Posted by: niadilova | 01/12/2014

Renung #41 | BBM

BBM (bahan bakar minyak) naik lagi harganya. Naiknya makin menjadi-jadi sejak Rezim Soeharto jatuh di tahun 1998. Lebih dahsyat dan lebih berani dari presiden-presiden sebelumnya, Presiden Indonesia yang baru, Jokowi, segera menaikkan harga BBM hanya kurang sebulan setelah beliau naik ke tampuk kekuasaan. Sekarang harga satu liter bensin Rp. 8.500.

Muncul berbagai pertanyaan dalam masyarakat. Ketika harga minyak dunia turun, harga BBM di Indonesia kok malah dinaikkan oleh pemerintah? Muncul pula suara: Presiden Jokowi telah mengkhianati pemilihnya yang kebanyakan wong cilik, yang langsung merasakan dampak kenaikan harga BBM hasil keputusan sang presiden pilihan mereka dalam pemilu lalu.

Ada juga yang berpendapat, tanpa dinaikkan, dengan patokan harga semula, pemerintah sebenarnya sudah untung. Rumor dan bisik-bisikpun berseliweran. Ada yang menduga kebijakan itu adalah jalan pintas untuk mendapatkan kembali biaya kampanye pihak yang berkuasa yang dihabiskan dalam pemilu lalu. Bisik-bisik lain mengaitkannya dengan rencana kehadiran ribuan SPBU asing.

Seiring dengan naiknya harga BBM (atau malah sering mendahuluinya), harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat juga merangkak naik. Itu berarti biaya hidup otomatis juga akan ikut naik, terutama sekali harga barang-barang kebutuhan pokok (bahan pangan), mulai dari beras sampai bada masiak. Para analis memperkirakan, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM akan menambah 60 juta lagi orang miskin di Indonesia.

Pemerintah menganggap subsidi BBM hanya dinikmati oleh golongan menengah dan kaya di negeri ini. Bensin dan solar bersubsidi kebanyakan mengalir ke dalam tangki-tangki mobil orang kaya. Kalangan rakyat berderai tetap sulit mendapatkan BBM, apalagi di daerah-daerah terpencil. Harga bensin dan solar di Papua, misalnya, jauh lebih mahal dari harga di Jawa.

Di Indonesia, persoalan BBM tak pernah tuntas. Negara tidak pernah mampu mengatasinya dan terkadang terkesan berlepas tangan. Banyak pihak menuding bahwa produksi, pasokan, distribusi, dan penentuan harga bahan bakar di Indonesia dikendalikan oleh jaringan mafia lapar uang yang berlindung di balik ketiak negara (atau yang memanfaatkan kelemahan pemerintah). Mereka mempermainkan harga BBM, karena memang kebutuhan yang satu ini langsung menyangkut hayat hidup orang banyak. Walaupun BBM dinaikkan tiga atau empat kali lipat dari sekarang, masyarakat terpaksa menerimanya. Mereka sudah tak berkutik di bawah telapak sepatu rezim penguasa, tak banyak bedanya dengan keadaan di zaman kolonial.

Akan tetapi, lepas dari soal pengurangan atau penghapusan subsidi BBM, kita sebagai rakyat kecil ingin bertanya: kapan negara besar dan kaya sumber alam yang bernama Indonesia ini bisa keluar dari lingkaran dadurat bahan bakar ini? Kapan orang-orang dapat membeli bensin dan solar dengan tenang di POM POM bensin tanpa terus-menerus merasa khawatir pasokan bensin dan solar akan habis?

Lihatlah negara-negara lain di sekitar kita, juga yang jauh. Rakyatnya tidak pernah khawatir akan kehabisan pasokan bahan bakar. Tidak pernah kita lihat di Malaysia, misalnya, ada papan pengumuman di POM bensin: ‘Bensin habis!’ atau ‘Solar habis!’ Pemerintah Malaysia mampu menyedian pasokan BBM yang cukup untuk rakyatnya. Masyarakatnya tidak pernah khawatir besok atau lusa bensin akan habis.

Walaupun Petronas baru kemarin lahir, dan banyak belajar dari Pertamina, perusahaan perminyakan Indonesia, perusahan perminyakan Malaysia itu lebih mampu menyediakan pasokan BBM untuk warga negaranya. Di Indonesia, justru hal sebaliknya yang terjadi. Sudah sejak dari Zaman Kolonial di banyak tempat di negeri ini ditemukan sumber minyak – di Plaju, Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu, Sungai Gerong, Cepu, dan Balikpapan, untuk sekedar menyebut contoh. Akan tetapi rakyat Indonesia tetap berada dalam kondisi darurat BBM sampai hari ini, berpuluh tahun setelah negeri ini merdeka.

Persoalan BBM di negara kita berada antara mitos dan kenyataan. Sudah sejak zaman kolonial minyak digunakan oleh kekuatan-kekuatan politik untuk melanggengkan kekuasaan dan memperkaya diri. Mitos itu antara lain adalah: bahwa negara kita tidak punya sumber energi minyak yang cukup. Oleh sebab itu pemerintah terpaksa mengimpor minyak dari negara lain.

Di lain pihak, masyarakat Indonesia menunjukkan pola hidup yang sangat konsumtif, juga menyangkut BBM. Jumlah kendaraan bermotor naik tajam setiap tahun. Hal ini didorong oleh buruknya sistem transportasi publik. Sekarang di banyak rumah ditemukan lebih dari satu kendaraan bermotor. Impor kendaraan bermotor tidak pernah dibatasi.

BBM naik, demonstrasi muncul di mana-mana. Akan tetapi Presiden Jokowi tampaknya tidak khawatir. Dia sepertinya yakin benar bahwa gejolak itu hanya akan berlangsung sesaat, lalu kawula akan diam dan minta ber-selfie ria lagi dengan dirinya.

Yang langgeng hanyalah penderitaan rakyat kecil, yang tampaknya masih belum akan berakhir, walau negara ini sudah memperoleh seorang presiden ‘pilihan wong cilik’.

Padang Ekspres, Minggu, 30 November 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: