Posted by: niadilova | 06/04/2015

Minang Saisuak #217 – Taher Marah Soetan (1890-1953): Goodfather-nya Kaoem Pergerakan

67342ed2e2d14ee8ff88bfd71891bb40_vxdfhb

“Tokoh yang satu ini bolehlah disebut sebagai goodfather-nya kaum pergerakan di Padang pada awal Abad ke-20″, tulis Hasril Chaniago dalam bukunya 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (Padang: Citra Budaya, 2010:493). Sebagaimana dicatat oleh Hasril (hlm. 493-497), kisah hidup Taher, ayah mantan menteri agama Tarmizi Taher ini, penuh dengan dedikasi dan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, yang mayoritas tetap menjadi warga kelas paling bawah dalam susunan masyarakat kolonial di Hindia Belanda.

Taher lahir di Padang Panjang tahun 1890 dari pasangan Syekh “Babulu Lidah”, seorang ulama Naqsyabanbdiyah di Tanah Datar, dan Saridah yang berasal dari Pariaman, tapi sudah lama menetap di Padang Panjang. Taher merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 dari 5 tahun sekolah dasar. Selebihnya, ia menimba berbagai macam pengetahuan secara otodidak.

Hampir sepanjang usianya, Taher tinggal di Padang, di mana ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, dan dunia intelektual dan pergerakan. Hal itu sudah dimulainya semenjak ia berusia 28 tahun. Sambil bekerja di perusahaan agen perkapalan di Teluk Bayur (Emmahaven), Taher menerajui Sjarikat Oesaha (SO), sebuah organisasi yang dibentuknya dengan beberapa intelektual pribumi lainnya pada tahun 1914 yang bertujuan untuk menggalang aksi sosial, memajukan pendidikan pribumi, dan sebagai wadah pertemuan para intelektual pribumi/kaum pergerakan untuk saling bertukar pikiran dan mencari berbagai ikhtiar untuk memajukan bangsanya. Dalam SO, Taher merupakan primus inter pares sekaligus sebagai mentor bagi kalangan kaum muda yang berikhtiar memajukan diri dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa Taherlah yang memfasilitasi berdirinya Jong Sumatranen Bond (JSB) cabang Padang pada 1918 yang kemudian diorganisir oleh Hatta, Bahder Djohan, dan lain-lain. (Tugu peringatan kongres pertama JSB di Padang itu masih ada sampai sekarang di dekat Taman Melati, Padang).

Salah satu warisan dari usaha nyata Taher di bidang pendidikan yang masih dapat dilihat sampai hari ini adalah Perguruan Adabiah (Adabiah school) di Padang. SO yang dipimpin oleh Taher mendirikan sekolah partikulir ini tahun 1915, yang kemudian sejak 1916 berdiri secara resmi dan diberi subsidi penuh oleh Pemerintah. Parada Harahap yang mengunjungi sekolah ini mencatat: “[W]aktoe pemboekaan sekolah itoe tahun 1916, moeridnja tjoema 90 orang, dalam mana ada 75 laki[-laki] dan 15 perempoean.” Tapi pada tahun 1925, saat ia mengunjungi sekolah ini, sudah berkembang menjadi “3 sekolah, jaitoe Adabiah I boeat H.I.S., Adabiah II H.I.S. dan satoe lagi Frobelschool.” Jumlah muridnya sudah mencapai 750 orang yang diajar oleh 4 guru Eropa (yang punya hoofdacte) dan 12 guru pribumi (7 lelaki, 2 perempuan). Parada begitu terkesan dengan kerapian administrasi sekolah ini dan dedikasi dan wibawa Taher yang begitu tinggi di kalangan guru-guru Adabiah school dan intelektual pribumi di Padang pada umumnya (Parada Harahap, Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij ‘Bintang Hindia’, 1926, hlm.103-4). Taher juga berjasa memperjuangkan diterimanya pengajaran agama Islam di sekolah MULO milik Pemerintah (Chaniago, 2010:495-6).

Demikianlah sekelumit kisah hidup Taher Marah Soetan, seorang intelektual Minangkabau yang, seperti halnya Dr. Abdoel Rivai, tidak pernah merasa minder berhadapan dengan white ruling class orang Belanda. Seperti dicatat Chaniago, Taher biasa ikut dalam pertemuan-pertemuan di rumah bola (societeit) dan memiliki kuda pacuan, bahkan juga memiliki mobil pribadi, sesuatu yang jarang terjadi di kalangan orang pribumi di zamannya. Taher diangkat pula menjadi anggota Gemeente Raad Padang. Pada Zaman Jepang, ia ditangkap karena disangka pro Belanda, tapi kemudian dibebaskan.Di awal kemerdekaan, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) (Chaniago, ibid.: 496-7).

Mendekati akhir hayatnya, Taher menderita sakit parah. Hatta dan Yamin sempat membezuknya sebelum mentor kaum muda Minangkabau itu wafat pada 4 Juni 1953 di Padang (Chaniago, ibid.: 496-7).

Suryadi – Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 5 April 2015 (Sumber foto: Parada Harahap, Dari pantai ke pantai.., di muka hlm. 104).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: