Posted by: niadilova | 15/06/2015

Minang Saisuak #225 – Abdoel Azis Soetan Kenaikan: Pendiri Kweekchool Islamijah Lb Sikaping

69983160f5f55ce6eb23e294c926f0ce_zxsc

Tokoh Minang saisuak kita kali ini adalah seorang pantolan pendidik di Minangkabau di akhir Zaman Kolonial. Jasanya dikenang antara lain karena mendirikan Mohammedan Lyceum di Lubuk Sikaping. Tapi itu bukan sekolah agama, melainkan sekolah pertanian. Pada tahun 1925, ketika Parada Harahap mengunjungi sekolah yang belum lama berdiri itu, muridnya berjumlah 60 orang ‘yang datang dari Residentie Sumatra’s Westkust, Benkoelen, Palembang, Djambi, Atjeh, Tapanoeli dan Lampoeng serta Sumatra’s Oostkust’ (Harahap 1925:124). Di sekolah itu, yang lamanya 4 tahun, diajarkan ilmu pertanian dan peternakan. Selain itu diajarkan jug a ilmu agama Islam, Bahasa Arab, Bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris. Tujuan sekolah itu adalah menciptakan lulusan yang agamis dan dapat berdikari, tidak hanya melulu menjadi pegawai negeri (lihat juga “Kweekschool Islamijah Loeboeksikaping”,Pandji Poestaka, No. 22, Tahoen V, 18 Maart 1939, hlm. 362).

Abdoel Azis Soetan Kenaikan (AASK) sendiri adalah seorang ahli pertanian yang sebelumnya sudah bekerja di mana-mana. Beliau sebenarnya berdarah Tapanuli (mungkin ada darah Minangkabau juga dari nenek moyangnya), tapi ia dilahirkan di Lubuk Sikaping tahun 1891. Ayahnya seorang pengusaha penanaman getah yang terkenal di sana. AASK masuk Kweekschool di Fort de Kock (Bukittinggi) sebelum melanjutkan studinya ke Landbouwschool di Buitenzorg (Bogor) di mana ia mendapat diploma nomor satu tahun 1913. Selama setahun, Pemerintah membiayai AASK melakukan studi tour ke seluruh Jawa untuk menambah pengetahuannya di bidang ilmu pertanian dan untuk mempersiapkannya menjadi landbouwleraar yang handal.

Pada 1914 AASK diangkat menjadi landbouwleraar (guru pertanian) di Pariaman sekaligus menjadi kepalanya. Itulah sekolah pertanian pertama di Sumatra. Tahun 1919 ia pindah ke Fort de Kock dan menulis beberapa laporan tentang sistem pertanian di Sumatra’s Westkust. Tahun 1920 ia pindah ke Aceh. Di sana ia mengepalai pula sebuah sekolah pertanian dan melakukan eksperimen tentang penanaman lada dan kelapa dengan biaya dari pemerintah yang jumlahnya tak kurang dari f 38.000,-

Dari 1922 sampai 1924 AASK menjadi guru pertanian di Normalschool Padang Panjang. Akan tetapi AASK tidak puas dengan sistem sekolah pemerintah itu. Ia menilai sekolah-sekolah pemerintah membuat lulusannya tidak punya daya kreatifitas, hanya berharap menjadi ambtenaar saja. Maka ditinggalkannya kesenangan dan gaji besar sebagai guru senior di Padang Panjang. Pulanglah ia ke kota kelahirannya, Lubuk Sikaping, dan didirikannyalah di sana Mohammedan Lyceum yang sudah disebutkan di atas.

Pembela Islam, No. 8, Th. I., Mei 1930,hlm.25

Mungkin tahun 1939 adalah puncak dari kritisisme AASK kepada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada tahun itu ia memimpin organisasi para guru di Sumatra’s Westkust mengajukan motie (mosi) untuk memprotes penggunaan seri buku pelajaran Bahasa Minangkabau Lakeh Pandai, Kini LahPandai, dan Dangakanlah karangan M.G. Emeis. Penggunaan seri buku itu merupakan bagian dari politik pendidikan Pemerintah Kolonial Belanda untuk mereduksi pengaruh bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, yang makin menguat. (Lebih detil mengenai hal ini, lihat: Suryadi, “Vernacular intelligence: Colonial pedagogy and the language question in Minangkabau”, Indonesia and the MalayWorld 34,100 (2006): 315-344.) Mosi itu dibicarakan dalam sidang Minangkabauraad di Padang. AASK dan kawan-kawannya memplesetkan judul buku Lakeh Pandai menjadi Lakeh Pandia. Menurut mereka penggunaan buku teks berbahasa Minangkabau itu di sekolah-sekolah merupakan langkah mundur, sebab orang Minangkabau sudah terbiasa berbahasa Melayu dalam ragam tulis. Mosi itu akhirnya didengarkan oleh Pemerintah, dan penggunaan seri buku karangan Emeis itu di sekolah-sekolah dibatalkan.

Demikianlah sedikit kisah hidup Abdoel Azis Soetan Kenaikan yang tarikh wafatnya belum kami ketahui. Semoga biografi pendek beliau ini akan disempurnakan oleh orang lain di kemudian hari.

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 14 Juni 2015

Sumber foto: 1) Parada Harahap, Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij Bintang Hindia, 1926:di muka hlm. 124); 2) Pembela Islam: Madjallah Comité  “Pembela Islam” Bandoeng, No. 8, Th. I, Mei 1930:25).


Responses

  1. Reblogged this on Bukit Tinggi Heritage and commented:
    Orang Minangkabau bercakap menggunakan Bahasa Minang namun apabila dalam menulis maka mereka akan menggunakan Bahasa Melayu

  2. […] cara orang Malaysia bercakap. Untuk yang satu ini ada kejadian menarik di masa Belanda dimana seorang guru asal Minangkabau memimpin para guru di Sumatera Barat mengajukan Mosi memprotes penggunaan Seri Buku Pelajaran […]

  3. Betul tuan. Kenaikan adalah salah seorang yang memimpin protes itu. Seri buku pelajaran yang diprotes itu adalah: LAKEH PANDAI, KINI LAH PANDAI, dan DANGAKANLAH karangan M.G. Emeis. Hal itu saya bahas dengan detail dalam artikel saya ini: http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13639810601130184?journalCode=cimw20


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: