Posted by: niadilova | 27/01/2016

Kilas Balik: DAFTAR sebagian kecil orang-orang yang menjadi korban Pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948

Muso (1897-1948)

No Nama Jabatan Tempat
1 Marhadi Let. Kol. SPDT Kediri
2 Istiklah Let. Kol. Madiun
3 Mardjono Kapten CPM Madiun
4 Wijono Let. Kol. SPDT Kediri
5 Tjok Harsono Letnan SPDT Kediri
6 Soepardi Kapten Bat. 29/41/Ci. 113 Kediri
7 Wasito Majoor CPM Kediri
8 Askandar Kapten Bat. 13 Kediri
9 Moeliadi T.R.I.P. Madiun
10 Soegito Patria Madiun
11 Soerjo Soegito Birg. Pelajar Islam Madiun
12 Rameli ALRI Madiun
13 R.M. Sardjoeno Wedana t.b. Madiun
14 Hartolo Ass. Wedana Manisredjo
15 Hardojo Wakil A.W. Manisredjo
16 M. Ng. Soedibjo Bupati Magetan
17 R. Soekardono Patih Magetan
18 Sahoedi Wakil A.W. Lambejan Mgt.
19 Pamoedji Pemb.Sekr. Bupati Magetan
20 Ropi’i Tjiptomartono Wedana Gorang-Gareng Mgt.
21 R. Charis Bagio Wedana Kanigoro Mdn.
22 Soedjadi Peg. Karesidenan Madiun
23 M. Mangoedihardjo Ass[sistent] Wedana Gemarang Mdn.
24 Kardiman Wk. Ass. Wedana Djiwan Mdn.
25 Amadi Kep. Desa Djiwan Mdn.
26 Prawiro Kep. Desa Sukolilo Mdn.
27 R. Hardjono Wedono Ngawi
28 Karmoen Ass. Wedana Karangdjati Ngw.
29 Marsikin Ass. Wedana Kendal Ngw.
30 R. Soebardima Notoamiprodjo Wedana Ponorogo (Djebang)
31 Soerahir Ass. Wedana Balong (Ponorogo)
32 Soenar Peg. Kabupaten Madiun
33 Oemardanoes Kep. Penerangan Kab. Magetan
34 Soejarwan Secr. Penerangan Kab. Magetan
35 Soebari Publ. Penerangan Kab. Magetan
36 Soemono Penerangan Kawedanaan Magetan
37 Reksosiswojo Penerangan Kawedanaan Gorang-Gareng Mgt.
38 Trisoelo Penerangan Ketjamatan Karangredjo
39 Siswodiprodjo Penerangan Ketjamatan Wungu
40 Hardjosoekotjo Penerangan Ketjamatan Djiwan
41 Wirjosoeprapto Penerangan Ketjamatan Medjajan
42 Moeljodinomo Penerangan Karesidenan Madiun
43 Tajib Penerangan Kawedanaan Kanigoro Mdn.
44 Partoatmodjo Penerangan Ketjamatan Karee
45 Sardjono Penerangan Ketjamatan Djiwan
46 Siswo Penerangan Ketjamatan Medjajan
47 Soehoed Nosingo Guru S.M.A. Madiun
48 Imam Soehodo Guru S.M.I. Madiun
49 Soedarmodjo Guru S.M.A. Madiun
50 Soedarmo Guru S.M.A. Madiun {29}
51 Soeharto Guru S.G.K.P. Madiun
52 Dardjono Guru S.M.I. Madiun
53 Soekarsono Guru S.M.I. Madiun
54 Mardjoko Guru S.M.A. Madiun
55 Saripin Guru Sek. Rakjat Madiun
56 Mohamad Said Guru Sek. Rakyat Madiun
57 Amrin Guru Sek. Rakyat Tjaruban
58 Soewandi Guru Sek. Rakjat Ngrambe
59 Sedyowiadi Guru Sek. Rakyat Ponorogo
60 Joedokoesoemo Kep. Kant. Pengadjaran Magetan
61 Mahardjono Guru S.M.P. Magetan
62 S. Hardjosoediro Guru S.M.P. Magetan
63 Soeraratim Guru S.M.P. Magetan
64 Soemardi Kep. Pendidikan Masj. Magetan
65 Sekak Siswohardjono Guru Sek. Rakjat Magetan
66 Soelaiman Gurus S.M.P. Ngawi
67 Hoedan Soerjohoedojo Pemr. Sekolah Distr. Ngawi
68 Lilioedin Opzichter K.A. Madiun
69 Doelamin Pegawai K.A. Madiun
70 Abdulmu’in Pegawai K.A. Madiun
71 Sastroatmodjo Mantri Bouwtoezicht Gorang-Gareng
72 Muhammad Mantri Kesehatan Madiun {31}

 

Catatan: Mgt = Magetan; Ngw = Ngawi; Mdn = Madiun. Seperti disebutkan pada judul di atas, daftar ini baru mencakup nama-nama sebagian kecil orang-orang yang dibunuh oleh pengikut PKI dalam Peristiwa Madiun (kursif oleh Suryadi).

Sebagaimana ditulis oleh Sjarif Usman dalam artikelnya “Air-Mata dan darah dalam Pemberontakan Komunis Madiun” (Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 52, Tahun Ke VII, September 1953: 26-28, 39), latar belakang peristiwa Madiun tak lepas dari pertentangan yang makin meruncing antara partai-partai politik di Indonesia yang memiliki ideologi yang berbeda-beda, bahkan saling berseberangan, dalam taktik perjuangan masing-masing. Situasi itu dikondisikan oleh persaingan Blok Barat dan Blok Timur. Sjarif Usman mengatakan: “Pertentangan itu dapat dibagi kepada dua blok jaitu: (1) Komunis dan kawan-kawannja [vs] (2) Masjumi-P.N.I. dan kawan-kawannja. […] Komunis dan kawan-kawannya, ingin membawa Indonesia kebawah pimpinan Sovyet Rusia jang dikendalikan dari Moskow. Pimpinan perdjuangan diatur dari Moskow, dan Indonesia harus mematuhi itu, sebagaimana negara-negara Komunis jang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam achir pidato Muso, pemimpin pemberontak Madiun, pada tanggal 8 September 1948 dalam satu rapat raksasa P.K.I. di Madiun jang berbunji sebagai berikut: ‘Sovyet Rusia adalah pemimpin revolusi dunia. Revolusi kita adalah bahagian daripadanja; djadi kita berada dibawah pimpinan Sovyet Rusia. Djika kita berada dipihak Rusia, maka adalah kita benar.’ Blok jang satu lagi terdiri dari ‘Masjumi’ – P.N.I. dan kawan-kawannja. Blok ini, berpendirian, bahwa bangsa Indonesia berdjuang menudju kemerdekaannja, atas kemauan dan pimpinannja sendiri. Indonesia jang merdeka tidak usah dipimpin Rusia atau Amerika, tapi harus memimpin diri sendiri sebagai bangsa jang merdeka. Tetapi Komunis, mentjap orang2 jang tidak mau takluk kebawah Moskow, dengan [sebagai] kaki tangan Imperialis Amerika” (hlm. 26).

Maka, sebagai titik didih dari percekcokan ideologi itu, meletuslah pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948. Pemberontakan itu terkesan prematur, sehingga hanya dalam hitungan hari berhasil dipadamakan oleh pasukan Pemerintah. Para pengikut Muso dengan mudah dapat diusir dari wilayah Madiun. Kota Madiun berhasil direbut oleh TNI, dibantu oleh rakyat yang anti PKI, pada 30 September 1948, menyusul Ponorogo pada 5 Oktober. Namun, selama kurang lebih seminggu menguasai Madiun, pemberontak PKI telah membunuh secara sadis banyak orang yang tidak sehaluan dengan ideologi mereka, juga rakyat yang tidak tahu apa-apa. Daftar yang disajikan ini adalah sebagian kecil dari korban pembunuhan PKI yang berhasil diidentifikasi. Daftar lain, yang berisi anggota Masjumi yang dibunuh orang-orang PKI, sudah disajikan pula dalam blog ini (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2016/01/20/kilas-balik-daftar-sebagian-kecil-anggota-anggota-masjumi-keresidenan-madiun-yang-dibunuh-pemberontak-pki-mulai-18-september-1948/). Sisa-sisa pengikut Muso diburu oleh TNI dan laskar-laskar pemuda / tentara pelajar sampai ke wilayah Dungus dan Ngebel. Namun, sambil melarikan diri, orang-orang PKI itu ternyata masih bernafsu membunuhi banyak orang sipil tak berdosa. Banyak jatuh korban dari kalangan masyarakat umum.

Wartawan Siasat Gadis Rasjid (yang disebut oleh Chairil Anwar dalam salah satu puisinya), adalah salah seorang jurnalis wanita yang berhasil memasuki front konflik Madiun paling awal dengan kawalan Batalion Kiansantang dari Divisi Siliwangi. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekejaman-kekejaman kaum pemberontak PKI di sepanjang jalan Solo – Tawangmangu – Sarangan –  Palaosan – Madiun. Ia melihat begitu banyak mayat bergelimpangan dalam keadaan tidak utuh akibat dibunuh oleh pemberontak PKI. Gadis menulis kesaksiannya di harian Nasional yang terbit di Yogyakarta (dikutip melalui Muhammad Dimyati, “Pemberontakan Madiun” (Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 52, Tahun Ke VII, September 1953: 21-22):

Waktu prajurit Kiansantang jang paling muka mau memasuki complex pabrik gula, terdengarlah teriakan dari sebuah rumah administrateur, minta pertolongan. Kurang lebih 50 orang tampak terdjatuh dilantai, bermandi darah. Beberapa orang jang masih hidup mentjeritakan bahwa sebelum kaum pengatjau melarikan diri, dua orang menembaki kaum tawanan dari luar melalui djendela. Tak akan saja lupakan pemandangan itu. Badan manusia jang tidak berdosa berbaring djatuh dalam sebuah kolam darah!
Di Dungus sebelah timur Madiun, beberapa hari kemudianpun mereka melakukan hal ini dengan tjara jang lebih kedjam. Begitu djuga di Magetan, di Sumoroto, di Ponorogo, Purwodadi dan Kanigoro. Dan bertambah ketegasan bagi saja bahwa apa jang dimulai sebagai gerakan politik, kemudian berubah mendjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan terror ini, bukanlah suatu aliran jang dapat memberi manfaat atau kebahagiaan bagi rakjat Indonesia, betapapun muluknya tjita2 jang mereka dengungkan.

Muso, pemimpin pemberontak, disergap TNI di bukit-bukit di sebelah selatan Ponorogo dalam keadaan terpisah dari rombongan Amir Sjarifuddin yang tetap dikawal oleh “Panglima Besarnya” Djokosujono yang lari ke arah lain. (Amir akhirnya tewas pula tertembak di desa Ngalihan pada 19 Desember 1948 setelah ditangkap di Yogyakarta.) Muso, pria asal desa  Pegu, Distrik Papar, Kabupaten Kediri itu, berhasil ditewaskan oleh sepasukan TNI di bawah pimpinan Kapten Sunandar. Dia sempat menyamar sebagai kusir sado, dikawal oleh dua orang kepercayaannya. Tapi pasukan TNI mengenal[i]nya. Ia disuruh menyerah tapi melawan dan lari ke sebuah rumah penduduk. Setelah terjadi tembak-menembak, Muso akhirnya tewas. Kejadian itu berlangsung pada tanggal 31 Oktober 1948. Riwayatnya berakhir hanya kurang lebih tiga bulan setelah ia kembali ke tanah airnya dari perantauannya yang cukup lama di Uni Sovyet. (Muso kembali ke Indonesia pada 11 Agustus 1948).

***

* Sumber: Aliran Islam. Suara Kaum Progresif Berhaluan Radikal No. 52, Tahun Ke VII, September 1953: 29, 31). Ejaan disesuaikan, tapi nama-nama orang, jabatan, dan tempat ditulis sebagaimana aslinya. Angka dalam tanda ‘{ }’ merujuk pada halaman asli majalahnya. Ilustrasi merupakan tambahan dari penyalin (yang dirujuk dari: mkssej21.blogspot.com).

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Leiden University, Belanda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: