Posted by: niadilova | 07/09/2015

Minang Saisuak #234 – Sebuah rapat besar maago Soekarno di Padang 1958

14425725061775697054

Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan satu foto kenangan tentang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Mungkin sudah bayak sidang pembaca yang tahu sosok yang berdiri di tempat yang tinggi di depan itu. Dialah Kolonel Ahmad Husein, pencetus PRRI yang telah mengukir hari-hari berdarah dan derak-deram suara bedil bak merendang kacang di Ranah Minangkabau dari 1958 sampai 1961. Anak muda kelahiran Padang 1 April 1925 itu telah membuaturang awak, lama kemudian, manggaretek melihat setiap orang perbapakaian loreng dan bersepatu lars.

Konteks sejarah foto ini adalah ketika Ahmad Husein menyerukan perlawanan menentang Jakarta (baca: Presiden Soekarno) di Padang. Rapat ini diadakan di halaman Gubernunar Padang pada bulan Maret 1958. Dalam apel besar itu Ahmad Husein menjelaskan misi PRRI dan mengajak seluruh hadirin untuk bergabung. Canang tantangan terhadap Jakarta sudah dipukul. Melangkah surut tidak akan mungkin lagi.

Zaid Dunil (72), warga Ujung Pandan, Parak Karambia, Padang, mengingat kenangan ketika rapat itu (ditulisnya dalam bahasa Minang bercampur bahasa Indonesia di milis Rantaunet, 11 Mei 2015; saya edit dan terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia):

“Suasana sebelum rapat itu sesuai penangkapansaya (anak kelas 1 SMP waktu itu), seluruh masyarakat marah kepadaPemerintah Pusat dan kompak mendukung Bapak Ahmad Husein.Sepertinya tidak ada yang menentang atau menolak gagasan memisahkan diri dari pemerintahan Sukarno itu.

Setelah rapat Maret 1958 itu, masyarakat berbondong-bondong mendaftar jadi tentara, terutama anak-anak SMA. Dan senjata buatan Amerika mulai tampak, seperti dipamerkan kepada masyarakat, dan yang saya ingat adalah senapang mesin kaliber 12,7 untuk manembak kapal terbang.

Sasudah itu baru masuk fase pra-perang. Kapal terbang dari pusat mulai mendengung-dengung di atas langit kota Padang, membuat kami anak SMP katakutan dan menyuruk ke bawah meja di sekolah kalau mandengar kapal terbang itu mangeong-ngeong.

Saya tinggal di tepi laut, jelas tampak dari rumah saya kapal perang tentara pusat itu, serupa berbaris berlabuh di tengah laut, di muka rumah saya. Sekitar dua hari kamudian mortir pun berhamburan menghantam kota Padang, dan kantor tantara dekat Muaro Padang itu hancur dihantam mortir. Kemudian mortir itu reda, rupanya karena PRRI sudah meninggalkan kota Padang. Besoknya tentara pusat tampak sudah berpatroli di jalan-jalan di Padang secara beregu dengan senjata siap kokang. Mereka berpakaian loreng dengan baret bertuliskan ‘Banteng Raider’, dan itu kesatuan dari Diponegoro, Jawa Tengah.

Perang di Padang ketika itu tidak berlangsung lama.Demikian[…], sekedar yang dapatsaya ingat tentang suasana pra- dan paska-rapat Maret 1958 itu.”

Tentu tak usah saya berpanjang kalam tentang peristiwa PRRI. Lusinan buku dan artikel sudah ditulis orang mengenainya.

Jika sidang pembaca ingin tahu lebih jauh tentang sosok Ahmad Husein, bacalah buku Prof. Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang: Biografi Kolonel Ahmad Husein. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 2001. Di dalam buku rancak itu, kisah hidup Ahmad Husein, yang meninggal di Jakarta pada 28 November 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kuranji, diceritakan dengan detil. Bacalah buku-buku sejarah, supaya kita tidak tergurajai lagi di ujung jalan. (Sumber foto: James Burke / Time Life).

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 6 September 2015


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: