Posted by: niadilova | 29/12/2014

Minang Saisuak #203 – Bagindo Zainoeddin Rasad: Putra Pariaman angkatan pertama insinyur pertanian Indonesia

c1f4278476fc4c09cd69640a77198ef9_minang-saisuak-sgl-minggu-28-desember-2014-bagindo-zainoeddin-rasad

Rubrik Minang saisuak kali ini menghadirkan biografi salah seorang tokoh nasional asal Pariaman yang hidup di akhir zaman kolonial dan awal kemerdekaan: Ir. Bagindo Zainoeddin Rasad.

Zainoeddin adalah anak ketiga dari pasangan Bagindo Mohamad Rasad dan Sari (Utiah Sarikayo). Zainoeddin punya tiga saudara kandung: Djamaloeddin, Boerhanoedin, dan si bungsu Siti Fatimah (Upiak Kamek). Belum diketahui tarikh lahirnya Zainoeddin, tapi diperkirakan tahun 1884. (Si sulung Djamaloeddin lahir tahun 1880).

Kelak kakak beradik Djamaloeddin dan Zainoeddin bersekolah ke Negeri Belanda. Kemudian disusul pula oleh salah seorang saudara jalan kemenakan oleh beliau: Bagindo Dahlan Abdoellah (lihatMinang saisuak 24-08-2014). Zainoeddin mengambil sekolah tinggi pertanian (Landbouwhoogeschool) di Wagenigen dan Djamaloeddin mengambil sekolah menengah pertanian (Middelbare Landbouw School), juga di Wageningen. Zainoedin berhasil meraih gelar insinyur dan Djamaloeddin berhasil meraih gelar sarjana muda pertanian. Namun, menurut sebuah sumber, Djamaloeddin Rasadlah yang disebut-sebut sebagai putra Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar insinyur (pertanian) di Negeri Belanda (Sinar Baroe, 20 April 1945:3).

Zainoeddin dan saudara-saudaranya menghabiskan masa kecilnya di Pariaman. Tentu saja dunia pantai dan surau merupakan bagian dari masa kanak-kanaknya. Zaonedin bersaudara juga dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah sekuler (Sekolah Rakyat) di Pariaman.

Setamat sekolah rakyat, Zainoedin dan dua saudaranya (Djamaloeddin dan Dahlan Abdoellah) melanjutkan sekolah mereka di Kweekschool Fort de Kock (Bukittinggi). Sedangkan Siti Fatimah masuk Sekolah Keputrian yang juga berada di Fort de Kock. Diperkirakan keempat berdensanak itu bersekolah di Fort de Kock antara 1908-1913. Setamat dari Kweekschool Fort de Kock, ketiga bujang Pariaman itu – Djamaloeddin, Zainoeddin, dan Dahlan Abdoellah – melanjutkan studi mereka ke Negeri Belanda.

Tampaknya pada 1909 (atau lebih awal) Zainoeddin sudah berada di Belanda, sebab kakaknya ‘Baginda Djamaloeddin [Rasad]‘, sudah tercatat sebagai pengurus Perhimpoenan Hindia (PH) pada tahun 1909 dengan alamat ‘Markt, Wageningen’, kota tempat dia mengambil studi pertanian (landbouwkunde). PH adalah sebuah organisasi para pelajar Indonesia di Belanda yang didirikan olehR. Soetan Casajangan Soripada dkk. pada 28 Oktober 1908 di Leiden. Sangat mungkin Zainoeddin dan Djamaloeddin sama-sama berangkat ke Negeri Belanda pada 1908 atau 1909. Pada tahun 1911 koranBendera Wolanda mencatat ‘Baginda Zainoeddin bin Mohamad Rasad’ yang beralamat di ‘Nieuwe Rijn 28, Leiden’ juga menjadi anggota PH (Poeze, 2008:68,79).

Setelah mengambil beberapa kurus di Universitas Leiden, Zainoeddin melanjutkan studinya keLandbouwhoogeschool di Wageningen, menyusul kakaknya. Studi Zainoeddin berjalan lancar. Dia pulang ke tanah air dengan membawa gelar insinyur pertanian.

Tampaknya sampai 1918 Zainoeddin masih berada di Belanda, sebab pada tahun itu dia masih tercatat sebagai mahasiswa senior di Landbouwhoogeschool di Wageningen (lihat namanya dalamGedenkschrift ter herinnering aan de opening van de landbouwhoogeschool te Wageningen, 9 Maart 1918. Wageningen: H. Vbunman, 1918:55). Mungkin baru selepas tahun itu dia pulang ke Indonesia.

Sekembalinya di tanah air, Ir. Zainoeddin Rasad bekerja di Batavia (Jakarta). Mula-mula dia bekerja di Balai Poestaka (sampai menjadi Hoofdredacteur Bahasa Melayu). Kemudian dia keluar dari Balai Poestaka karena mendapat pekerjaan sebagai ‘Landbouw Consulent di Bandoeng’ (Pandji PoestakaNo. 10, Tahoen 1, 8 Maart 1923:11).

Setelah bertugas di Bandung itu, tampaknya Ir. Zainoeddin Rasad berpindah-pindah tempat kerja lagi. Dia antara lain pernah ditugaskan menjadi leraar en internaathoofd di Mosvia Fort de Kock pada1 Mei 1929 sampai 1 Agustus 1930 (lihat Haroen Al rasjid, J.M. Poerba dan R. Mapaoeng, Mosvia nieuws: herinneringsnummer gewijd aan de opheffing der Mosvia Fort de Kock. Fort de Kock: TYP. V. Drukkerij “Agam”, 1932:55). Setelah itu dia kembali ke Jakarta. Karier Zainoeddin terus meningkat. Pada tahun 1940-an dia terpilih menjadi salah seorang anggota kabinet St. Sjahrir. Keluarga Zainoeddin Rasad tinggal di kawasan elite Jl. Cut Mutia no.1. Zainoeddin juga pernah tinggal di Bogor, di dekat Istana Bogor. Rumah di Jl. Cut Mutiah menjadi tempat transit bagi sanak saudara Zainoeddin yang datang dari kampung ke Jakarta.

Ir. Bagindo Zainoeddin Rasad menikah dengan Siti Tjahajadani, anak Demang St. Abdul Madjid. Mereka dikaruniai seorang anak saja: Syahriar Rasad (lahir di Padang, 7 Desember 1920, meninggal di Jakarta, 9 Mei 1989), yang kelak menjadi profesor radiologi terkenal di Universitas Indonesia.

Demikianlah kisah singkat riwayat hidup Ir. Bagindo Zainoeddin Rasad. Putra Pariaman generasi pionir insinyur pertanian bumiputera Indonesia itu meninggal di Jakarta tanggal 21 Juli 1952 dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Eniarti Djohan/keluarga Zainoeddin Rasad) |

Singgalang, Minggu, 28 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: