Posted by: niadilova | 02/02/2015

Minang Saisuak #208 – Perkumpulan Pelajar JULIUS Koto Gadang (1906)

769d30802df6c74ed5802c9474d1c7e8_minang-saisuak-sgl-minggu-1-februari-2015-perkumpulan-pelajar-julius-koto-gadang-1906

Sebagaimana sudah umum diketahui, Koto Gadang (dalam teks-teks lama sering ditulis ‘Kota Gedang’) adalah sebuah nagari yang sejak semula sudah menerima dengan tangan terbuka ide sekolah sekuler yang diperkenalkan oleh Belanda pada pertengahan abad 19. Beberapa kali rubrikMinang Saisuak sudah mengekspos tokoh-tokoh plitik, pegawai-pegawai pemerintah, pedagang besar, dan intelektual Minang asal Koto Gadang yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah sekuler itu.

Kali ini rubrik Minang Saisuak menurunkan foto perhimpunan anak-anak sekolah asal Koto Gadang yang bernama KinderVeneeniging Julius (selanjutnya disebut KVJ). KVJ didirikan tahun 1906 di Koto Gadang. Anggota perhimpunan ini adalah anak-anak Koto Gadang yang bersekolah di Fort de Kock (Bukittinggi), termasuk mereka yang bersekolah di sekolah milik Studiefonds Kota Gedang yang pada bulan Juli 1929 pengelolaannya diambil alih oleh Pemerintah untuk kemudian dijadikan HIS (Hollands Inlandsche School).

VIJ dimaksudkan ’soepaja lid-lidnja sekeloear dari pekarangan sekolah, lidahnja tidak kakoe berkata-lata dalam bahasa Belanda. Mereka yang tidak mempraktekkan bahasa Belanda akan ‘didenda dengan oeang banjaknja 1 pitis garis (1/12 gobang).‘ Selain itu, anak-anak itu juga diajari sport. Lihatlah gaya pakaian anak-anak itu, layaknya gaya pakaian orang Eropa. Tidak ada penjelasan, kenapa perkumpulan ini dinamakan ‘Julius’, nama yang agak berbau ke Yunani.

Gagasan mendirikan KVJ datang dari Soetan Indra, seorang pedagang (handelaar) di pasar Fort de Kock. (Beliau tidak ikut berfoto). Perhimpunan ini hidup beberapa tahun lamanya sebelum akhirnya mati. Foto ini (yang terbitkan Pandji Poestaka thn 1929) dimaksudkan untuk menghidupkan lagi perhimpunan (semacam) ini di Koto Gadang. Disebutkan bahwa di antara anak-anak yang terlihat dalam foto ini, ‘soedah ada 7 orang jang mendjadi Indisch Arts, 2 orang Chef Telefoonkantoor, Veearts(dokter hewan), Opzichter dan Commies pada kantor Goebernemen.

Foto ini merekam sejarah kegigihan orang Koto Gadang mencapai kemajuan. Para ninik mamak dan ayah (yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, seperti Soetan Indra yang hanya pedagang itu) serta seluruh unsur masyarakat Koto Gadang bahu-membahu menyekolahkan anak kemenakan mereka untuk dapat mencapai kemajuan. Apakah masih ada semangat seperti ini sekarang di nagari-nagari di Minangkabau yang sudah hampir genap 70 tahun merdeka ini?

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Pandji Poestaka No. 38, Th. VII, 10 Mei 1929: 594) | Singgalang, Minggu, 1 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: