Posted by: niadilova | 26/07/2015

Cap Mohor Sultan Tunggal Alam Bagagar[syah]

MinangkabauBeberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa Panitia pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah rampung menulis buku (kecil) mengenai riwayat hidup dan perjuangan beliau. Panitia juga telah mengumpulkan bahan-bahan terkait yang dapat membantu mengungkapkan riwayat hidup dan perjuangan cucu Sultan Muningsyah itu.

Bahan-bahan yang sudah berhasil dikumpulkan beserta buku kecil itu dimaksudkan untuk memperkuat argumen pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional. Panitia akan segera membawanya ke Jakarta, menghadap instansi terkait di pusat yang memiliki kewenangan meloloskan atau menolak pengajuan SAB menjadi pahlawan nasional. Semoga hasil penelitian itu telah dievaluasi lagi di hadapan kalangan akademis, intelektual, agamawan, dan cerdik pandai di Sumatra Barat, sebelum dikirim ke Jakarta, supaya apa yang rumpang dapat disisik dan sekiranya ada yang kurang dapat ditambah.

Lepas dari pro-kontra mengenai pengusulan SBA menjadi pahlawan nasionalseperti antara lain terefleksi dalam makalah Gusti Asnan, Su[l]tan Alam Bagagarsyah dalam sejarah dan penulisan sejarah yang disampaikan dalam Seminar Sehari Pengusulan Almarhum Su[l]tan Alam Bagagarsyah Sebagai Pahlawan Nasional di Padang Tanggal 17 Maret 2008penelitian lebih lanjut mengenai SAB tentu akan sangat bermanfaat bagi penyempurnaan kajian sejarah Minangkabau pada umumnya dan Kerajaan Pagayurung pada khususnya.

Dalam tulisan singkat ini saya membicarakan cap mohor atau stempel (seal) SAB. Mudah-mudahan Panitia juga sudah memperhatikan dan meneliti cap mohor ini sebuah bukti historis tentang eksistensi SAB sebagai raja Pagaruyung.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa sebuah cap mohor tidak banyak berarti sebagai dokumen sejarah. Namun, seperti dikatakan oleh Annabel Teh Gallop, pakar persuratan dan permohoran Melayu klasik, banyak informasi sejarah yang dapat digali dari sebuah cap mohor peninggalan masa lalu, lebih-labih lagi cap mohor raja-raja lokal yang pernah berkuasa di Nusantara, karena cap mohor pada hakekatnya representasi dari diri orangnya sendiri.

Cap mohor SAB ini adalah satu daru ratusan cap mohor klasik yang diteliti oleh Annabel Teh Gallop dalan disertasinya, Malay seal inscriptions: a study in Islamic epigraphy from Southeast Asia (SOAS University of London, 2002: Vol. II, Part 1, hlm.137) dengan kode AB.24 # 1028. Seorang editor anonim juga telah memajang cap mohor ini di wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Alam_Bagagarsyah), namun sumbernya tidak dijelaskan. Sumber foto yang saya gunakan di sini adalah disertasi Gallop (2002:137).

Seperti terlihat pada fotonya, cap mohor SAB berbentuk bulat dengan delapan kelompak bunga (8-petalled circle). Di dalamnya terdapat dua lapisan lingkaran: 1) lingkaran luar yang dihiasi dengan ukiran motif empat gagang aka Cino dengan dua buah kuncup segagang (lihat Navis 1984:XLV); 2) lingkaran dalam dengan tulisan beraksara Jawi yang menjelaskan gelar dan status sosial SAB.

Cap mohor ini termasuk dari jenis cap mohor berbahan dasar besi (metal seal). Menurut Gallop cap mohor ini antara lain tercap dalam surat kepercayaan (credential) yang dimiliki penguasa lokal di Sungai Pagu (tertulis Paguh) pada abad ke-19. Salah seorang di antara keluarga penguasa Sungai Pagu adalah Puti Balun yang disebut-sebut orang terakhir yang pernah terlihat memegang cap mohor ini.

Salah satu rujukan bibliografis klasik mengenai cap mohor ini adalah tulisan F.D.K. Bosch, De rijksieraden van Pagar Roejoeng (Barang-barang perhiasan Kerajaan Pagaryung) dalamOudheidkundig verslag (1930: 202-215). Sumber kedua yang juga membicarakan cap mohor ini adalah tulisan Jane Drakard, Language and power: the Minangkabau Kingdom, dalam Early modern history(editor: A. Reid) (1996:60-1), dan bukunya, A kingdom of words: language and power in Sumatra(1999).

Inskripsi tulisan dalam lingkaran di bagian dalam yang beraksara Jawi adalah sebagai berikut: Sultan Tunggal Alam Bagagar ibn Sultan Khal?fat All?h yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung d?r al-qad?r johan berdaulat zill All?h f? al-?lam (al-qad?r dibaca al-qud?r oleh Gallop [ibid.]). Bagian terakhir yang berbahasa Arab itu kurang lebih berarti bayangan Tuhan di muka bumi.

Itulah gelar lengkap SAB dalam cap mohornya. Kata Tunggal pada gelarnya itu selama ini jarang terdengar dilekatkan pada nama beliau. Maksud kata Tunggal itu mungkin bukan berarti bahwa SAB adalah pewaris tunggal Daulat Pagaruyung, sebab beliau punya empat orang saudara: Puti Reno Sori, Tuan Gadih Tembong, Tuan Bujang Nan Bakundi, dan Yang Dipertuan Batuhampar. Mungkin maksudnya penegasan bahwa SAB adalah penguasa tunggal Kerajaan Pagaruyung (tak ada kekuasaan yang berbagi dengannya), suatu sifat pemerintahan monarki dimanapun di dunia ini.

Lalu, darimana gelar syah yang sudah biasa dipakaikan pada nama SAB? Ternyata cap mohor SAB sendiri hanya menyebutkan gelarnya Sultan Tunggal Alam Bagagar, tanpa embel-embel syah di belakangnya. Boleh jadi penambahan kata syah di belakang gelar SAB itu dimaksudkan sebagai penguatan ciri keislaman Daulat Pagaruyung untuk mengakomodasi tekanan politik Gerakan Paderi.

Memang kalangan sejarawan masih berdebat soal apakah sistem pemerintahan Kerajaan Pagaruyung sudah berciri Islam sebelum munculnya Gerakan Paderi atau justru sebaliknya yang kemudiaan mendorong terjadinya gerakan penghapusan Dinasti ini yang mencapai klimaksnya pada pembunuhan massal keluarga Istana Pagaruyung di Koto Tangah tahun 1815.

Yang jelas, representasi keislaman sangat kentara dalam cap mohor SAB ini. Beliau menyebut dirinyaibn Sultan Khal?fat All?h…, tanpa mencantumkan dengan jelas nama ayahnya. Berbeda dengan banyak cap mohor raja-raja lokal di Nusantara yang sering mencantumkan nama ayah, cap mohor raja-raja Pagaruyung cenderung tidak mencantumkan nama ayah, seperti juga dapat dikesan pada cap mohor Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatiah Nan Sabatang yang inskripsinya masing-masing hanya menyebutkan Inilah cap Datuk Katemanggungan nan banama Maharaja Diraja. danInilah Cap Datuk Parpatih Sebatang nan bernama Si Manang Sutan (lihat: Suryadi, Stempel Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang, Padang Ekspres, 1 Juli 2007). Barangkali ini refleksi dari sistem sosial Minangkabau yang menganut azas matriarkhat, dimana peran sosial ayah dalam keluarga diambil alih oleh mamak.

Cap mohor SAB ini adalah salah satu bukti dari legitimasi kekuasaan SAB sebagai raja (terakhir) Pagaruyung. Tinggal pertanyaan: apakah cap mohor ini sudah digunakan oleh SAB sebelum perjanjian 10 Februari 1821 yang mengesahkan penyerahan darek kepada Belanda di Padang (kalau benar, besar kemungkinan cap mohor ini tercap dalam Surat Perjanjian itu, yang mudah-mudahan telah ditemukan oleh Tim pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional) atau baru setelah 1832 ketika SAB diangkat menjadi Raja Minangkabau atas usulan Van den Bosch? Atau cap mohor ini juga digunakan oleh SAB selama beliau menjadi (hoofd)regent Tanah Datar (1823-1832)? Tugas para sejarawanlah untuk terus menelitinya.

Suryadi, pengajar dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda

Advertisements

Responses

  1. Hampir tengah malam waktu Indonesia barat saat saya membaca artikel ini. Saya menikmati tulisan2 Bapak di blog ini, walaupun belum sempat baca semuanya. 🙂

    Saya agak tertegun di bagian pembunuhan keluarga kerajaan Pagaruyung. Teringat dengan sejarah keluarga terakhir kerajaan Rusia yang habis dibunuh pemberontak. 😦

    Apakah ahli waris kerajaan Pagaruyung di masa ini merupakan keturunan Sultan Alam Bagagarsyah? Semoga mereka selalu dilindungi oleh Allah SWT.

  2. Salam Bapak Yoga Karta.
    Sebaliknya, Bapak: Sultan Alam Bagagarsyah adalah keturunan dari mereka (bangsawan Pagaruyung) yang dibunuh oleh kaum agama dalam peristiwa di Koto Tangah itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: