Posted by: niadilova | 16/12/2013

Minang Saisuak #154 – Jemaah Haji dari Mukomuko di Jeddah (1884)

294357d903abbf46b4f13bf5629b2eaa_minang-saisuak-jemaah-haji-dari-mukomuko-di-jeddah-1884

Orang Mukomuko mungkin sudah lama mengenal atau mempraktekkan perjalanan ibadah haji. Sebelum Singapura muncul sebagai embarkasi haji di awal abad ke-19, perjalanan haji orang Sumatra dilakukan dari pantai baratnya ke pelabuhan-pelabuhan di bagian utaranya, di Aceh (Trumon, Pedir, dll.), sebelum dilanjutkan dengan kapal-kapal lain ke Penang, India, dan Tanah Arab.

Oleh sebab itu, Mukomuko, seperti halnya Padang, dan entrepot-entrepot lainnya di pantai Barat Sumatra, sudah lama menjadi embarkasi perantara bagi pemberangkatan jemaah haji dari Sumatra ke Tanah Suci.

Masih dalam rangkaian kisah tentang pengendalian pengaruh haji oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di akhir abad ke-19, rubrik Minang Saisuak kali ini menurunkan foto dua orang jemaah haji asal Mukomuko Dubbelportret van twee hadji’s (hajs) uit Moekomoeko en Indrapoera in het Nederlandse Consulaat in Jeddah”, demikian judul foto berukuran 13,9 x 10,4 cm ini dicatat dalam katalog visual Tropenmuseum, Amsterdam.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, foto-foto mengenai jemaah haji Hindia Belanda seperti ini dibuat atas perintah Prof. Snouck Hurgronje di Konsulat Belanda di Jeddah, tahun 1884. Selain memotret jemaah haji dari Hindia Belanda (dalam jumlah yang cukup banyak), Snocuk juga memotret kelompok-kelompok jemaah haji dari negeri lain seperti India, Afghanistan, Tanzania, danMaroko.

Jika diamati, terlihat bahwa pada abad ke-19 terdapat perbedaan corak pakaian jemaah haji. Ada yang berupa jubah dan sorban necis yang kelihatannya mahal. Yang lain bentuknya sederhana saja. Warna jubah mereka juga berbeda-beda, seperti dapat dikesan dalam foto ini: yang satu berjubah dan bersorban putih, yang lain berjubah dan bersorban hitam. Sangat mungkin kedua orang ini punya status sosial yang cukup tinggi di kampungnya, atau mungkin mereka bagian dari jaringan syekh haji yang memegang peranan penting dalam tradisi berhaji di abad ke-18 dn 19. Banyak foto yang lain menunjukkan jemaah yang bahkan tidak pakai sandal dan memakai pakaian yang sederhana saja.

Kini pakaian ihram yang serba putih dimaksudkan untuk meniadakan perbedaan status sosial di hadapan Tuhan. Tapi kini mereka yang punya uang, dengan fasilitas ONH Plus, tinggal di hotel-hotel Mewah berfasilitas air mandi hangat di dekat Masjidil Haram, sementara yang agak berkekurangan tinggal agak jauh di apartemen yang agak murah. Begitulah manusia, tak pernah jera menyombongkan dirinya kepada Tuhan. Di dekat Baitullah pun mereka tetap memperlihatkan kesombongannya itu.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 15 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: