Posted by: niadilova | 07/02/2014

H. Bgd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Bag. #2)

Dahlan Abdullah melanjutkan sekolah ke Belanda

ddddda306e006e5bdf040ae72c91f243_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-02Setamat dari Kweekschool Fort de Kock, atassokongan keluarga dan karena kepintarannya, Dahlan mendapat kesempatan pergi belajar ke NegeriBelanda bersama dua sepupu beliau, putra Pariaman lainnya, yaitu Zainuddin Rasad and Jamaluddin Rasad. Mereka bertiga tercatat sebagai putra Pariaman pertama yang mendapat pendidikan di Eropa (Negeri Belanda). Dahlan mengambil studiindologi di Universitas Leiden dan Zainuddin Rasad mendalami hukum di universitas yang sama, sementaraJamaluddin Rasad mengambil kuliah tentang pertanian (landbouw) di Deventer. Masih belum jelas mengapa ketiganya, yang merupakan anak pedagang biasa dan kadi di Pariaman, bisa memperoleh kesempatan bersekolah ke Negeri Belanda, yang pada masa itu lebih diperuntukkan bagi anak-anak elit pribumi saja.

Sesampainya di Belanda Dahlan Abdullah segera masuk ke dalam kultur akademik Universitas Leiden yang dinamis-universitas tertua di Belanda yang berdiri tahun 1575. Dia ikut kursus untuk memperoleh diploma Europese Hoofdacte dari Universitas Leiden, dan lulus tahun 1915. Pada tahun berikutnyadia mendaftar diFakultas Indologi Universiteit Leiden (Belanda) dan kemudianberhasil menggondoldiploma dalam Bahasa Melayu dan Antropologi (Volkenkunde).

Universitas Leiden dengan Jurusan Indische Taal-, Landen Volkenkunde-nya telah memainkan peranan penting sejak resmi berdiri tahun 1864 sampai akhir zaman kolonial. Banyak mahasiswa dari Indonesia (waktu itu masih disebut ‘Dutch East Indies’) sudah berhasil lulus dari jurusan ini dan dari mereka kebanyakan mengabdi dalam administrasi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, di samping tak sedikit pula yang memilih kerja profesional. Banyak pula dosen dan guru besarnya menerbitkan berbagai macam publikasi mengenai aspek budaya, bahasa, agama, dan sistem sosial masyarakat pribumi Hindia Belanda. Beberapa di antaranya menjadi penasehat penting Pemerintah Kolonial Hindia Belanda*5. Menjelang akhir abad ke-19 gairah akademik untuk mengeksplorasi Hindia Belanda makin meningkat di Leiden. Banyak sarjana ternama di tingkat doktor melakukan penelitian bahasa dan etnologi ke Hindia Belanda. Beberapa proyek besar digagas oleh para profesor dan dosen-dosen universitas ini. Salah satu yang spektakuler di antaranya adalah Central Sumatra Expedition yang diprakarsai oleh Profesor P.J. Veth yang bersifat interdisipliner dan melibatkan beberapa ilmuwan dan pegawai administrasi Kolonal Hindia Belanda seperti zoolog Johannes F. Snellman dan A.L. van Hasselt dari Departemen Administrasi Internal. Central Sumatra Expedition*6 dikordinasikan olehKoninklijk Nederlands Aardrijkskudig Genootschap (Perkumpulan Kerajaan Belanda untuk Geografi) dan pendanaannya didukung oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Ekspedisi ini dimulai awal 1877 berlangsung sampai awal 1879 *7.

Aktifitas politik dan akademik Dahlan Abdullah selama tinggal di Belanda

Munculnya nasionalisme Indonesia yang menentang penjajahan Belanda di akhir abad ke-19, yang berlanjut sampai awal abad ke-20, memberi dampak timbal balik kepada studi Indischetaal-, landenvolkenkunde di Uninversitas Leiden. Di satu pihak, kebangkitan nasionalisme Indonesia itu antara lain telah didorong oleh para intelektual pribumi yang mendapat pendidikan di beberbagai universitas di Belanda, termasuk Universitas Leiden. Di lain pihak, kebangkitan nasionalisme Indonesia itu telah mendorong pula lebih banyak lagi anak muda Indonesia pergi ke Negeri Belanda untuk menuntut ilmu. Dahlan Abdullah adalah salah seorang di antara sedikit pemuda negeri jajahan Belanda yang bertuntung itu. Universitas Leiden adalah salah satu pilihan favorit para mahasiswa Indonesia, terutama di bidang budaya dan hukum (lihat Poeze 1989). Kota Leiden juga pilihan favorit bagi mahasiswa Indonesia untuk berkumpul dan, seperti telah dicatat oleh sejarah, Leiden adalah tempat berkembangnya Perhimpoenan Indonesia (PI) (Indonesische Vereeniging) organisasi politik pelajar Indonesia di Negeri Belanda yang memperjuangan kemerdekaan tanah air mereka*8.

Selama berada di “negeri penjajah”*9 itu, para pelajar Indonesia, yang berasal dari berbagai latar belakang etnis dan ideologi, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sepanjang dekade-dekade pertama abad ke-20 Leiden menjadi salah satu ladang persemaian bagi tumbuhnya nasionalisme Indonesia. Di bawah bendera Perhimpoenan Indonesia-semula bernama Indische Vereeniging, Pehimpunan Hindia, berdiri tahun 1908 di Belanda-para pelajar Indonesia di Negeri Belanda mengadakan kegiatan ilmiah, politik, dan budaya di berbagai kota di Negeri Belanda dan negara-negara Eropa lainnya dengan tujuan akhir untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Seperti telah sama kita ketahui, tokoh-tokoh penting organisasi ini, seperti Mohamad Hatta, Noto Soeroto, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Sam Ratulangie, dll., terlibat aktif dalam politik praktis untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai ketika mereka telah kembali di tanah air.

Selama berada di Belanda, Dahlan Abdullah menyalurkan perjuangan politiknya melalui PI. Pada tahun 1920-an dia menjadi salah seorang pengurus (voorzitter) organisasi kebanggaan para pelajar Indonesia di Belanda itu. Dahlan aktif dalam setiap pertemuan politik yang diorganisir oleh PI yang bertujuan untuk memperjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Dia juga aktif dalam organsiasi ‘Soematra Sepakat’ yang menghimpun mahasiswa-mahasiswa dari Pulau Sumatra yang belajar di Negeri Belanda (lihat: De Sumatra Post, 31-7-1919). Dia bersahabat baik dengan Bung Hatta selama keduanya berada di Belanda. Dahlanlah yang menemani Hatta saat pertama kali tiba di Negeri Belanda, mengantarkan beliau keliling Eropa, dan memperkenalkan beliau dengan tokoh-tokoh nasionalis Indonesia di Eropa.Dalam memoir-nya (lihat edisi pertama, 1979: 106-108,133, 114, 116, 118-122) terlihat betapa Hatta dan Dahlan Abdullah sangat akrab. Hatta sering mampir dan menginap di kamar kos Dahlan di Leiden.

Selain aktif dalam pergerakan politik untuk memberjuangkan kemerdekaan bangsa bangsanya, selama berada di Belanda Dahlan Abdullah juga aktif dalam dunia akademik. Dia mengikuti banyak seminar dan pertemuan akademik, khususnya yang membahas peningkatan pendidikan untuk masyarakat pribumi di tanah airnya. Demikianlah umpamanya, dia antara lain menjadi pembicaradalam Kongres Pertama Pendidikan Kolonial (Eerste Koloniaal OnderwijsCongres) yang diadakan di Den Haag tgl. 28-30 Agustus 1916 (lihat: Algemeen Handelsblad, 24-3-1916; Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 6-5-1916). Dalam kongres itu ikut pula sepupunya, Jamaluddin Rasad, yang menjadi siswa di Landbouwschool (Sekolah Pertanian) di Deventer (De Telegraaf, 31-8-1916). Demikian pula halnya dalam Kongres Pertama Indonesisch Verbond van Studeerenden yang diadakan di Wageningen, Dahlan Abdullah aktif memperjuangkan peningkatan pendidikan untuk bangsanya. Laporan lengkap dari kongres itu ditulisnya bersama Mevrouw S. Ratu Langie-Houtman, dan Goenawan Mangoenkoesoemo (1919). Sebagaimana dalam banyak pertemuan lainnya, Dahlan bersuara vokal dalam kongres itu, memintan perhatian Belanda untuk menambah dana bagi pendidikan di Hindia Belanda, daerah jajahannya yang sudah mensejahterakan negeri iduknya, Belanda sendiri.

Tahun 1919 Dahlan diangkat menjadi Asisten Dosen Bahasa Melayu di Universitas Leiden dibawah bimbingan ahli Bahasa Melayu, Prof. Van Ronkel yang pernah lama tinggal di Sumatra. Beliau tercatat sebagai penutur asli (nativespeaker) pertama dalam pengajaran Bahasa Melayu di Universitait Leiden, universitas tertua di Belanda yang berdiri 1575 *10. Bersamaan dengan itu diangkat pula Mas Samsi Sastrawidagda sebagai asisten pengajaran Bahasa Jawa di Leiden (lihat: Bataviaasch Nieuwsblad, 2-10-1919). Jabatan itu dilepas Dahlan pada tahun 1922 karena beliau harus kembali ke Pariaman. Seorang mahasiswa yang juga berasal dari Pariaman, St. Muhammad Zain, ayah dari Mantan Gubernur Sumatra Barat, Prof. Dr. H. Harun Zain, menggantikan posisi Dahlan sebagai penutur asli untuk pengajaran Bahasa Melayu di Universiteit Leiden (lihat: De Telegraaf, 28-7-1922).

ddddda306e006e5bdf040ae72c91f243_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-02

Dalam catatan-catatan kolonial nama Dahlan ditulis: Baginda Dahlan Abdoellah. Aktivitas politik yang telah dijalani oleh Dahlan dan kawan-kawannya di Negeri Belanda dapat dibaca dalam buku Harry A. Poeze Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950. Jakarta: KPG dan KITLV-Jakarta, 2008. Dalam buku itu terlihat Dahlan berfoto dengan anggota pengurus Perhimpoenan Indonesia lainnya. Walaupun Dahlan bekerja di Universitas Leiden, tapi kritiknya terhadap Pemerintah Belanda yang mengkoloni Indonesia tak pernah melunak. Pidato-pidatonya dalam pertemuan-pertemuan anggota Perkumpulan Indonesia selalu mengeritik pedas penjajah Belanda, demikian catatan Poeze (ibid.). Tujuan akhir Indonesia tiada lain adalah kemerdekaan Indonesia yang membebaskan kaum sebangsanya dari penjajahan Belanda, demikian isi pidatonya yang pedas yang disampaikan dalam satu pertemuan para anggota dan penyokong Perhimpoenan Indonesia di Den Haag tahun 1918 (lihat: Algemeen Handelsblad, 1-12-1918).

Bersambung…

Suryadi |Leiden-Pariaman, 11 Februari 2014 (dibacakan oleh Iqbal Alan Abdullah) pada ceramah ‘Mengenang Kepahlawanan Putra Pariaman: H. Bagindo Dahlan Abdullah’ yang difasilitasi oleh Pemkot Pariaman, Pariaman, 15 Februari 2014.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: