Posted by: niadilova | 03/03/2016

Visual Klasik Nusantara #20 – Sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga: Abdoel Rachman Muazzam Sjah II (1911)

Sultan terakhir Kerajaan Riau-Lingga

Catatan: Abdoel Rachman Muazzam Sjah II “ditoroenkan [dimakzulkan] dari atas tachta keradjaan” karena “tiada menoeroet perdjandjian sebagaimana jang telah diboeat dengan Goevernement dan tiada memperhatikan keadaan negeri jang bolēh mendatangkan kebaikan bagi boemi poetera.” (Bandera Wolanda No.76, 1911: 4-5).  Tampaknya yang dimaksud dengan “perdjandjian” dalam kutipan itu adalah Kontrak Politik 1905 yang antara lain mewajibkan Kerajaan Riau-Lingga untuk “mengibarkan bendera Belanda di wilayah Kerajaan Riau-Lingga sebagai simbol kekuasaan dan kedaulatan Belanda” dan larangan “agar Kerajaan Riau-Lingga tidak menjalin kerja-sama dengan bangsa atau negara atau kekuatan manapun selain Belanda” (Ahmad Dahlan, PhD, Sejarah Melayu, Jakarta: KPG, 2014:356). Dikatakan pula bahwa “Soeltan ini boekan bangsa Melajoe betoel akan tetapi asalnja bangsa Boegis dan toeroenan dari Radja-Radja Moeda Rouw.” (op. cit.) Sejarah telah mencatat bahwa telah terjadi konflik antara Sultan Abdoel Rachman Muazam Sjah II yang naik tahta tahun 1885 itu dengan Batavia, sehingga beliau dipaksa mundur, kemudian mengasingkan diri ke Singapura. Akibat pemakzulan itu, tahta Kerajaan Riau-Lingga menjadi kosong karena “Poetera Soeloeng” Sultan Abdoel Rachman, Mahmud, “poen tiada diterima akan menggantikan ajahnja.” (op cit.)  Seperti telah dicatat dalam buku-buku sejarah, itulah akhir keberadaan Kerajaan Riau-Lingga. Upaya-upaya politik dan diplomatik yang dilakukan oleh kaum bangsawan Riau-Lingga  untuk mempertahankan eksistensi kerajaan itu tidak berhasil.

Yang menarik dari gambar ini adalah kopiah yang dipakai oleh Sultan Abdoel Rachman. Tampaknya itu adalah sejenis kopiah beludru yang kemudian menjadi salah satu identitas Indonesia karena Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, selalu memakai kopiah seperti itu dalam setiap penampilan resminya, baik di dalam maupun luar negeri. Lebih jauh mengenai hal ini, lihat esai saya “Peci Sultan  Kerajaan Riau-Lingga’ terakhir (https://niadilova.wordpress.com/2016/01/11/peci-sultan-kerajaan-riau-lingga-terakhir/).

(Sumber foto: Surat kabar Bandera Wolanda No.76, 1911: 4)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: