Posted by: niadilova | 05/01/2015

Renung #46 | Akik

“Batuan kalsedon (SiO2) yang tersusun berlapis-lapis dan berbagai warna, biasanya perhiasan”, demikian penjelasan sederhana mengenai kata akik dalam sebuah edisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Tapi jelas bahwa batu akik tidak sekedar punya makna sesederhana itu. Budaya batu akik adalah bagian dari kultur perhiasan orang Indonesia, di Minangkabau, Jawa, dll., yang terkait dengan berbagai hal. Demikianlah umpamanya, batu akik tidak bisa dilepaskan dari budaya maskulinitas. Batu akik yang terdiri dari berbagai warna dan beragam nama, baik yang diikat dengan emas maupun perak atau suasa, sering bertengger di jari manis dan/atau jari tengah kaum lelaki. Bahkan ada lelaki yang memasang cincin akik di seluruh jari tangannya, dengan berbagai ukuran, yang kadang-kadang kelewat besar untuk ditenggerkan di jari. Saya masih ingat ketika di kampung dulu, kalau ada perempuan yang bercincin akik, maka orang menganggapnya bersifat kajantanjantanan (kelelaki-lelakian). Namun, kini kalau ada wanita bercincin akik, orang mungkin menganggapnya sesuatu hal yang biasa saja.

Nama akik itu sendiri belum diketahui asal usulnya secara pasti. Seorang teman di laman Facebook saya mengatakan bahwa akik berasal dari kata Arab aqiq’ yang berarti ‘warna merah tua’. Akan tetapi mungkin juga ada semacam onomatope yang terkandung pada nama akik. Kawan tersebut mengatakan pula bahwa di kalangan ulama ada kegemaran menyimpan jenis batu akik tertentu. Mungkin ini semacam hobi, tapi siapa tahu mungkin juga ada nilai-nilai religius yang mereka percayai dari batu akik.

Di Minangkabau, seingat saya, batu akik asosiatif dengan kaum parewa. Saya masih ingat, di tahun 1970-an dan 80-an, para pemilik pedati, misalnya, selalu bercincin akik di jari mereka. Sampai batas tertentu cincin ini menjadi semacam senjata juga, selain berfungsi sebagai perhiasan: senyampang terjadi perkelahian, kalau cincin batu itu mendarat di jidat lawan, mungkin bisa menimbulkan bengkak batonyong.

Kenyataan yang tampak menunjukkan bahwa budaya batu akik berkelindan pula dengan unsur-unsur yang bersifat magis dan supranatural, suatu arketip kepercayaan lama yang masih terus merentang benang merahnya hingga ‘Zaman Samsung’ ini. Sudah sering kita dengar bahwa ada batu akik yang dianggap cocok dipakai oleh orang tertentu dan ada yang dianggap tidak atau kurang cocok dan bisa mendatangkan ketidakberuntungan kepada si pemakai. Batu akik yang cocok dipercayai dapat memberikan syafaat dan keberuntungan kepada pemakainya. Bagi seorang peneliti, dongeng-dongeng (jualan/bualan pedagang batu akik) seputar batu akik ini tentu menarik untuk direkam dan dianalisa.

Fitri Dahlia di laman Facebook saya menjelaskan bahwa bagi penjual atau pembeli, apalagi kolektor batu akik, yang paling utama adalah penjiwaannya. Para pencandu batu akik memiliki keterikatan batin yang kuat dengan jenis batu akik tertentu. Ibarat melihat lawan jenis yang menimbulkan rasa kesengsem: bila jatuh hati pada pandangan pertama, maka segala cara akan dilakukan untuk memilikinya. Dalam keadaan seperti itu, mistis, misteri, dan sugesti saling bercampur dan saling mendukung, bahkan bisa jatuh ke syirik, jika dipandang dari perspektif agama (Islam).

Batu akik kecintaan akan disayang, kadang melebihi rasa cinta kepada istri: batu-batu akik koleksi pribadi akan disimpan di tempat yang terbaik, dengan tataan dan susunan yang rapi jali, dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, diseka-seka dan dibelai mesra, dipandang dengan penuh cinta, diajak bicara, terkadang dibawa ke tempat tidur seolah batu itu bernyawa seperti manusia, membuat kehangatan kepada pasangan di ranjang turun jadi suam-suam kuku.

Banyak pertanyaan yang dapat diajukan seputar budaya batu akik ini, misalnya tentang produsen (pencari dan penjual) dan konsumen (pembeli, pemakai): siapa, dari kelas sosial dan etnis apa mereka berasal. Juga Nilai ekonominya. (Konon ada batu akik yang harganya sampai ratusan juta rupiah).

Apa hubungan batu akik dengan personal dan social identity? Saya lihat banyak pejabat publik yang jarinya dihiasi dengan cincin akik besar berlapis emas dan suasa dari jenis yang terbaik. Apakah dapat dikatakan bahwa besar kecilnya cincin akik di tangan seseorang dan jenis logam mulia pengikatnya merepresentasikan tebal-tipisnya isi kantong orang itu?

Mitos-mitos seputar batu akik ini tentu menarik pula didokumentasikan dan digali, suatu sisi menarik dari kosmologi lokal bangsa kita. Juga menarik untuk diketahui, bagaimana pandangan masyarakat, khususnya kalangan Islam, terhadap mitos-mitos seputar batu akik itu.

Konon ada pula sekarang Batu Akik Award. Ini tentu aspek duniawi lain dari dunia para pencandu batu akik. Demikian pula halnya dengan nama-nama yang diberikan kepadanya – lumuik Sungai Dareh, Lumuik Suliki, Lumuik karang, badar basi, dan dalimo, untuk sekedar menyebut contoh – yang tentu saja menarik pula dianalisa secara linguistik.

Saya coba menelusuri literatur klasik mengenai budaya batu akik dalam masyarakat kita, tapi belum saya temukan. Dugaan saya, budaya batu akik ini muncul kerena akses masyarakat umum ke sumber-sumber emas dan intan milik mereka diambil alih oleh kuasa asing pada akhir abad 19. Argumen ini didukung oleh kemunculan kata akik pada sebuah pantun Minang dari periode itu:Bacincin parmato akiak / Talatak di ateh atok / Mato lah pueh dek mancaliak / Tangan tak buliah mangakok’. Kalau kita mau menautkan makna pantun itu dengan argumen saya di atas: pantun itu mengandung semacam makna sindiran bahwa emas hanya dapat dilihat, tapi tak bisa dimiliki. Ini mengingatkan kita pada munculnya budaya minum kawa (kopi daun) karena buah kopinya sudah dikuasai oleh penjajah Belanda. Namun, hipotesis ini tentu perlu dibuktikan lebih jauh.

Singkat kata, kebiasaan bercincin akik dalam masyarakat kita adalah satu objek kajian budaya yang menarik. Banyak hal yang bisa diungkapkan dari tradisi modern pemujaan terhadap batu mulia ini. Di zaman sosial media ini, batu akik menjadi perbincangan pula di laman-laman Facebook. (Nasibnya berbeda dengan budaya gelang akar bahar yang sekarang lenyap.) Sejauh yang saya amati, kebanyakan postingan berasal dari orang-orang yang berlatar etnis Minangkabau. Prof. Abdul Hadi WM mengatakan bahwa para pedagang batu akik di Jakarta memang berasal dari etnis Minangkabau. Apakah tradisi batu akik ini juga ada di kalangan etnis lain? Ini tentu akan dapat ditelusuri melalui penelitian yang mendalam.

Padang Ekspres, Minggu, 4 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: