Posted by: niadilova | 03/02/2016

Kilas Balik: Pidato [radio] Presiden [Sukarno] 19 September 1948

soekarno

PKI-MUSO telah mengadakan coup d’etat perampasan kekuasaan di Madiun

Pilihlah: Ikut Muso atau ikut Sukarno-Hatta.

Jika bela kebenaran, jangan takut gertak dan ancaman.

Pendengar-pendengar sekalian.

Rakyat Indonesia yang kucinta.

Kemarin saya berbicara kepada saudara-saudara, sekarang saya berbicara lagi.

Dengarkanlah!

Pada saat ini tanah air kita mengalami suatu cobaan besar. Selagi kita sedang bersengketa dengan Belanda yang menghendaki persatuan Rakyat yang bulat di belakang Pemerintah, supaya kedudukan kita dalam persengketaan itu menjadi kuat, selagi kepentingan negara menghendaki persatuan rakyat, dipecahkan persatuannya oleh pengacau-pengacau.

Perjuangan politik yang sehat memang dikendaki  untuk menyuburkan demokrasi kita. Memang dengan tegas Pemerintah, dengan ucapan Wakil Presiden dan Badan Pekerja tgl. 16 bulan ini [yang] mengatakan, bahwa Pemerintah menghormati segala macam ideologi. Bahwa ideologi, betapapun juga coraknya, tidak akan ditindas oleh Pemerintah, tetapi segala tindakan anarkis dari manapun datangnya dan kekacauan-kekacauan yang membahayakan Negara dan mengganggu keselamatan umum, akan dibasmi.

Pemerintah hanya akan menujukan tindakan korektif kepada pengacau-pengacau yang membahayakan negara dan membahayakan keselatan umum.

Tindakan pengacau itu tidak sedikit terjadi pada waktu yang akhir ini. Nyatalah sekali bahwa tindakan itu dikemudian oleh lebih dari 1 dalang, yang satu sama lain barangkali tidak ada hubungannya, tetapi mereka bersatu dalam tujuannya, yaitu: merobohkan Pemerintah Republik Indonesia.

Nyata sekali bahwa tujuan pengacau-pengacau itu ialah [hendak] menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat dengan menggedor rakyat, memanaskan hati rakyat dsb.-nya, supaya kepercayaan kepada Pemerintah menjadi hilang.

Alat-alat kekuasaan Pemerintah dicobanya, dihasutnya dan dipengaruhinya, guna menyukarkan kehidupan di masa se-{4}karang. Tentara yang sejak dahulu berada di daerah pedalaman diadu domba dengan tentara hijrah, teristimewa terhadap Tentara Laut.

Tentara itu hendak dipecah belah supaya lumpuh, agar supaya mereka gampang merobohkan Pemerintah.

Dalam Divisi V di Solo, dapat masuk beberapa elemen pengacau itu, yang dikepalai oleh Jadau dan Sujoto. Kedua-duanya dari Tentara Laut yang dibubarkan karena tidak ada gunanya. Akhirnya terjadi bentrokan antara kedua bahagian tentara di Solo itu.

Sebenarnya bentrokan ini mudah dipadamkan dan didamaikan, tetapi kaum pengacau tidak menghendakinya. Mereka menghasut terus. Bentrokan ini hendak dijadikan soal politik dan pertentangan politik.

Di sini dengan tegas kami katakan bahwa opsir-opsir seperti Jadau dan Sujoto itu dipecat dari Tentara.

Saudara-saudara, sekarang kami perlu lagi memberitahukan kepada saudara-saudara suatu peristiwa yang lebih penting lagi.

PKI-Muso adakan coup.

Kemarin pagi PKI-Muso mengadakan coup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana suatu Pemerintahan Sovyet, di bawah pimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia.

Nyata dengan ini bahwa peristiwa Solo dan Madiun itu tidak berdiri sendiri, melainkan adalah suatu rangkaian tindakan untuk merobohkan Pemerintah Republik Indonesia.

Buat itu digunakan kesatuan dari Brigade XXIX, bekas Lasykar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Dahlan. Selain itu, Dahlan telah berkhianat kepada Negara [dan] melanggar sumpah tentara,

Dahlan ini kami pecat dari tentara.

Saudara-saudara, camkanlah benar-benar apa artinya yang telah terjadi itu.

Negara Republik Indonesia hendak direbut oleh PKI-Muso.

Rakyat yang kucinta.

Atas nama perjuangan untuk Indonesia merdeka, aku berseru padamu:

Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami percobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri, dan kita adalah memilih antara 2:

Ikut Muso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Sukarno-Hatta yang insya Allah, dengan bantuan Tuhan, akan memimpin Negara Republik Indonesia yang Merdeka, tidak dijajah oleh Negara apapun juga.

Supaya percaya, bahwa rakyat Indonesia yang sudah sekian lama berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, tidak akan ragu-ragu dalam menentukan sikapnya.

Dan jika tidak ragu-ragu, berdirilah di belakang kami dan Pemerintah sekarang yang sah, bertindaklah dengan tidak ragu-ragu pula.

Bantulah Pemerintah, engkau anak-anak Pemerintah dengan segenap tenaga untuk memberantas semua bentrokan dan mengembalikan Pemerintahan yang sah di daerah yang bersangkutan.

REBUT KEMBALI MADIUN.

Madiun harus lekas di tangan kita kembali.

Bersama ini juga kami umumkan bahwa:

Semua perusahaan yang vital dimanapun, sebagai: {5}

Pos, telepon, telegraf, kereta api, gas dan listrik, pabrik-pabrik negara, yang menghasilkan minyak, gula, tekstil dan banyak lagi [yang] lain, sekarang ini militairiseerd, dan terhadap semua pegawai yang bekerja di situ, berlaku undang-undang dan peraturan Militer.

Saudara-saudara, kami tahu, bahwa dari pihak FDR sejak beberapa waktu yang akhir ini, melakukan penindasan jiwa yang sistematis kepada buruh, tani, pemuda, pegawai, rakyat, yang dilakukannya secara intimidasi dan ancaman.

Jika saudara betul-betul mau membela kebenaran, jangan takut kepada gertak dan ancaman. Berjuang dan bergeraklah bersama dengan Pemerintah dan alat-alat Pemerintah untuk kemerdekaan diri saudara dari perasaan takut, dan untuk mencapai demokrasi yang sebenar-benarnya, di mana tidak ada paksaan dan ancaman.

Buruh yang jujur, tani yang jujur, pemuda yang jujur, rakyat yang jujur, janganlah memberikan bantuan kepada kaum pengacau itu.

Jangan tertarik oleh siulan mereka.

Dengan penculikan yang berlaku waktu yang akhir ini, dan dengan coup yang terjadi di Madiun itu, maka tebuka kedok Front Demokrasi Rakyat PKI, yang memang telah lama merancang actie-systematisch untuk merobohkan Pemerintah.

Dengarlah betapa jahatnya rencana mereka itu.

Dalam rencana mereka yang [sudah] mereka susun sejak bulan Februari yang baru lalu, pasal 11 disebut.

Untuk menyampaikan cara-cara tersebut, pasal 6, yaitu “actie-legaal”, maka tindakan “illegaal” tetapi nyata harus segera dilakukan.

a.  Supaya menimbulkan kekacauan di mana-mana, selama “Kabinet Masyumi” masih memegang tampuk pimpinan Pemerintah, dengan cara menggerakkan segenap organisasi jahat, supaya giat melakukan penggedoran [dan] pencurian di waktu malam dan siang hari.

Keterangan:

Apabila semua itu dapat dijalankan dengan teliti dan rapi, maka seluruh rakyat akan selalu [hidup dalam] ketakutan, akhirnya Pemerintah tidak akan dapat kepercayaan.

b.  Tindakan keras (kalau perlu penculikan) terhadap orang-orang yang melawan rencana Front Demokrasi Rakyat, termasuk mereka yang melepaskan diri dari sayap kiri partai Buruh Merdeka, dll,-nya.

Saudara-saudara,

BANGKITLAH BANGSAKU!

Pemimpin-pemimpin DFR dahulu dengan tergesa-gesa telah memberitahukan bahwa program mereka itu dipalsukan oleh lawan mereka. Tetapi kejadian-kejadian yang akhir ini membuktikan dengan nyata bahwa program itu sebenar-benarnya, seperti yang terjadi sebagai penculikan dan lain sebagainya, cocok benar dengan program itu.

Maka oleh karena itu, Saudara-saudara bangsaku, bangkitlah!

Pemerintah kita mau dirobohkan oleh pengacau yang tak sabar menunggu putusan     rakyat dan pemilihan umum.

Negara kita mau dihancurkan. {6}

Mari kita basmi bersama-sama pengacau itu.

Mari kita datangkan kembali keadaan yang aman ke bawah pimpinan Pemerintah.

Mari jangan ragu-ragu!

Insya Allah kita pasti menang!

Sekian.

SEKALI MERDEKA,

TETAP MERDEKA. {7}

***

* Sumber: Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 52, Tahun Ke VII, Agustus 1953 [Nomor Madiun Affair]: 4-7. Ejaan disesuaikan. Angka dalam tanda “{ }” merujuk pada halaman asli majalahnya. Kata-kata dalam tanda “[ ]” merupakan tambahan dari penyalin. Ilustrasi juga berasal dari teks aslinya (hlm. 4).

Catatan: Rupanya ini pidato radio kedua Sukarno menyusul pecahnya pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948. Seperti dapat dikesan di awal pidato ini, Presiden Sukarno sudah menyampaikan pidato radio pertama pada hari yang sama dengan terjadinya pemberontakan itu (mungkin sore atau malam harinya). Namun, pidato beliau yang pertama itu belum berhasil ditemukan.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: