Posted by: niadilova | 04/01/2016

Minang Saisuak #247 – Presiden Soekarno dengan Inyiak Parabek (1948)

yukjugyk

Di bulan Februari tahun 1942… Kala itu tentara Jepang berderapdegap maju memasuki Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Gerak maju mereka tak terbendung setelah Singapura dan Semenanjung Malaya mereka lanyau hanya dalam waktu sehari dua, yang membuat tentara Inggris di sana lari kocar-kacir. Tentara Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) pun meremas perut. Konon dengan sepeda yang bannya sudah bocor, tentara Jepang terus melaju. Bunyi plat sepeda yang dikendarai oleh tentara Jepang, yang ratusan banyaknya, yang beradu dengan batu jalanan, badarun seperti suara geren, membuat tentara Belanda gacar duluan. Dan…seperti sudah sama kita ketahui, hanya kurang dari tiga bulan sesudah itu, tak sampai semusim padi masak, tentara Belanda menyerah: Panglima Tentara Belanda di Hindia Belanda, Letnan Jenderal Hein ter Poorten, dengan jiwa terkulai, mencoretkan tanda tangannya di kertas sehelai di depan Jenderal Imamura di Kali jati. Belanda, yang perkasa dan kuasa terhadap pribumi Indonesia selama ratusan tahun itu, menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Kala itu Ir. Soekarno ditahan di Bengkulu. Dalam keadaan chaos, para republiken yang setia buru-buru membebaskan Soekarno dan membawanya ke Padang. Mereka segera bertindak karena ada isu bahwa Soekarno akan dijemput oleh Belanda dengan kapal khusus untuk dibawa, mungkin untuk dijadikan ‘modal nego’ dengan Jepang. Ir. Soekarno dan rombongan pergi ke Padang melalui Muko-muko dan Pesisir Selatan.

Kali kedua, Presiden Soekarno datang lagi ke Minangkabau (Sumatera Tengah) pada bulan Juni 1948 untuk memberi semangat kepada masyarakat Minang menghadapi agresi Belanda kedua. Tampaknya foto ini dibuat semasa kunjungannya yang kedua itu (bukan kunjungan yang pertama, seperti saya tuliskan di Singgalang tgl. 3 Januari 2016). Alsan saya: di foto ini kelihatan Ir. Soekarno berpakaian necis dan resmi sebagaimana gayanya yang biasa dilihat setelah beliau menjadi Presiden Indonesia).

Selama berada di Sumatera Barat dalam kunjungan beliau yang kedua itu, Presiden Soekarno juga melawat ke Bukittinggi. Besar kemungkinan foto ini dibuat pada saat kunjungan beliau ke darek itu. Soekarno antara lain menemui salah seorang ulama Minangkabau terkemuka pada waktu itu: Syekh Ibrahim Musa alias Inyiak Parabek (1882-1963). Ulama pendiri Sumatera Thawalib Parabek itu sangat dihormati oleh masyarakat. Oleh sebab itulah Soekarno berkeperluan untuk bertemu dengan beliau.

Konon ada cerita, dalam pertemuan itu, Inyiak Parabek memberikan sebuah kopiah beludru kepada Soekarno. Pemimpin republiken yang kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia itu juga dinasehati oleh Inyiak Parabek soal perempuan. Ulama itu melihat ada tanda pada Soekarno (yaitu giginya yang gingsul): tanda lelaki yang agak rembang mato melihat perempuan-perempuan cantik.

Tapi, kita tarik sedikit cerita ke masa satu tahun sebelumnya: di tahun 1947, ketika Belanda melancarkan aksi perang dekolonisasinya (Agresi Belanda 1), kaum ulama Minangkabau menyerukan perang sabil melawan Belanda. Waktu itu umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa. “KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG MUKALLAF DISERUKAN SUPAYA: BERJIHAD DENGAN KEIMANAN DAN KEJAKINAN, DENGAN HARTA; NJAWA, TENAGA DAN PIKIRAN. KEPADA SELURUH ULAMA JANG BERTANGGUNG DJAWAB LANGSUNG TENTANG KETINGGIAN AGAMA SUTJI KITA, BERIKANLAH TENAGA JANG SEBESAR-BESARNJA DALAM MELAKSANAKAN PERANG FI SABILILLAH JANG TENGAH KITA LANTJARKAN INI, DAN BERTJAJALAH BAHWA ALLAH DIPIHAK KITA”, demikian kutipan dari selebaran perang jihad itu (saya kutip dari lembaran arsip NEFIS yang menyimpan lembaran selebaran ini, sekarang tersimpan di Nederland Nationaal Archief, Den Haag).

Sepuluh orang ulama menandatangani seruan jihad itu pada 27 Juli 1947 di Bukittinggi, salah seorang di antaranya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek. Sembilan ulama lainnya adalah: “Sech Mhd. Djamil Djambek [Bukit Tinggi], Sech Abbas Abdullah [Pajakumbuh], Sech Daoed Rasjidi Balingka [Bukit Tinggi], Sech Suleiman Arrasuli Tandjung [Bukit Tinggi], Sech Abd. Wahid Tabek Gadang [Pajakumbuh], Sech H. Mhd. Said [Batusangkar], Sech H. Adjhuri [Batusangkar], Sech Ibrahim Tjakar [Pajakumbuh], dan Sech Mustafa Abdullah [Pajakumbuh].”

Namun, sejarah selalu memiliki sisi ironis. Pada bulan Maret 1958, Inyiak Parabek pulalah yang memimpin doa selamat dalam menempuh perjuangan ketika Ahmad Husein dan para kolega militer dan sipilnya memproklamirkan berdirinya PRRI di Padang (lihat: Minang saisuak, 17 Mei 2015). Hamba membayangkan, betapa geramnya Inyiak Parabek kepada Soekarno, yang mengirimkan tantara pusek, lengkap dengan geren, granat, dan bazoka-nya, untuk membunuhi orang Minang, yang telah memberikan sumbangan besar bagi berdirinya Republik ini.

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 3 Januari 2016 (Sumber foto: FB Asrul Agin, diakses 5-7-2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: