Posted by: niadilova | 18/01/2016

Minang Saisuak #249 – Mr. Assaat : Putra Minangkabau Acting Presiden RI (1949-1950)

fdzfv

“MR. ASSAÄT (Bapa Pemangku Djabatan Presiden R.I.)”, demikian tertulis pada bagian bawah foto klasik yang kami tampilkan dalam rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini. Foto ini agaknya dibuat sekitar pertengahan tahun 1950.  Ya, wajah yang diabadikan oleh foto ini adalah Mr. Asaat Dt. Mudo, putra Minangkabau penyelamat Republik Indonesia pada saat genting: ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk pada akhir 1949, sebagai konsekuensi dari Konferensi Meja Bundar (KBM), Assaat diangkat menjadi  pemangku jabatan (acting) Presiden Republik Indonesia karena Ir. Soekarno-Mohammad Hatta menjadi Presiden/Wakil Presiden RIS. Sengaja foto ini kami turunkan dengan caption-nya karena belum pernah dipublikasikan sebelumnya dalam studi-studi ataupun publikasi-publikasi mengenai sejarah Republik Indonesia.

Riwayat Hidup Mr. Assaat dapat dibaca dalam buku lawas Hasril Chaniago, 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (Citra Budaya, Padang 2010), hlm. 195-200. Lahir di Kubang Putih, Banuhampu, pada 18 September 1904, Assaat adalah tokoh nasional yang pernah memegang berbagai jabatan semasa hidupnya, ketika nasionalisme Indonesia mencapai titik didihnya di tahun 1940an dan ketika Republik Indonesia yang masih bayi merah difedofili oleh Belanda melalui agresi militernya yang bau pesing.

Berikut info singkat mengenai pendidikan dan karier politik Assaat yang kami ringkaskan dari buku Chaniago tersebut.

Pendidikan: Pendidikan dasar di Adabiah School, Padang; MULO di Padang; STOVIA (Sekolah Dokter Jawa)  di Batavia (tidak tamat); AMS; Sekolah Hakim Tinggi (Rechtshoogeschool) Batavia (tidak tamat); Fakultas Hukum Universiteit Leiden sampai mendapat gelar “Meester in de rechten”.

Karier politik: Saat kuliah di Sekolah Hakim Tinggi Batavia sudah aktif dalam Jong Sumatranen Bond (yang membuat studinya tersendat); Sekembali dari Belanda tahun 1939, membuka praktek advokat di Jakarta, sampai masuknya Jepang di tahun 1942;  Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP); Masa Agresi Belanda II (1948) diasingkan ke Pualau Bangka bersama Soekarno, Hatta, dan St. Sjahrir; Setelah dibebaskan kembali ke Yogyakarta, masih sebagai ketua KNIP; Menjadi Pemangku Jabatan Presiden R.I. dengan wakilnya, Dr. Abdul Halim, selama usia Republik Indonesia Serikat (RIS) yang singkat (27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950). Pada periode itulah ia menandatangani statuta pendirian Universitaas Gadjah Mada, universitas pertama milik bangsa Indonesia, yaitu tgl. 19 Desember 1949;  Menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Natsir ketika Indonesia kembali ke negara kesatuan, Agustus 1950; Menjadi anggota parlemen setelah Kabinet Natsir jatuh; Tahun 1955 menjadi anggota formatur kabinet bersama Soekiman Wirdjosandjojo dan Mr. Wilopo untuk mencalonkan Bung Hatta menjadi perdana menteri, tapi gagal; Pulang ke Sumatera Barat dan bergabung dengan PRRI sebagai protes terhadap ketidasetujuannya dengan politik Nasakom Presiden Soekarno; Usai PRRI (1961), dipenjarakan oleh Soekarno dan baru dibebaskan pada awal 1967. Sejak itu nama Assaat tidak terdengar lagi dalam kancah politik Republik ini.

Assaat adalah sosok pemimpin yang agamis dan sederhana. Ia tidak mau disanjung-sanjung di depan publik. Chaniago (hlm.197) mencatat bahwa ia tidak mau dipanggil sebagai “Paduka Yang Muliah Acting Presiden”, cukup “Saudara Acting Presiden” saja. Assaat adalah seorang muslim yang saleh. Sesibuk apapun menjalankan tugas, shalatnya tak pernah tinggal (Lihat fotonya shalat bersama warga di Mesjid Sumedang, Jawa Barat, dalam Penuntun No. 5, Th. ke IV, Mei 1950:70). Dalam Penuntun edisi yang sama, ia menulis (hlm. 69) di bawah tajuk “Menjuburkan Kehidupan Agama”: “[P]emimpin2 jang mempunjai sifat djujur dan tabah […] adalah sumber kekuatan kita. Pemimpin2 dan orang2 jang djujur itu kita dapat pada kaum beragama.”  Kata-katanya itu dipraktekkannya dalam kehidupannya sebagai pemimpin masyarakat.

Assaat meninggal pada 16 Juni 1976 di rumahnya yang sederhana di Warung Jati, Jakarta Selatan (Chaniago, Ibid.:199). Lain benar dengan keadaan sekarang: banyak pejabat di negeri ini mati dalam rumah mewahnya. Hamba kira, jika pun penguasa negeri ini tidak juga mau memberikan penghargaan yang sepadan terhadap peran penting yang dimainkan Assaat dalam menyambung ‘nyawa’ Rebuplik Indonesia selama masa RIS, arwah beliau pun di alam sana tetap bahagia, sebab di masa hidupnya pun dia bukan tipe manusia yang gila hormat dan sanjung berhadapan. (Sumber: Penuntun. Madjallah Kementerian Agama Rep. Indonesia No. 5, Th. ke IV, Mei 1950: sampul depan).

Suryadi – Leiden, Belanda. | Singgalang, Minggu, 17 Januari 2016

Advertisements

Responses

  1. Sayang pemerintah tidak pernah mengenang jasa beliau, misalnya dalam nama jalan, dll.

  2. Pemprov Sumatera Barat perlu diingatkan mengenai hal ini, Pak Rusydi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: