Posted by: niadilova | 25/08/2014

Minang Saisuak #187 – Bagindo Dahlan Abdullah: Duta RIS di Irak (1950)

77ed13f27172bf3515595b71c00d3009_minang-saisuak-bagindo-dahlan-abdullah-duta-ris-di-irak-1950

Dalam minggu ini sebuah perhelatan diadakan di Pariaman untuk meresmikan nama baru untuk sebuah jalan di kota itu: Jalan Pahlawan Baginda Dahlan Abdullah. Untuk itu, pada minggu ini tiga tulisan bersambung disajikan dalam harian ini untuk memperkenalkan sosok Bagindo Dahlan Abdullah. Kata ‘Baginda’ pada namanya merujuk pada catatan-catatan kolonial yang menuliskannya seperti itu.

Rubrik Minang Saisuak kali ini memfokuskan uraian pada sosok Bagindo Dahlan Abdullah sebagai Duta Republik Indonesia Serikat untuk Kerajaan Irak, Syria, dan Trans-Jordania yang berkedudukan di Bagdad pada tahun 1950. Kemudian disajikan puka kesan-kesan para sahabat terhadap beliau. Secara ringkas disebutkan di sini perjalanan hidup Bagindo Dahlan Abdullah: 1895-1914 di kampung halaman (Sumatera Barat); 1914-1922 di Negeri Belanda (khususnya Leiden); 1922-27 Maret 1950 di Indonesia (khususnya Jakarta); 28 Maret – 12 Mei 1950 di Bagdad, Irak. Tulisan ini berfokus pada sekuen terakhir masa hidup Bagindo Dahlan Abdullah. Kisah hidup beliau secara komprehensif telah diuraikan dalam tiga tulisan tersebut dan satu versi yang lebih singkat juga sudah terbit dalam Minang Saisuak edisi 29 Desember 2013.

Setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat, Presiden Sukarno mengangkat beberapa orang Duta untuk negara-negara sahabat. Bagindo Dahlan Abdullah ditunjuk untuk pos Irak, Syiria, dan trans-Trans Yordania, berkdudukan di Bagdad. Beliau berangkat menuju Irak pada 27 Maret 1950 (DeLocomotief, 23-3-1950). Tugas itu tentu sangat berat, mengingat kondisi keuangan dan juga administrasi Departemen Luar Negeri Indonesia yang boleh dibilang masih bayi pada waktu itu.

Rupanya Dahlan hanya sempat menjalankan tugasnya selama tiga bulan saja. Beliau wafat pada tanggal 12 Mei 1950 di Bagdad karena serangan jantung. Kepergian beliau selamanya tidak sempat disaksikan oleh istri dan beberapa anak beliau yang waktu itu masih berada di Jakarta. Atas nasehat diplomat senior H. Agus Salim, jenazah Dahlan kemudian dimakamkan dengan upacara kenegaraan Kerajaan Irak di Mesjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Bagdad (Het Nieuwsblad voor Sumatra, 15-5-1950). Menurut Haji Agus Salim, dengan dimakamkan di Bagdan, almarhum akan dikenang lama dan akan menjadi simbol tali persahabatan Indonesia dan Irak.

Semasa hidupnya, H. Bagindo Dahlan Abdullah adalah pribadi yang hangat dan oleh karena itu beliau mempunyai banyak teman. ‘Papa’, demikian beliau dipanggil oleh anak-anaknya, ‘berteman dengan banyak orang yang sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia’, demikian kenangan Gandasari terhadap ayahnya. Harian Merdeka (15 Mei 1950) menulis: “[D]ikalangan pemimpin2 jang sudah landjut umurnja nama Dahlan Abdullah sudah tidak asing lagi, jang memberikannja nama djolokan “Lach en Abdullah” karena sifatnja jang selalu riang gembira. Dia teman sewaktu dari almarhum Dr. Ratulangi, almarhum [M.H.] Thamrin dan Monotutu, Tan Malaka dan lain2″.

Demikianlah sekuen terakhir kisah hidup Bagindo Dahlan Abdullah, putra Minang asal Pariaman yang namanya diabadikan untuk nama sebuah jalan di kampung halamannya mulai Agustus ini.

Singgalang, Minggu, 24 Agustus 2014 (Sumber foto: Arsip keluarga Bgd Dahlan Abdullah)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: