Posted by: niadilova | 02/03/2016

Kilas Balik: JAKARTA Th. 1947

Diceritakan oleh: ROSE EDUARD

Kilas Balik JAKARTA Th. 1947Keadaan yang menyesakkan dada seperti beberapa bulan sesudah proklamasi tidak ada lagi. Pengeroyokan dan pembersihan sudah lalu. Tetapi penangkapan secara terang-terangan atau menculik masih berlaku sekali-dua kali. Pertempuran jalan (straat gevechten) antara pemuda-pemuda Indonesia dengan tentara Serikat tidak ada lagi. Tetapi straatgevechten ini kini merupakan garis pertahanan yang nyata dan setiap waktu [bisa]  berubah jadi front dan stellinggevechten. Walau demikian, kota Jakarta tak ubahnya dengan kota Jakarta dua abad yang lalu, masa Kompeni melebarkan daerahnya dengan kekuatan bangsa Indonesia sendiri.

Jakarta sejak dulu mempunyai pengalaman yang romantis, naik turun dalam gelombang jaman. Rupa-rupanya hingga saat ini ia masih harus mendapat pengalaman hebat dan tak ’kan habis-habisnya.

Tahun 1947……

Kalau kita langkahkan kaki ke jalan raya, pemandangan pertama yang tampak oleh kita ialah serdadu dari angkatan perang Belanda. Bila kulitnya hitam, tertawanya banyak dan mukanya merah-segar kehitam-hitaman sebagai tanda ucapan terima kasih pada kelepasannya dari kemelaratan di jaman Jepang. Kalau kulitnya kuning dan bermata sipit, sinar mukanya suram dan bengis. Mereka adalah alat kapitalis-kapitalis Tionghoa yang ditempatkan dalam angkatan perang Belanda, suatu tipu muslihat untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan kapitalis-kapitalis itu dalam masa pergolakan politik dan militer sekarang ini. Dan kalau kulitnya putih, mereka memanggul tas kecil atau besar, diiring-iringkan anak-anak Tionghoa. Kalau [Belanda] totok ini sampai di sudut jalan, tasnya dibuka. Anak-anak Tionghoa itu merubung melihat barang-barang yang dikeluarkan dari tas itu. Macam-macam minuman keras, rokok kalengan, obat-obatan. Tawar-menawar pun menyusul. Dengan tas kosong totok-totok itu masuk membeli buah-buahan dan tembakau molek buatan Kedu (?)

Jalan-jalan yang tak terurus sama sekali di jaman Jepang sebagian telah diperbaiki oleh pihak kita bersama-sama dengan pihak Belanda. Kebanyakan yang mengerjakan ialah anak-anak kecil yang murah tenaga kerjanya.

Rumah-rumah sebagian besar diisi oleh lebih dari satu keluarga. Untuk mendapat rumah sewaan orang harus membayar uang-kunci antara R[p] 200,- – R[p] 5000,-, merah atau uang putih. Tetapi kebanyakan huruf R [rupiah] itu diganti dengan F [gulden].

Masalah yang kita hadapi di Jakarta ini umumnya hanya dua: sosial dan ekonomi. Kedua-duanya mengalami kesulitan. Tetapi kita belum tahu lagi apakah ini sudah sampai pada puncak kesulitannya. Di mana-mana terdengar keluh kesah pegawai: gaji rendah, pembagian [pangan] kurang lengkap dan dengan harga tinggi pula. Di jalan-jalan besar, pemandangan seperti dalam jaman Jepang berulang lagi, orang menggelimpang[an] mati kelaparan. Pengemis kembali jadi beribu-ribu [banyaknya], berkeliaran mencari sisa roti dari tangsi-tangsi. Anak-anak kecil bergelandangan, sonder pendidikan, dengan memanggul beban penderitaan lahir dan batin. Anak-anak ini, mungkinkah kelak berguna untuk tanah airnya setelah begitu lama mengalami begitu banyak penderitaan? Kita sangsi bila perjuangannya di kemudian hari cuma sampai pada lapangan seksuil belaka.

Orang yang mati [yang] tak terurus di Jakarta, bila dibandingkan lebih banyak, atau setidak-tidaknya seimbang dengan korban perjuangan pemuda-pemuda kita selama mempertahankan Jakarta. Pernah tampak di Tanah Abang dalam jam yang sama diusung sepuluh mait [mayat] ke tempat yang penghabisan [kuburan].

Dari sini kita bisa melihat bahwa sesudah kekalahan pihak rakyat dalam soal pertahanan kini, perjuangannya dalam lapangan sosial dan ekonomi serasa tinggal nafasnya saja. Sonder tenaga, sonder semangat. Sudah bolehkan ini disebut kekalahan yang kedua?

Cobalah berjalan-jalan antara jam 07:00 dan 11:00 pagi di Jakarta kota. Alangkah banyak tubuh yang cokelat dirujaki penyakit kulit, bergulung dalam selimut karungnya di bawah tiang-tiang, di pendapa gedung-gedung kosong. Setengah di antara mereka kurus kering, dan [mereka adalah] orang[-orang] lapar [yang] tak mempunyai tanah air. Di antara mereka ada juga yang dipungut oleh Kartalegawa [Presiden Negara boneka Belanda Pasundan].

Salah seorang juru kunci kuburan berkata pada saya: di jaman Jepang, mereka yang mati kebanyakan gemuk oleh beri-beri, tetapi yang mati sekarang kurus kering seperti sebilah papan dan kebanyakan karena rusak [tubuh] dalamnya, dada….

Dokter tidak kurang di Jakarta, tetapi jangan disangka bahwa di antara mereka tidak ada yang meletakkan hidupnya di atas air mata dan kesakitan rakyat. Barangkali tuan heran mendengar berita, di depan rumah seorang dokter terguling mait seorang yang kena penyakit borok, tidak terurus. Hanyalah karena ia tidak mempunyai uang untuk pergi kepada dokter.

Nilai Uri [Uang Republik Indonesia] tidak pernah stabil, terus berkicik ke bawah. Tambah lama tambah besar kecurigaan rakyat pada pedagang-pedagang uang. Pedagang-pedagang uang inilah yang harus bertanggung jawab pada kesengsaraan pegawai dalam perjuangannya dan kematian beribu-ribu rakyat yang tak mampu makan, tak mampu membeli obat.

Sebagai gambaran dari harga uang Uri, barangkali ada baiknya {8} saya katakan bahwa untuk membeli [sebutir] telur ayam orang harus membayar R[p] 1,50, untuk sebungkus rokok Daulat dari 20 batang R[p] 7,-. Keadaan yang demikian untuk pegawai bukan suatu keadaan yang menyenangkan, jauh di bawah garis yang normal. Apalagi kalau kita ingat bahwa gaji pegawai kantor paling rendah R[p] 30,- sebulan yang berarti [hanya] 4,5 bungkus rokok Daulat. Keadaan seperti ini harus segera diperbaiki dengan jalan memperbanyak pembagian [barang-barang kebutuhan sehari-hari] dan dengan harga yang serendah-rendahnya.

Sebagai akibat dari jatuhnya Uri, semangat pegawai pun kendor. Kalau kita datang ke sebuah kantor Republik, tak jarang kita dengar percakapan mereka tentang catut. Dan bila dengan secara berbisik-bisik, [itu] tentu soal buruk. Terutama bagi pegawai-pegawai yang mendapat pesawat tilpun, sehari-harian mereka mencari perhubungan tentang catutan. Tak jarang pula pekerjaan yang bisa diselesaikan jam itu, diperlamakan hingga berhari-hari, kadang-kadang malah berminggu-minggu.

Di Jakarta, seperti di daerah-daerah Republik, juga ada dua macam kantor, yakni kantor yang sejak dahulu sudah ada, seperti kantor pos, kantor pajak, kantor listrik dan gas, [dan]  jawatan kereta api. Kedua, kantor baru yang adanya baru dalam jaman kemerdekaan ini, seperti [kantor] penerangan, kementerian-kementerian, dll. Dalam kantor-kantor lama pegawainya tua-tua, pegawai dari jaman Belanda melalui jaman Jepang ke jaman merdeka. Sikapnya pun sikap lama dan dengan gaji menurut aturan lama pula, artinya tak cukup untuk hidup sederhana, ditambah dengan ongkos kesehatan dan kegembiraan keluarganya. [Sisi] baiknya, dengan gembira pegawai-pegawai ini teguh pada pendiriannya, untuk republik. Pengorbanan mereka terlalu besar, kadang sampai membiarkan anggota keluarganya masuk kubur dengan tak diobati, suatu korban yang sia-sia, atau tak mengirimkan anaknya ke sekolah lanjutan. Sebaliknya, di kantor-kantor baru, yang tampak sebagian besar ialah pemuda-pemuda yang baru lepas dari sekolah, dengan semangat yang kuat dan nyata dan sedikit banyaknya turut mengikuti suasana politik pada waktu ini. Tidak jarang mereka ini mendapat gaji jauh lebih banyak dari pegawai-pegawai yang telah dinas berpuluh-puluh tahun di kantor-kantor yang sama.

Dalam kehidupan pegawai-pegawai ini tidak jarang terdengar perkataan: “Si A hari ini keluar, lari ke pihak sana. Tetapi tidak jadi apa, kami yakin jiwanya tetap jiwa republik. Kita hanya menanti saatnya saja.” Perkataan itu hanya sampai di situ saja. Tapi berulang-ulang diucapkan orang.

Sejak pecahnya pertikaian antara tentara Inggris dengan para pemuda,  bangsa Indonesia masih malu bekerja pada Nica, karena ini dianggapnya melanggar keamanan pemerintah. Tetapi waktu mereka terdesak oleh kehidupan dan lari ke pihak sana, tempat-tempat penting sudah dipegang oleh [Belanda] totok atau Indo, dan orang-orang baru ini cuma boleh menjabat pangkat yang remeh-temeh saja.

Seorang kopral marine Belanda berkata kepada saya: “Walaupun saya mengetahui banyak tentang berbagai mesin, tetapi dalam menjalankan pekerjaan dinas marine, saya hanya mau jadi sopir saja. Sebaliknya, sekiranya saya mendapat kesempatan menyumbangkan tenaga pada Republik, saya bersedia mencurahkan segala kepandaian saya.” ………….

Harga barang makanan mahal bila dibandingkan dengan harga di Makassar. Dengan sepintas lalu orang bisa mengetahui sebabnya ialah karena perbandingan antara barang dan uang tidak cocok. Uang terlalu berlebih-lebihan di Jakarta. Lebih kurang sepuluh milyun uang Nica. Bahan makanan cukup banyak di Jakarta. Saban hari terlihat iring-iringan kerbau yang didatangkan dari daerah pedalaman secara penyelundupan. Mungkin kerbau ini {9} diangkut dengan perahu dan diturunkan di pesisir sebelah timur laut Jakarta. Inilah pula sebabnya mengapa daging murni (bukan blik-blikan) tetap banyak di Jakarta.

Kalau kita berjalan-jalan di jalan-jalan besar, akan kita lihat barisan-barisan penduduk di depan toko distribusi Belanda. Di sekitar barisan ini sudah siap beberapa tengkulak menadah barang-barang yang baru turun dari toko itu. Tengkulak-tengkulak ini membeli dengan harga dua kalinya, dan diserahkan kepada toko-toko dengan harga tiga kalinya. Toko atau warung menjual kepada pembeli dengan harga empat kalinya.

Tetapi pada waktu yang akhir-akhir ini terdengar kabar desas-desus bahwa distribusi dari pihak Nica akan dikurangi, berhubung dengan merosotnya deviezen. Sebaliknya, perlahan-lahan tetapi nyata Republik mulai melancarkan pembagian [distribusi barang-barang] untuk rakyatnya. Caranya membagi diperbaiki, [se]hingga mengurangi kesempatan melakukan kecurangan seperti semasa jaman Jepang. Sikap yang demikian patut dipuji, apalagi kalau kita ingat bahwa pada masa ini yang penting bukan besarnya gaji pegawai, tetapi baiknya pembagian barang-barang yang dibutuhkan dalam [kehidupan] sehari-harinya.

Penyakit “sogokan” sebagai akibat dari kekalutan keadaan keluarga merajalela di mana-mana, baik di kalangan Republik maupun Belanda. Karena ini pula, tak begitu menyakitkan hati kalau dikatakan bahwa pemerintahan Jakarta ini impoten. Bukan saja karena Republik tak mempunyai tentara dan polisi, tetapi juga terutama ialah [karena] sukarnya penghidupan perseorangan. Pihak Belanda, seperti dulu, hanya bertindak berat sebelah dan cuma aktif dalam melakukan penangkapan-penangkapan belaka.

Kemudian, kalau kita naik trem kota, pasti akan kita lihat penumpang yang pura-pura tak melihat tukang karcis, atau sebaliknya, tukang karcis pura-pura tak tahu kalau ia sudah menerima uang pembeli karcis dan tidak menyerahkan karcis itu pada penumpang. Yang lebih buruk lagi, pernah saya melihat tukang karcis menerima uang Nica dan dengan sendirinya melanggar prinsip keuangan DKRI.

Soal pembangunan di Jakarta masih merupakan pertanyaan besar. Mungkinkah ini dijalankan? Memang ini mulai dijalankan, tetapi [kita] akan bergeleng-geleng kepala kita kalau melihat tak sedikit jam-jam umum yang tak cocok dengan waktunya. Ada yang kecepatan hingga 1 jam, setengah jam atau mati sama sekali. Malah pada salah sebuah stasiun trem kota, yang seharusnya menyediakan jam yang boleh dipercaya malah membohongi umum, karena telat tiga perempat jam. Barang-barang kecil itu pun patut diperhatikan.

Soal ketenteraan susah disebutkan. Di kalangan Belanda sendiri sebagian tak menyukai pemakaian kekerasan. Malah ada salah seorang serdadu Belanda yang baru datang dari Surabaya berkata bahwa kekejaman Belanda di Indonesia ini adalah sebagai alamat keruntuhannya. Ramalan ini, katanya selanjutnya, sudah berulang-ulang dibuktikan dalam sejarah kemanusiaan. Di Surabaya misalnya, setengah batalion TRI [Tentara Republik Indonesia] yang tertangkap dipakai oleh Belanda sebagai sasaran latihan menembak. Hanya seorang saja yang dibiarkan hidup, hanyalah karena ia bekas warga Marine Hindia Belanda. Ini bukan contoh peri kemanusiaan yang baik. Sebaliknya, merupakan bahan peledak yang akan memperhebat rasa permusuhan.

Peristiwa pengecilan tentara Indonesia menimbulkan berbagai-bagai akibat di Jakarta. “Ontevreden” [rasa tidak puas] yang merasa tak dihargai jasanya, lebih-lebih karena tempat tinggalnya di Jakarta, oleh desakan kehidupan dan kebimbangan pendirian sebagian masuk barisan inlander Nica. Tuan tak perlu heran kalau saya berkata bahwa ada seorang mayor TRI sekarang menggabungkan diri di  batalion XI. Ini kejadian [yang] sangat memalukan bagi bangsa Indonesa seluruhnya. Dan peristiwa seperti itu ditambah lagi dengan insiden Krawang. Namun keadaan-keadaan yang buruk itu tak akan mengecilkan hati, sebab Indonesia kaya raya, dalam hal bahan gubal dan tenaga orang. Inilah yang menguntungkan Republik pada waktu ini. Seandainya beberapa ribu rakyatnya lari berpihak ke Belanda, tak perlu Republik kuatir akan terkatung-katung dalam perjuangannya seperti halnya dengan Vietnam. Kekayaan Indonesia mendorong dunia internasional membantu Republik. Ini tak bisa disangsikan lagi.

Jakarta waktu ini merupakan pusat kekuatan seluruh angkatan perang Belanda yang ada di Indonesia. Dari sini ia akan mengembangkan sayap ke daerah-daerah onderneming yang terkaya di seluruh Indonesia, sebab cuma penghasilan onderneming sajalah yang bisa menolong Belanda dari hutangnya, dari keruntuhannya. Di Priangan terpendam kekayaan alam: kina, karet, teh, dan bahan makanan.

Dari Jakarta Belanda membagi-bagikan dan mengumpulkan tentaranya. Jakarta [adalah] jantung penyerangan Belanda. Mungkinkah Indonesia–Belanda mencapai kerjasama dengan jalan damai? Atau pertumpahan darah? Bila pertempuran terpaksa [dilakukan], terpaksa terjadi juga, Jakartalah tempat di mana Belanda akan tercampak ke Laut Jawa….

(Akan disambung) {2}

***

Sumber: Mingguan Sadar No. 7, Djum’at, 20 Djuni 1947, hlm. 8-9, 2. (Sambungan  berada di halaman yang lebih awal, ini mungkin karena kesalahan tata letak). Disebutkan bahwa tulisan ini akan disambung (dalam edisi Sadar berikutnya), tapi sambungannya belum saya temukan karena seluruh edisi majalah ini tidak lengkap tersedia di Leiden University Library, tempat artikel ini saya temukan.

Ejaan disesuaikan. Angka dalam tanda “{ }” merujuk pada halaman asli majalahnya. Kata-kata dalam tanda “[ ]” merupakan tambahan dari penyalin. Ilustrasi juga berasal dari teks aslinya (hlm. 9).

Catatan: Jadi,  catatan Rose Eduard tentang situasi di Jakarta ini dibuat sekitar tiga bulan setelah naskah Perundingan Linggardjati disetujui secara resmi oleh pihak Belanda dan Indonesia pada 25 Maret 1947. Sebagaimana telah dicatat dalam sejarah, kesepakatan itu akhirnya dilanggar sendiri oleh Belanda dengan melakukan Agresi I dan 2 yang menimbulkan banyak korban berjatuhan di pihak Indonesia dan juga tak sedikit di pihak Belanda. Sejarah selalu mencatat tentang ‘mulut pencong’ dan tipu-tipu para politisi dan penguasa penuh nafsu duniawi yang tak penah merasa bersalah dan malu melecehkan martabat sesama manusia. Dan…prediksi Rose Eduard, penulis artikel ini, akhirnya menjadi kenyataan. Belanda mengalami persis seperti apa yang dibayangkannya dalam paragraf akhir tulisannya ini: “Bila pertempuran […] terpaksa terjadi juga, Jakartalah tempat di mana Belanda akan tercampak ke Laut Jawa…. .”

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda

Advertisements

Responses

  1. Terimakasih banyak atas sharing artikel ini, Pak Suryadi. Sayang sekali ya bagian keduanya tidak tersimpan di UB.

  2. Terima kasih, Mas Ghamal. Akan saya coba telurusi terus. Ini memang artikel yang rada2 langka: ‘laporan pandangan mata’ yang in situ.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: