Posted by: niadilova | 06/01/2014

Minang Saisuak #157 – Sekolah Tenun di Singkarak (c. 1910)

abbb20e0f06e83eaa3c21ee87043bcf5_minang-saisuak-sgl-minggu-5-januari-2014

Masyarakat Minangkabau sudah lama mengenal teknologi menenun. Tenunan Minangkabau sangat halus buatannya. Songket dan selendang balapak-nya sangat disukai oleh kaum wanita, tidak hanya di Sumatra Barat tapi juga sampai ke negara jiran.

Rubrik Minang Saisuak’ kali ini menurunkan sebuah kodak lama yang mengabadikan para pelajar sekolah tenun di Singkarak. Di latar belakang terlihat bangunan sekolah mereka yang masih cukup sederhana, dengan papan nama bertuliskan ‘WEEFSCHOOL SINGKARAK’ (Sekolah Tenun Singkarak). Foto ini dibuat sekitar 1910. Semula foto ini merupakan koleksi keluarga L.C. Westenenk.

Nama L.C. Westenenk tentu tidak asing lagi bagi warga Minangkabau di zaman kolonial. Pasangan orang putih yang tampak dalam foto ini (duduk di tengah) adalah L.C. Westenenk sendiri dengan istrinya. Antara 1909-1913 Westenenk menjabat sebagai Asisten Residen Sumatra’s Westkust: tahun 1909 di Fort van der Capellen (sekarang: Batusangkar), tahun 1912 di Fort de Kock (sekarang: Bukittinggi). Sebelumnya, antara 1905-1909 dia menjabat sebagai salah seorang controleur di Sumatra Barat, berkantor di Fort de Kock.

Foto ini tampaknya dibuat untuk mengabadikan kunjungan Westenenk ke Sekolah Tenun Singkarak itu semasa dia menjadi Asisten Residen di Batusangkar. Westenenk adalah pejabat kolonial yang kontroversial. Dia banyak membawa kemajuan di pedalaman Minangkabau tapi juga terkenal keras dan otoriter. Dialah yang memadamkan Pemberontakan Kamang (1908), tapi dia pula yang memperkenalkan tradisi pacu kuda dan pasar malam di darek. ‘Kartini Minang’ Rohana Kudus, pendiri kelompok kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, pernah diundang oleh L.C. Westenenk dan istrinya ke Belanda tahun 1913 untuk berpartisipasi dalam Women Exhibition di Brussels, tapi dia tidak jadi berangkat karena mertuanya tidak memberi izin (Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, 1994:22). Westenenk juga banyak menulis artikel dan buku tentang masyarakat Minangkabau dan daerah lainnya di Sumatra.

Sampai sekarang di beberapa nagari industri tenun masih menjadi mata pencaharian utama, seperti Silungkang, Koto Gadang, dan Pandai Sikek. Sepatutnyalah tradisi yang sudah menjadi pusaka turun-temurun itu tetap dilestarikan.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden) | Singgalang, Minggu, 05 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: