Posted by: niadilova | 10/02/2014

Renung #02 | Terbang

Terbang adalah usaha sia-sia manusia menggulung jarak dengan mengorbankan rasa kangen dan gamang. Setidaknya itu yang saya rasakan, yang juga mungkin dirasakan oleh banyak orang lain, ketika terbang dari Amsterdam ke Jakarta dengan pesawat Garuda akhir Januari lalu. Kedua kota yang berjarak hampir setengah keliling bumi itu ditempuh pulang-pergi dalam waktu sekitar 32 jam (termasuk waktu transit di Abu Dhabi) yang pada awal abad ke-17 dilintasi Jan Pieterzoon Coen, si pendiri kota Jakarta itu, dengan kapal Hoorn selama kurang lebih 8 bulan.

Akan tetapi Coen yang menempuh perjalanan dengan berlayar mungkin menikmati kebahagiaan tersendiri, dan kita kini yang melintasi jarak ribuan mil dengan terbang dalam waktu yang jauh lebih singkat mungkin menghadirkan rasa galau yang tak terjelaskan. Dan semua itu tiada lain karena hakekat dan rahasia waktu yang tak kunjung terungkapkan oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia.

Terbang adalah derita terseksi manusia modern. Di dalam pesawat terbang setiap jiwa dirundung perasaan tegang, walau mungkin tak ditampakkan dalam raut wajah. Hal itu sudah terlihat sejak di ruang tunggu bandara: jika pengumuman boarding disampaikan, semua orang bergeduru masuk ke dalam perut pesawat; selama berada di atas awan-gemawan orang-orang selalu resah mematut jarak yang sudah ditempuh dan yang masih akan dilalui (ada yang tidur dengan jiwa terjaga); ketika pesawat mendarat dan bergerak mendekati ‘belalai gajah’, para penumpang sudah tak sabar ingin meloncat turun sambil mengaktifkan telepon genggam masing-masing. Pada momen itu wajah pramugari yang tercantik pun seperti terlempar ke sudut terjauh sel-sel otak para penumpang. Orang-orang bergegas ke tempat pengambilan bagasi dan secepat mungkin ingin meninggalkan kawasan bandara yang baru kemaren atau satu-dua jam lalu buru-buru mereka datangi karena tak ingin ketinggalan pesawat.

Ketika terbang ‘waktu real’ bertolak belakang dengan ‘waktu perasaan’: ‘waktu real’ dirasa melambat sehingga, seperti kata Elly Kasim dalam selarik lagu Minang: ‘sahari raso sataun’. Itu yang saya amati dan rasakan ketika berada dalam Airbus A330-300 dalam perjalanan Amsterdam – Jakarta pp. minggu lalu.  Dalam perut pesawat yang berkapasitas 400 penumpang dan mampu terbang nonstop sejauh 10.500 km. (jarak Jakarta – Amsterdam 11,650 km.) di ketinggian 35.000 kaki dengan kecepatan hampir 800 km/jam itu waktu terasa berjalan sangat pelan.

Hampir tak ada mata yang tak mencorong berkali-kali ke layar monitor yang memperlihatkan pergerakan pesawat yang beringsut seperti siput menuju titik destinasi terakhir. Bagi yang mempercayai adanya Tuhan seperti saya, setiap turbulence yang menyebabkan burung besi seberat 233.000 kg itu terguncang-guncang, membuat mereka terbayang pada gerbang el-maut dan keluarga yang ditinggalkan; bagi yang ateis, itu mungkin berarti tambahan semangat untuk memesan lebih banyak bir dan anggur kepada pramugari.

Makin pendek waktu perjalanan dan makin efektif penggunaannya karena teknologi pesawat terbang, makin stres orang menjalaninya. Dulu ketika bus atau kapal telat sehari, orang seperti bisa memaklumi; kini ketika jadwal pesawat terlambat setengah jam saja, para penumpang ngamuk dan marah-marah.

Terbang, dengan demikian, adalah ‘perangkap waktu’ yang dibuat sendiri oleh manusia modern untuk mengurung dirinya dalam kerangkeng yang tak kasat mata. Ia berkontribusi pada penciptaan problem kejiwaan manusia modern. Ketika Wright bersaudara berhasil menciptakan pesawat terbang tahun 1903, mereka mungkin berpikir telah mampu menaklukkan waktu. Namun dalam kenyataannya, dengan terbang yang mampu mengerutkan waktu ribuan kali lipat, manusia modern justru makin kajang dan kejang mengejar-ngejarnya.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 9 Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: