Posted by: niadilova | 29/12/2014

Renung #45 | Sumpah

Sumpah mungkin sudah menjadi menu keseharian umat manusia. Mungkin tidak ada orang yang belum pernah bersumpah dalam hidupnya, paling tidak bersumpah dalam hati – semacam tekad kuat – untuk melakukan sesuatu.

Pada hakekatnya sumpah adalah suatu peringatan terhadap diri seseorang yang mengandung ancaman. Praktek dan tujuannya bermacam-ragam, dan sangat terkait dengan agama dan budaya tempatan. Ini terefleksi dalam berbagai macam sumpah yang dikenal dalam budaya Indonesia: sejak sumpah serapah sampai sumpah pocong, sejak sumpah mati berdiri sampai sumpah dimakan biso kawi’.

Di kalangan kaum Muslim Indonesia dikenal sumpah dengan menggunakan Al-Qur’an, tidak terkecuali dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana dideskripsikan oleh G.W.W.C. van Hovell dalam artikelnya “Over den eed der Maleiers ter Sumatra’s Westkust” (Tentang sumpah di kalangan orang Melayu di Pantai Barat Sumatra) dalam jurnal Tijschrift Bataviaasch Genootschap Wan Kunsten en Wetenschappen Jilid 26 (1881): 529-537.

Seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Minangkabau di abad ke-19, akibat pengaruh Kaum Paderi, sumpah menggunakan Al-Qur’an makin sering dipraktekkan orang. Menurut Van Hoevell, dalam melakukan sumpah orang Minangkabau memperlakukan Al-Qur’an dengan cara berbeda-beda, sesuai dengan jenis dan hakekat sumpah yang dilakukan. Apabila seseorang disumpah untuk membuktikan benar atau tidaknya suatu tuduhan yang dituduhkan kepadanya, maka orang itu disuruh melangkahi atau menginjak Al-Qur’an. Jika sebuah sumpah dilakukan berkaitan dengan janji, khususnya yang terkait dengan jabatan publik, maka Al-Qur’an akan ditaruh di atas kepala orang itu, sebagaimana masih dapat dilihat sampai sekarang di Indonesia dalam upacara pengambilan sumpah terhadap para pejabat negara.

Salah satu sumpah dengan menjujung Al-Qur’an yang cukup awal terjadi pada masa Perang Paderi. Pada 21 Februari 1821 Kaum Adat secara resmi menyerahkan wilayah darek kepada Kompeni Belanda yang bersedia membantu mereka melawan Kaum Paderi. Perjanjian diadakan di Padang di bawah sumpah menjujung Al-Qur’an dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sutan Raja Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan (Amran 1981:409).

Mungkin di zaman sekarang hampir setiap hari kita mendapat informasi dari media cetak dan elektronik tentang orang yang disumpah: satu atau sederetan orang yang memakai jas, dasi, dan kopiah kinclong yang sedang diambil sumpahnya oleh representatif otoritas agama dengan mengangkat (sebenarnya tidak pas disebut ‘menjujung’) Al-Qur’an di atas kepada mereka. Mereka adalah para pejabat publik yang sedang disumpah/bersumpah.

“DEMI ALLAH, saya bersumpah. Bahwa saya, untuk diangkat sebagai Kepala [jabatan yang akan diduduki], baik langsung maupun tidak langsung, dengan rupa atau dalih apapun juga, tidak memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kepada siapapun juga. Bahwa saya, akan setia dan taat kepada Negara Republik Indonesia. Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau perintah harus saya rahasiakan. Bahwa saya, tidak akan menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja dari siapapun juga, yang saya tahu atau patut dapat mengira, bahwa ia mempunyai hal yang bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan saya. Bahwa dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan, saya senantiasa akan lebih mementingkan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seorang atau golongan. Bahwa saya, senantiasa akan menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah dan Pegawai Negeri. Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan semangat untuk kepentingan Negara”.

Demikianlah kutipan teks sumpah yang sudah diucapkan oleh ribuan pejabat publik di seantero negeri ini, dan ribuan lagi yang akan dilantik.

Orang yang masih kuat keyakinan agamanya mungkin dapat membayangkan bahwa jika (sebagian besar dari) ribuan pejabat negeri ini mengingkari janji-janji penting dalam teks sumpah jabatan yang suci itu, yang telah mereka ucapkan dengan kata ‘DEMI ALLAH’ dan dengan Al-Qur’an (firman-firmanNya) yang diletakkan lurus di atas ubun-ubun mereka, maka mungkin Allah akan mengirimkanbiso kawi’ dan racun ula mangiang’ kepada mereka, keluarga mereka, dan negeri mereka, juga di akhirat nanti.

Terus merajalelanya korupsi yang dilakukan oleh para politikus negeri ini mengindikasikan bahwa sumpah dengan ‘menjujung’ Al-Qur’an sudah kehilangan kesakralannya dan jatuh menjadi ‘ritual’ tak bermakna, tak lebih dari sekedar rutinitas protokoler di dunia politik dan kekuasaan. Bagi yang suka mempermainkan Tuhan, sumpah suci itu akan cepat dilupakan, secepat ia diucapkan.

Tampaknya di zaman yang semakin materialistis ini, sumpah pun telah mengalami penduniawian. Makin banyak orang yang bersumpah sambil senyum (dalam hati) saja, sebagaimana direfleksikan dalam sebait pantun Minangkabau: Urang malukah manikalak / Indak rotan katayo lai / Urang basumpah sadang galak / Indak kami picayo lai’.

Padang Ekspres, Minggu, 28 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: