Posted by: niadilova | 23/02/2016

V&D, Akhir Kejayaan 130 Tahun

V&D, Akhir Kejayaan 130 Tahun

Senin, 15 Februari 2016, V&D, sebuah department store (warenhuis) terkemuka di Belanda yang memiliki banyak cabang (filial) di berbagai pelosok Negeri Kincir Angin itu, resmi ditutup. Pemilik dan manajemen V&D secara resmi mengumumkan bahwa toko serba ada yang sudah berusia hampir 130 tahun itu dinyatakan bangkrut. Manajemen tidak sanggup lagi membayar utang yang semakin menumpuk. Sejak Desember tahun lalu, manajemen telah mengumumkan bahwa V&D dalam keadaan pailit (failliet). Perusahaan masih mencoba bertahan dengan melakukan berbagai manuver, antara lain dengan mengajak restoran La Place bekerja sama.  Namun ternyata usaha-usaha yang telah dilakukan manajemen tidak membuat V&D kembali sehat. Akhirnya V&D terpaksa ditutup untuk selamanya. Toko-toko V&D yang ratusan banyaknya terakhir kali melayani para pelanggan setianya hari Minggu, 14 Februari 2016. Barang-barangnya dijual dengan korting (discount) besar hingga 70% dan makanan-makanan seperti coklat, roti, dan kue-kue basah mulai dimasukkkan ke tong-tong sampah.

Toko serba ada V&D menjual berbagai macam barang, terutama pakaian, perhiasan, arloji, kacamata, kosmetik, buku, dan alat-alat perkantoran. V&D juga bekerjasama dengan beberapa pebisnis lain memakai konsep ‘shop-in-shopformule’, antara lain dengan Dixons yang menjual barang-barang elektronik, Ritual Cosmetics yang menjual kosmetik, Esprit yang menjual pakaian, dll. Setiap cabang V&D juga menjual makanan (seperti coklat dan kue-kue) dan memiliki restoran.

Kisah V&D adalah perjalanan panjang sebuah perusahaan keluarga yang diwarisi secara turun temurun. V&D didirikan pada akhir abad 19 oleh dua orang pengusaha di Amsterdam: Willem Vroom (1850-1925) dan Anton Dreesmann (1854-1934). Cabang pertama didirikan di Amsterdam pada 1887. Nama V&D diambil dari huruf awal nama keluarga kedua pengusaha itu: Vroom & Dreesmann. Ternyata department store itu berkembang pesat: jumlah cabangnya terus bertambah dan merambah seluruh pelosok Negeri Belanda. Cabang pertama di luar Amsterdam didirikan di Rotterdam pada tahun 1892, kemudian terus membiak ke kota-kota Belanda lainnya: Den Haag (1893),  Nijmegen (1895), Arnhem and Haarlem (1896), Utrecht (1898), ’s-Hertogenbosch  dan Tilburg (1899), Breda (1901), Leeuwarden (1902), Delft (1904), Deventer (1905), Maastricht (1907), Helmond dan Eindhoven (1908), dan Venlo (1912). Setelah itu, didirikan pula cabang-cabang V&D di kota-kota Belanda lainnya, seperti Vlissingen (1925), Apeldoorn (1926), Dordrecht (1931), Amersfoort (1934) dan Enschede (1939). V&D tidak berhenti berkembang: pada dekade-dekade berikutnya, toko-tokonya berekspansi ke banyak kota lainnya di Belanda.

Selama hampir 130 tahun usianya, manajemen V&D sudah beberapa kali berganti: dimulai oleh kedua pendirinya (Willem Vroom dan Anton Dreesmann), lalu sejak 1919 dilanjutkan oleh keturunan mereka, Bernard Vroom dan Willem Dreesmann, kemudian periode Vendex Internasional tahun 1971, dilanjutkan dengan periode fusie dengan Maxeda tahun 1998. Pada era manajemen Maxeda ini, cabang-cabang V&D terus bertambah, antara lain di Ede dan Naaldwijk (1998), Hellevoetsluis (2001), Meppel dan Gorinchem (2003), Doetinchem (2007) dan satu cabang lagi di Venlo (2008). Terakhir, V&D berada di bawah manajemen John van der Ern, mulai bulan Maret 2015. Pada saat itu sebenarnya V&D sudah mengalami krisis. Dua tahun sebelumnya (2013), manejemen mengumumkan kerugian sebesar 42 juta euro dari omzet sebesar 619 juta euro. Sejak itu ‘kesehatan’ V&D terus merosot. Beberapa cabang V&D sudah terpaksa ditutup untuk perampingan jumlah karyawan dari 10.300 orang menjadi 8.000 orang dan untuk efisiensi keuangannya.

V&D adalah tempat belanja favorit bagi warga Belanda. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kebanyakan orang Belanda menghabiskan Sabtu weekend mereka selama beberapa jam di V&D. Setiap minggu, rata-rata 1,5 juta orang Belanda mengunjungi toko-toko V&D, lebih ramai di akhir minggu (hari Sabtu) karena banyak orang libur kerja.

Kepopuleran V&D bahkan bergaung jauh sampai ke negeri jajahan: di zaman kolonial, banyak orang Indonesia akrab dengan nama V&D. Orang kita melafalkannya ‘Pe en De; P&D’. Barang ‘Pe en De’ dalam konsep orang tua-tua kita adalah barang-barang keperluan harian. Sampai tajun 1980-an masih sering kita mendengar percakapan di antara orang-orang dari generasi sebelum perang yang menyebut kata ini, misalnya begini: “Saya dengar anakmu menggalas [berdagang] di Padang. Apa yang dijualnya?”; “O, ia menjual barang-barang Pe en De, Mak.” Di Sumatera Barat, misalnya, kita sering melihat  papan merek toko bertuliskan “P&D” (dieja pe en de). Itu secara sadar atau tidak  jelas terinspirasi oleh nama V&D. Namun, P&D sebenarnya adalah singkatan dari ‘Provisīen & Dranken’ (persediaan barang dan minuman). Jadi, entah disengaja atau tidak, ada asonansi yang menarik antara nama V&D yang begitu tenar dengan singkatan P&D untuk menyebut sejenis kedai yang menyediakan barang-barang persediaan harian dan minuman.

Tak ada yang abadi di dunia ini. V&D yang begitu perkasa selama 13 dekade akhirnya tumbang juga. Sekarang tempat paling favorit bagi orang Belanda untuk cuci mata dan belanja itu sudah maut. Sekitar 8.000 karyawannya di seluruh Belanda terpaksa dirumahkan. Ini berarti: jumlah penganggur di Belanda bertambah lagi, dan penutupan V&D tentu akan berdampak pula ke sektor-sektor produksi lainnya.

Banyak faktor yang  telah menyebabkan tamatnya riwayat V&D yang perkasa itu. Terdengar pula berita miring bahwa di tengah kesulitan keuangan yang dialami V&D, bosnya, Marc Leder, malah membeli sebuah villa mewah di daerah elit New York seharga 20 juta euro.

Akan tetapi berbagai faktor lain tentu telah ikut pula berkontribusi dalam menamatkan riwayat V&D. Salah satunya mungkin krisis ekonomi yang melanda Eropa. Bukan tidak mungkinV&D adalah korban dari kebijakan penerapan mata uang tunggal euro yang telah menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk Benua Putih itu. V&D adalah korban kesekian dari krisis ekonomi yang melanda Eropa akibat kebijakan yang keliru yang dilakukan oleh para politisinya dengan meluncurkan instrumen mata uang tunggal euro pada tahun 2002 (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2013/08/02/euro-dan-oleng-eropa/). Manusia boleh bersombong diri tentang kepintarannya mengelola uang dan memperkaya diri. Tapi ada kekuatan tak tampak yang tidak bisa mereka prediksikan, yang bekerja ke arah sebaliknya.

Selamat jalan V&D. Namamu akan selalu dikenang!

(Referensi: https://nl.wikipedia.org/wiki/V%26D;  Sumber foto: www.rtlnieuws.nl)

  • Artikel ini diterbitkan di harian Singgalang, Senin 22 Februari 2016.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: