Posted by: niadilova | 16/02/2015

Minang Saisuak #210 – Meisjesvervolgschool di Maninjau (1928)

97be733ec3fe617aaaeb728109e20df8_minang-saisuak-sgl-minggu-15-februari-2015-meisjesvervolgschool-di-maninjau-1928

Foto klasik yang kami turunkan kali ini direproduksi dari sebuah laporan yang berjudul “Vervolgschool [sekolah lanjutan] oentoek anak2 perempoean di Manindjau“. Sekolah ini menambah sekolah-sekolah yang sudah ada di negeri tepian danau biru dilingkung bukit itu.

Mula-mula di Maninjau hanya ada satu inlandsche school saja. Namun kemudian, karena antusiasme anak negeri itu kepada pendidikan modern, maka didirikanlah sekolah-sekolah yang lain. Meisjesvervolgschool ini adalah salah satu di antaranya. Selain itu, perkumpulan anak negeri Maninjau juga mendirikan H.I.S. Muhammadiyah. Kita tahu bahwa Haji Rasul (ayah Hamka) adalah salah seorang pemimpin Muhammadiyah yang bermastautin di Maninjau.

Foto ini dibuat pada tahun 1928 ketika 20 orang murid sekolah tersebut yang tamat akan dilepas oleh guru-gurunya. Dalam gambar kenang-kenangan ini terlihat anak-anak itu dan guru-gurunya berkodak bersama. Perhatikan nomor yang menandai guru-guru yang ikut berfoto: no. 1 adalah Malim Habib, kepala sekolah itu; no. 2 Atoen, guru bantu; no. 3 Radjinans, guru bantu; no. 4 Habib St. Maharadja, Guru Kepala Inlandsche School Maninjau (suami encik Malim Habib); dan no. 5 Kepala Negeri Maninjau.

Meisjesvervolgschool Maninjau mengajarkan kepada murid-muridnya tentang “jang menjadi keperloean bagi seorang perempoean, misalnja pendidikan, memasak, mengoeroes roemah tangga, dan beberapa matjam jang bergoena oentoek pergaoelan”.

Sejak awal abad 20 gema kemajuan menjalar ke seluruh alam Minangkabau. Sejak Sjarifah Nawawi dan Fort de Kock dan Saadah dari Seberang Padang, dua orang anak perempuan Minangkabau, masuk Kweekschool Fort de Kock, maka terbukalah pikiran orang untuk menyekolahkan anak-anak perempuan mereka. Meskipun demikian, tetap masih banyak tantangan dari kaum kolot. “Tetapi seorang journalist koeno jang pintar, Datoek Soetan Maharadja[,] dapat menghilangkan keberatan-keberatan [dari kaum kolot] itoe perlahan-lahan dengan mengadakan sekolah Tenoen, dalam mana ketjoeali moerid-moerid perempoean diadjarkan bertenoen dan merenda, tetapi toelis menoelis poen mendapat kesempatan poela“, demikian kata Parada Harahap tentang “pergerakanperempoean [Minangkabau]” dalam bukunya Dari pantai ke pantai: perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926. Weltevreden: Uitgevers Maatschappij “Bintang Hindia”, 1926, hlm.82.

Maka sejak itu, kaum perempuan Minangkabau terus berikhtiar memajukan diri. Mereka mendirikan berbagai perserikatan, seperti Vrouwbond, Meisjesbond, dan Perserikatan Kaoem Iboe, yang bergiat memelekhurufkan kaumnya, sehingga muncullah surat kabar seperi Soenting Melajoe, SoearaPerempoean dan Asjraq.

Meisjesvervolgschool Maninjau adalah secebis kisah dari sejarah panjang gerakan perempuan Minangkabau, yang buah ranumnya kini dinikmati oleh kaum wanita Minangkabau.

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 20, Th. VIII, 8 April 1929, hlm. 309). |Singgalang, Minggu, 15 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: