Posted by: niadilova | 08/12/2014

Minang Saisuak #200 – Meisjeskopschool di Pariaman

72c3e14a26e0d39c992f8fb85aa6d24e_meisjeskopschool-di-pariaman

Sejak awal abad ke-20 mulai muncul perhatian untuk menaikkan harkat dan derajat kaum wanita pribumi. Sebelumnya gerakan itu hanya terbatas pada sekelompok kecil anak perempuan dari keluarga ningrat yang pada umumnya terjadi di Jawa. Munculnya gerakan untuk memajukan kaum wanita itu tidak lepas dari keputusan Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan politik etis (etischepolitiek) di Hindia Belanda mulai tahun 1901.

Di Minangkabau, gerakan untuk memajukan kaum wanita itu segera disambut pula oleh masyarakat dengan antusias. Dalam rubrik Minang saisuak edisi Minggu 11 Februari 2011 sudah kami turunkan profil Sjarifah Nawawi, gadis Minang pertama yang masuk sekolah sekuler (Skweekschool) di Fort de Kock tahun 1907 (lihat: http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/672). Kiprah Sjarifah diikuti oleh gadis-gadis Minang berikutnya, yang akhirnya melahirkan wanita-wanita Minang edukatif.

Kali ini kami menurunkan sebuah kodak klasik yang mengabadikan murid-murid dan guru-guruMeisjeskopschool di Pariaman. Foto ini diambil sekitar tahun 1927. Meisjekopschool, yang sering diterjemahkan menjadi ‘Sekolah Kejuruan Wanita’ atau ‘Sekolah Kepandaian Putri’, adalah sejenis sekolah yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak perempuan pribumi. Sekolah ini berbeda dengan Sekolah Tenun (Weefschool) yang juga pernah ada di Pariaman (lihat: rubrik Minang saisuak edisi 16 November 2014; http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/1396) dan daerah-daerah lainnya di Sumatera Barat (misalnya di Singkarak; lihat: rubrik Minang saisuak, 5 Januari 2014,http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/1184). Selain di Pariaman, Meisjeskopschool juga didirikan di banyak daerah lain, seperti di Medan, Balige, Kabanjahe, dll, dan tentu saja juga di Pulau Jawa.

Kodak ini dibuat ketika Meisjeskopschool Pariaman, S.W.K. [Sumatra’s Westkust] dikunjungi oleh Engku Sutan Baheramsyah (ejaan asli: Soetan Baheramsjah), Hoofdschoolopziener (Kepala Penilik Sekolah) di Sumatera Barat dan Engku Ibrahim gelar Saidi, Schoolopziener (Penilik Sekolah) di Pariaman sekitar tahun 1927. Dalam foto ini kelihatan Sutan Baheramsyah duduk di kursi sebelah kiri dan Ibrahim duduk di kuris sebelah kanan, diselingi oleh murid-murid sekolah itu yang ketika itu jumlahnya 133 orang. Mereka diajar oleh tiga orang guru yang dalam foto ini juga ikut diabadikan dalam foto ini. Selanjutnya disebutkan bahwa dalam kesempatan itu para murid sekolah ini memperagakan kepandaian mereka dalam jahit-menjahit, merenda Palembang, menerika, mencuci dan memasak.

Meisjeskopschool telah ikut merubah mindset kaum pria tentang kaum wanita. Para peneliti tentang sejarah gerakan emansipasi wanita di Indonesia tentu perlu meneliti keberadaan sekolah ini di banyak tempat di akhir zaman kolonial sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai sejarah pergerakan kaum wanita di negara ini. Mudah-mudahan akan ada kanidat PhD yang menjadikannya sebagai topik disertasi. Pasti menarik!

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 71, Thn V, 6 September 1927:1261) |Singgalang, Minggu, 07 Desember 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: