Posted by: niadilova | 16/03/2016

Kilas Balik: Untuk diketahui: Irian dulu bernama “Djanggil” dan “Dwipantara”

Irian dulu bernama “Djanggil” dan “Dwipantara”Negara Indonesia bernama Sriwijaya berkuasa kira-kira sejak abad ke-6 dan runtuh kira-kira pada penghabisan abad ke-12.

Sudah sejak permulaan abad ke-8 pulau Irian dan Maluku masyhur dan dikenal sebagai daerah tempat terdapat burung kakatua dan diduduki [didiami] oleh orang asing berambut berintik.

Pulau Irian dinamai Djanggil, suatu perkataan yang dikenal juga dalam bahasa Jawa Lama.

Dianggap mungkin, bahwa lukisan orang berambut berintik yang terdapat di candi Borodbudur, dibuat kira-kira pada tahun 800, ialah orang Indonesia dari Irian atau Maluku.

Daerah Djanggil atau Irian inilah, dalam zaman Sriwijaya dengan tegas disebut dalam perpustakaan Indonesia sebagai bagian Daerah Indonesia yang bernama Nusantara.

Dalam zaman kerajaan Majapahit, yaitu dari tahun 1292 sampai kira-kira1521, Irian adalah bagian dari daerah Indonesia, yang dinamai DIWANTARA sebagai salinan dari perkataan Nusantara. Bagaimana batas-batasnya tanah Nusantara pada pertengahan abad ke-14, dapatlah dibaca dalam buku sejarah yang selesai dikarang pada tahun 1365 oleh pujangga Prapanca, yaitu ketika Prabu Hayam Wuruk memerintah dan setelah ahli politik Indonesia Gajah Mada meninggal dunia setahun sebelumnya.

Setelah menyebut daerah yang terhitung masuk Indonesia Barat dan Tengah, maka dapatlah dibaca dalam kidung XIV persatuan Daerah terhadap Maluku dan Irian sebagai bagian Indonesia Timur.

Kidung Prapanca ini berisi nama-nama daerah Indonesia, yaitu Bantayan atau Bonthian (sekarang [Bantaeng; Syd]), Luwuk atau Luwu, Udamakatraya atau pulau Talaud, Makasar, Buton, Banggawi atau Kunir atau Pulau Kunyit, Galiyao atau Kangean, Salaya atau Seleier, Sumba, Solot atau Solor, Muar atau Honimua atau Saparua, Wandan atau Bandan [Banda; Syd], Ambawan ialah Ambon, Maloko atau Maluku dan Ternate.

Salinan atau kutipan kidung Nasional itu menyatakan dengan jelas bahwa Irian Barat zaman Majapahit dan Sriwijaya ialah sebagian dari wilayah tanah air Indonesia yang tak dapat dipisah-pisahkan, terutama disebutkan sebagai bagian pulau-pulau di lingkungan Maluku dan Indonesia Timur.

Sesudah kedua kerajaan tersebut, ialah Sriwijaya dan Majapahit runtuh, bermulalah sejarah baru, yang meriwayatkan perkembangan kekuasaan Irian Barat di benua Asia. Ekspansi Eropa barat ini menuju juga ke Indonesia dan mengenal pulau bagian Indonesia Timur.

Pertemuan Eropa dan Asia pada permulaan abad ke-16 berakibatkan mulai terbentuknya perhubungan kolonial antara beberapa negara Eropa Barat dengan Indonesia.

Bagaimana[pun] juga perubahan-perubahan kekuasaan ekonomi dan politik terhadap Indonesia dengan berakibat membagi-bagi daerah Indonesia di bawah pemerintahan beberapa negara asing, tetapi selalu ternyata, baik langsung atau tidak langsung, bahwa Irian Barat adalah bagian integral wilayah bangsa Indonesia.

Pada ketika kerajaan Majapahit sedang turun kekuasaannya, di tanah Eropa telah timbul perselisihan tentang batas pembagian Daerah di muka bumi antara Spanyol dan Portugal.

Dalam bulan Mei tahun 1493, kedua negara itu memajukan tuntutan kolonial terhadap tanah-tanah yang baru dijumpai dengan memakai perantaan Paus Alexander VI.

Ditentukanlah bahwa daerah Indonesia di sebelah Barat garis Bonthian menjadi daerah kekuasaan Portugis dan daerah Indonesia yang di sebelah timurnya, termasuk Irian, menjadi [wilayah] kekuasaan Spanyol.

Tetapi dengan ini pun persengketaan antara kedua negara itu tidak selesai, karena orang-orang Portugis telah mengetahui juga adanya Irian itu, yang diberi nama Ilha de Papoia.

Demikianlah, sejak perjanjian KMB, yaitu sejak tahun 1494 sampai 1949, tidak putus-putusnya persengketaan politik terhadap tanah air Irian Barat oleh nafsu berkespansi Eropa Barat menduduki Indonesia.

(S.I) {6}

***

Sumber: Pesat. Mingguan Politik Ekonomi & Budaja, No. 7, TAHUN XI, 16 FEBRUARI 1955: 6. Ejaan disesuaikan. Angka dalam tanda “{ }” merujuk pada halaman asli majalahnya. Kata “Djanggil” ditulis sebagaimana aslinya. Kata-kata dalam tanda “[ ]” merupakan tambahan dari penyalin. Ilustrasi juga ditambahkan oleh penyalin (diambil dari: jejakislam.net).

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: