Posted by: niadilova | 13/01/2014

Minang Saisuak #158- Paviliun Minangkabau di Pameran Kolonial Semarang

5cb6b181c002cad834c455d01285888d_minang-saisuak-paviliun-minangkabau-di-pameran-kolonial-semarang-1914

Pada tahun tahun 1914, selama empat bulan (22 Agustus – 22 November), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengadakan Pameran Kolonial di Semarang. Dalam pameran itu berbagai unsur budaya dari etnis-etnis yang hidup di Hindia Belanda dipertunjukkan, tidak terkecuali Minangkabau.

Rubrik Minang Saisuak kali ini menurunkan foto klasik yang mengabadikan Paviliun Minangkabau dalam Pameran itu. Paviljoens en gebouwtjes, waaronder rechts een rijstschuur, in Minangkabaustijl op de Koloniale Tentoonstelling te Semarang’, demikian judul foto ini tercatat di koleksi KITLV Leiden, Belanda. Terlihat satu miniatur rumah gadang dengan rangkiang-nya.

Pada dekade-dekade terakhir abad ke-19 sampai tahun 1930-an, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sering mengorganisir pameran-pameran lintas etnis yang tujuannya untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan juga untuk memperoleh tambahan pajak untuk mengisi kas Pemerintah. Selain itu, pameran-pameran seperti itu juga dimaksudkan untuk mempromosikan produk-produk ekonomi Hindia Belanda dan sekalian untuk mempromosikan budaya-budaya lokal. Tujuannya tiada lain untuk mencari pemasukan finansial bagi Pemerintah melalui produk ekspor dan pariwisata. Selain Pameran Kolonial yang berskala relatif besar, sering juga diadakan apa yang disebut sebagai kegiatanpasar malam’ di berbagai kota.

Pameran Kolonial yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda bahkan juga diadakan di luar negeri (di Eropa). Sejarah promosi produk budaya dan ekonomi oleh kolonialis Belanda di luar negeri ini sudah ditulis dengan lengkap oleh Marieke Bloembergen dalam bukunya Colonial spectacles: The Netherlands en the Dutch East Indies in the world exhibitions, 1880-1931 (translator: Beverly Jackson). Singapore: NUS Press, 2006 (aslinya dalam bahasa Belanda). Dalam Colonial Exposition di Amsterdam tahun 1883, misalnya, paviliun Minangkabau juga ada.

Sadar atau tidak, saya kira, pameran-pameran kolonial seperti itu juga menumbuhkan rasa keindonesiaan awal, sebab dalam forum seperti itu representasi masing-masing etnis mendapat kesempatan untuk berkenalan satu sama lain.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden) | Singgalang, Minggu, 12 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: