaran struktur dan ciri2 leksikal dan gramatikalnya memang lain dari ‘Bahasa Melayu Standar’. Ini buka berarti merendahkan atau rasis. Dalam pandangan studi bahasa (dulu, bahkan juga sampai kini) selalu ada pandangan dominan bahwa dalam masyarakat penutur bahasa tertentu ada yang dianggap ‘pure dialect’, misalnya kalau di Sunda: Dialek Priangan; di Jawa: Dalek Solo; di Minangkabau: dialek Agam; dan di daerah Melayu Riau dan sekitarnya: di Pulau Penyengat/Tanjung Pinang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: