Posted by: niadilova | 06/02/2014

H. Bgd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Bag. #1)

Nasionalisme seorang Putra Pariaman, mengenang kepahlawanan H. Bagindo Dahlan Abdullah (1895 -1950) *1

Pengantar

99f382ce8a0fc115cf8b1ba1c104797a_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-01Kota Pariaman sudah berusia ratusan tahun. Kota ini sudah lama memegang peranan penting sebagai entrepot (pelabuhan-gudang) dengan segala fluktuasinya. Pada zaman kejayaan perdagangan laut di pantai barat Sumatra (sampai akhir abad ke-19), pelabuhan Pariaman telah disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar negeri (Kato 1986; Asnan 2002). Di sini antara lain komoditi perdagangan dari pedalaman Minangkabau ditumpuk sebelum dikapalkan ke pelabuhan-pelabuhan lain di pantai Barat Sumatra dan juga pelabuhan-pelabuhan Asia lainnya. Bahkan jauh sebelum VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) secara resmi menguasai pantai barat Sumatra-melalui Perjanjian Painan (PainanschContract) tahun 1663 *2 – Pariaman sudah disinggahi oleh kapal-kapal yang datang dari Gujarat, Arab, dan Cina untuk membeli komoditas perdagangan dari Pulau Sumatra, khususnya lada dan emas (Bulbeck etal. 1998).

Menurut Hamka (1982:4) nama Pariaman berasal dari bahasa Arab ‘Barri Aman’ yang artinya ‘tanah daratan yang amat sentosa’. Boleh jadi nama itu ada benarnya, mengingat entrepot Pariaman-yang sering ditulis Priaman dalam sumber-sumber Belanda – (dan Tiku di utaranya) sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dan hasil bumi lainnya dari pedalaman Minangkabau. Dan sepanjang abad ke-15 sampai ke-17 dataran rendah Pariaman memberi kemakmuran kepada penduduknya karena penanaman lada yang telah menarik banyak kapal asing menyinggahi entrepot Pariaman (Kathirithamby-Wells 1969:459-60; Reid 1993 [II]:19-20).

Aktifitas ekonomi di entrepot Pariaman yang ramai telah melahirkan bentuk masyarakat yang boleh dianggap multi kultural. Ada orang Cina, India (Keling), dan bangsa pribumi lainnya. Sifat heterogen penduduknya itu, dari segi sosial, agama, dan budaya, telah menyebabkan orang Pariaman cukup terbuka kepada pengaruh asing.

Penetrasi Belanda ke Pariaman mencapai puncaknya pada 1835 ketika 12 orang penghulu dan enam raja kecil di rantau ini menyatakan setia dan ‘menyerahkan peruntungan’ kepada Kompeni Belanda di Padang. Mereka diwakili oleh Tuanku Syarif Amal dari Pariaman dan Maharajo Nando dari Sunur.*3

Pada akhir abad ke-19 wilayah rantau Pariaman, dengan Pariaman sebagai ibukotanya, sudah berada dalam kontrol Belanda. Pada saat itulah tokoh yang kita akan perbincangkan dalam kesempatan ini dilahirkan. Pada masa itu sekolah sekuler yang diperkenalkan oleh Belanda sudah pula didirikan di Pariaman (lihat Graves 1981). Kehadiran sekolah Belanda itu telah memberi inspirasi bagi orang tua dari kalangan tertentu di Pariaman untuk tidak hanya menyekolahkan anak mereka ke sekolah agama, tetapi juga sekolah sekuler ala Eropa.

Dahlan Abdullah kecil

Sumber-sumber keluarga menyebutkan bahwa Dahlan Abdullah lahir di Pasia Pariaman pada 15 Juli 1895 dari pasangan H. Abdullah, seorang kadi di Pariaman, dan istrinya yang biasa dipanggil ‘Uniang’. Sebagaimana anak-anak Pariaman pada umumnya di masa itu, masa kecil Dahlan dihabiskan dengan bermain-main di pantai, ikut dalam aktifitas dunia nelayan, dan tentu saja mengaji di surau.*4 Selain mengaji si surau, sebagaimana umumnya anak-anak Minangkabau, H. Abdullah yang berpikiran maju menyekolahkan anaknya ke sekolah Melayu (Indischeschool) di Pariaman. Setelah tamatSekolah Melayu di Pariaman, Dahlan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru (Kweekschool) di Fort de Kock (sekarang: Bukittinggi).

Sekolah Radja di Fort de Kock didirikan tahun 1856 atas nasehat seorang penasehat pendidikan kolonial Belanda: Pendeta S.A. Buddingh. Pada mulanya sekolah itu dikepalai oleh asisten-resident J. A. W. van Ophuijsen, dibantu oleh seorang guru pribumi bernama Abdoellatif, anak Toeankoe-Imam di-Kota Gedang ([Nawawi dan Kramer], 1908:10) Mula-mula muridnya hanya 10 orang saja. Antara 1856-1866 hanya 49 murid yang lulus dari sekolah ini, 12 orang di antaranya menjadi guru, sisanya menjadi jurutulis, pakhuismester (kepala gudang kopi), menteri cacar, menteri kopi, dll. Tahun 1869 guru Abdoellatif sakit dan ia digantikan oleh Saidina Asin asal Koto Laweh, Padang Panjang, yang sebelumnya jadi guru Melayu di Bengkulu. Pada masa-masa selanjutnya sekolah ini berkembang sebelum akhirnya redup menyusul pemberontakan Komunisme di Sumatra Barat tahun 1926/1927.

Belum diperoleh ketengan yang pasti mengapa kadi H. Abdullah mendapat kesempatan untuk menyekolahkan anaknya ke Kweekschool di Fort de Kock, sebuah sekolah ala Eropa yang sangat bergengsi pada waktu itu, yang hanya dapat dimasuki oleh anak-anak Tuanku Laras, Engku Demang, dan sedikit golongan elit Minangkabau pada masa itu.Namun, ada kemungkinan kecerdasan Dahlan Abdullah kecil telah menarik perhatian pihak-pihak yang berkuasa di Pariaman pada waktu itu. Adalah hal yang cukup sering terjadi pada zaman kolonial bahwa pejabat-pejabat Belanda yang bertugas di daerah sering bersimpati kepada masyarakat pribumi, antara lain dengan memberi kesempatan kepada anak-anak pribumi yang dianggap pintar untuk disekolahkan ke sekolah ala Eropa seperti Kweekschool di Fort de Kock (lihat misalnya uraian Elizabeth E. Graves tentang respon orang Minang terhadap pendidikan Belanda ini dalam bukunya (1981; lihat Bibliografi). Namun, keputusan H. Abdullah menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda seperti Kweekschoolmenunjukkan orientasi pikirannya yang sudah tercerahkan, walau dia menjabat sebagai kadi yang tentunya Islam.

Dahlan Abdullah tamat dari Kweekschool Fort de Kock tahun 1913. Dan seperti banyak tamatan sekolah ini pada umumnya, karier cemerlang sudah menunggunya; banyak tamatan KweekschoolFort de Kock menjadi guru dan pegawai yang ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia.

99f382ce8a0fc115cf8b1ba1c104797a_h-bagindo-dahlan-abdullah-nasionalisme-seorang-putra-pariaman-01

Bersambung…

Suryadi | Leiden-Pariaman, 11 Februari 2014 (dibacakan oleh Iqbal Alan Abdullah) pada ceramah ‘Mengenang Kepahlawanan Putra Pariaman: H. Bagindo Dahlan Abdullah’ yang difasilitasi oleh Pemkot Pariaman, Pariaman, 15 Februari 2014.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: