Posted by: niadilova | 15/02/2016

Minang Saisuak #252 – “Wilhelminabrug” di Kota Sawahlunto (1920-an)

Minang saisuak - “Wilhelminabrug” di  Kota Sawahlunto (1920-an)

Kota tambang Sawahlunto sudah beberapa kali kami ekspos dalam rubrik ‘Minang saisuak’ ini. Banyak lagi dokumentasi visual tentang kota ini yang tersimpan di Negeri Belanda, yang menunggu giliran untuk diperlihatkan kepada sidang pembaca rubrik ini. Pun dokumentasi tertulis, peta-peta, arsip-arsip, dll., tak kalah banyaknya, yang semestinya harus direproduksi dan disimpan di Museum Kota Sawahlunto.

Salah satu dokumentasi visual mengenai kota Sawahlunto yang kami temukan adalah foto ini. Foto ini dimuat dalam salah satu edisi majalah Pandji Poestaka tahun 1928 (lihat keterangan tentang sumber foto di bawah), yang dikirim dari Sumatera Barat oleh L. St. Mangkoeto. Di dalam foto ini terlihat wajah sebagian kota Sawahlunto pada tahun 1920-an. Kita mendapat kesan betapa kota ini ditata dengan rapi. Jalan-jalan dibuat mengikuti kontur tanah di kota tambang ini yang berada di perbukitan. Jembatan yang terlihat di latar depan adalah “Wilhelminabrug” alias Jembatan [Ratu] Wilhelmina, nama Ratu Belanda. Di seberangnya terletak Pasar Baru, diberi nama demikian karena baru dibangun pada waktu itu.

Selengkapnya, keterangan foto ini mengatakan sebagai berikut:

Seperti telah pembatja ketahoei, di Sawahloento (Soematera Barat) kedapatan soeatoe tambang batoe bara kepoenjaan Goebernemén, jaïtoe tambang Ombilin. Kota Sawahloento ramai karena peroesahaan batoe bara itoe. Gambar ini menjatakan pemandangan pada “Wilhelminabrug” jang letaknja dimoeka pasar baroe Sawahloento. Sebahagian daripada pasar itoe kelihatan pada gambar ini. Tangga tembok jang kelihatan tinggi itoe, ialah tangga oentoek pergi ke Koebang Sirakoek, tempat kantor p.t. Assitent Resident Tanah datar jang berkedoedoekan di Sawahloento. Tjerobong jang tinggi itoe, dahoeloenja dipergoenakan boeat tjerobong “Senteral Listrik” di Sawahloento: tetapi sedjak beberapa tahaoen jang terachir ini, Senteral Listrik itoe soedah dipindahkan ke Salak, ± 18 K.M.dari Sawahloento.”

Keterangan di atas memberikan beberapa informasi historis: 1) Kantor Asisten Residen Tanah Datar dulu berada di Kubang Sirakuak, Sawahlunto; 2) “Sentral Listrik” yang mula-mula di kota ini, yang memakai cerobong asap tinggi itu, yang bangunannya masih ada sampai sekarang, ternyata sudah tidak dipergunakan sejak pertengahan 1920-an karena sudah dibangun penggantinya di Salak.

Demikian sedikit tambahan informasi tentang kota Sawahlunto berdasarkan foto klasik ini. Seperti telah disebutkan di atas, alangkah besar manfaatnya jika ratusan, bahkan mungkin ribuan, dokumen tertulis dan visual tentang Kota Sawahlunto dikumpulkan dan dihimpun. Kami sangat menyarankan kepada Pemerintah Kota Sawahlunto (Bapak Walikota Ali Yusuf, S.Pt dan jajarannya) untuk mengalokasikan anggaran guna mengumpulkan data-data historis mengenai kota Sawahlunto yang terserak di Negeri Belanda. Hal itu tentu bermanfaat, tidak saja bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk masyarakat dan generasi mendatang pada umumnya. Lebih khusus lagi, hal ini tentu merupakan salah satu langkah nyata untuk mendukung Sawahlunto sebagai kota wisata sejarah.

Suryadi – Universiteit Leiden, Belanda. (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 69-70, Tahoen VI, 28 Augustus 1928).

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: