Posted by: niadilova | 07/03/2016

Minang Saisuak #254 – Tamar Djaja: penulis dan wartawan hebat (1913-1984)

Tamar Djaja.JPG

Tinta kalamnya tak pernah kering. Tulisannya berserak bagai buah rambai dilambuik’an di berbagai harian dan berkala (umum dan Islam) yang terbit di Indonesia antara tahun 1940-an sampai 1970-an. Demikian juga buku-bukunya, baik fiksi maupun non fiksi. Keprolifikannya dalam menulis setanding dan sebanding dengan Abdul Rivai, M. Amir, Adi Negoro, dan Hamka. Tapi namanya agak dilupakan, dan….aneh… belum terlihat ada mahasiswa kita yang banyaknya bagai gelapung masak hanyut di sungai itu untuk meneliti riwayat hidup dan pemikirannya secara serius.

Pria yang saya maksud adalah Tamar Djaja, yang fotonya semasa masih setengah baya (di tahun 1953) kami turunkan dalam rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini. Wartawan dan penulis hebat putra Minangkabau ini perlu diperkenalkan kepada generasi kini, karena selalu ada pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kehidupan para intelektual kita di masa lalu.

Paling tidak ada lima kategori karya-karya tulis Tamar Djaja: 1) tulisan-tulisan tentang politik; 2) tulisan-tulisan tentang Islam; 3) karya fiksi yang lebih bersifat non Balai Pustaka (Roman Sumatera); 4 [Oto]biografi sejumlah pemimpin/intelektual Indonesia [di Indonesia, beliau termasuk pionir di bidang ini]; 5) tulisan-tulisan yang bersifat umum mengenai budaya dan kehidupan keluarga.

Demikianlah umpamanya, Tamar menulis Pusaka Indonesia: Orang-orang Besar Tanah Air di awal tahun 1950an dan 1960-an (2 jilid), sebuah seri tentang puluhan tokoh penting dalam sejarah Indonesia pra merdeka dan setelah merdeka, yang mengalami berkali-kali cetak ulang. Ia juga menulis riwayat hidup dan kiprah politik banyak tokoh lain: tentang A. Hassan, M. Natsir, Bung Tomo, Rohana [Ruhana?] Kudus, Trio komunis Indonesia (Tan Malaka, Semaoen dan Alimin), Abang Betawi, Sukarno dan Hatta, ketua Masjumi Dr. Soekiman Wirjosandjojo, dll.

Akan tetapi bila orang mengingat masa jaya roman-roman Sumatera, dengan berbagai serinya yang sangat menarik hati itu (‘Roman Pergaoelan’; ‘Loekisan Poedjangga’; ‘Roman Indonesia’; ‘Seri Merdeka’; ‘Doenia Pengalaman’; ‘Soeasana Baru’; dll.) yang terbit di beberapa kota Sumatera (Medan, Bukittinggi, Padang, dll.), juga seri-seri sejenis ini yang terbit di Jawa (Batavia, Solo dan Malang),  maka tentulah belum lengkap rasanya bila kita tidak menyebut nama Tamar Djaja.  Untuk korpus ini ia telah menulis lebih dari selusin judul, sebutlah misalnya Journalist Alamsjah, Sebabnja saja bahagia…!, Si Bachil, Dari Desa ke Kota, Samora Gadis Toba,  Iboe jang Loetjoe, Tersesat, dan Berontak!!!: Menentoekan Nasib  yang terbit tahun 1940an dan 1950an untuk sekedar menyebut beberapa judul. Unsur penting dalam roman-roman Sumatera adalah moral nasionalisme yang terkandung di dalamnya; banyak penulisnya adalah orang-orang yang aktif di dunia pergerakan.

Alia Fathiyah yang mengaku sebagai cucu Tamar Djaja menulis di Kompasiana: Tamar Djaja (kakeknya) lahir di Sungai Jariang, Bukittinggi, pada 12 Maret 1913. Tidak disebutkan riwayat pendidikannya. Tapi sejak 1930 sudah mulai masuk dunia tulis-menulis. Selanjutnya Alia menulis (diedit oleh Suryadi): “Beliau aktif dalam gerakan pemuda dan partai politik, antara lain Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII), partai politik Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), dan menjadi anggota pengurus pusat kedua organisasi tersebut. Tamar Djaja juga pernah menjadi pemimpin majalah HPII Pahlawan Muda dan majalah PERMI Keris di Bukittinggi. Tahun 1939-1949 menerajui Penerbit Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi [lihat: Sudarmoko, “Revisiting a private publishing house in the Indonesian colonial period: Penjiaran Ilmoe”, Indonesia and The Malay World 38(111), 2010: 181-216]. Tahun 1950 memimpin majalah Kursus Politik bersama M. Dalyono di Jakarta. Tahun 1950-1953 memimpin majalah Suara Partai Masjumi. Tahun 1953-1954 memimpin majalah Mimbar Agama dan majalah Penuntun, keduanya diterbitkan oleh Departemen Agama RI. Tahun 1957 memimpin majalah Daulah Islamiyah  dan menjadi ketua umum Himpunan Pengarang Islam. Tahun 1968 dianugerahi oleh Pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan. Tamar Djaja sudah menulis hingga 155 buah buku.”

Perlu ditambahkan di sini bahwa pada tahun 1950-an Tamar Djaja juga menyokong partai Masjumi (Madjelis Sjuro Muslimin Indonesia). Tulisan-tulisannya mengenai ide Islam dan kenegaraan dimuat dalam beberapa berkala dan majalah yang bercorak Islam yang terbit pada masa itu, antara lain Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal yang terbit di di Bandung dan tentunya juga dalam majalah-majalah yang dipimpinnya, seperti disebutkan di atas.

Cukup jelas lewat karier dan kiprah literasinya di dunia kepenulisan bahwa Tamar Djaja adalah tipikal intelektual Minangkabau yang sesungguhnya: islami, nasionalis, sekaligus kosmopolit.

Menurut Wikipedia yang agak pelit informasi mengenai tokoh kita ini, Tamar Djaja wafat tahun 1984 (tidak disebutkan tempatnya, tapi tampaknya di Jakarta, seperti sedikit dapat dikesan dalam tulisan Alia Fathiyah yang dirujuk di atas). Semoga ada yang berminat untuk meneliti lebih dalam tokoh wartawan dan penulis putra Bukitttingi ini.

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 6 Maret 2016

(Sumber foto: Majalah Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 46, Tahun Ke VII, Maret 1953: 45).

 

Advertisements

Responses

  1. Terima kasih atas bantuan Adinda Nofend mengunggah “Minang saisuak #254” ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

  2. […] Ketika menulis ini pun, penulis masih merasa ada keraguan; apa yang penulis sampaikan di sini mungkin saja baru bersifat tentatif. Hal itu karena sumber terawal yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang Inyiak Sheikh Ibrahim Musa dan Thawalib Parabek masih belum kunjung datang. Pusaka Indonesia, judul buku tersebut. Ia adalah otobiografi tokoh-tokoh pemimpin dan intelektual bangsa terawal republik ini yang dikumpulkan oleh Tamar Djaja. Menurut Bapak Suryadi Sunuri, seorang dosen dan peneliti urang awak di Leiden University, Tamar Djaja merupakan pionir penulisan otobiografi di Indonesia. Lebih lanjut tentang Tamar Djaja bisa dibaca di sini. […]

  3. Apakah buku PUSAKA INDONESIA karangan Tamar Djaja tidak ada di Perpusna atau perpustakaan2 di Singapura atau Malaysia, Sdr.?

  4. Reblogged this on Bukit Tinggi Heritage and commented:
    Tamar Djaja

  5. Hallo Pak Suryadi salam kenal. Saya Alia Fathiyah cucu alm Tamar Djaja, saya senang sekali Pak Suryadi menulis soal apak, kakek saya. Saya memang sedang mencari informasi soal beliau, informasi yang saya miliki minim sekali. Jika Pak Suryadi memiliki catatan, misal soal disertasi atau apapun, saya sangat berterima kasih jika berbagi, Salam

  6. Om awak kopi informasi ko di blog pribadi wak : amboanakminang.blogspot.com
    Mohon ijin dan semoga si om ndak berang

  7. Silakan Padja Tjiloeah, asal disebutkan sumbernya, he he. Siapa nama Padja Tjiloeah yang sebenarnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: