Posted by: niadilova | 09/12/2013

Minang Saisuak #153 – Jemaah Haji asal Solok di Jeddah (1884)

150ed483656acb81241e00d25f624716_minang-saisuak-jemaah-haji-asal-solok-di-jeddah-1884

Dalam rubrik Minang Saisuak edisi Minggu 10 November 2013 sudah kami turunkan foto sekelompok jemaah haji asal Kerinci. Seperti sudah diinformasikan juga dalam rubrik itu, Konsulat Belanda di Jeddah (berdiri 1869) sengaja membuat foto-foto jemaah haji asal Hindia Belanda atas instruksi Prof. Snouck Hurgronje, penasehat Pemerintah Hindia Belanda yang menjadi guru besar di Universitas Leiden.

Rubrik Minang Saisuak kali ini menurunkan lagi satu foto dari korpus itu. Foto ini mengabadikan dua orang jemaah haji asal Minangkabau, tepatnya dari Solok. Dubbelportret van twee hadji’s (hajs) uit Solok in het Nederlandse Consulaat in Jeddah”, demikian judul kodak tua ini.

Entah siapalah orang Solok yang punya nenek moyang dua orang lelaki ini. Sayangnya, nama mereka tidak disebutkan. Jika saja pas haji yang ada di tangan kedua orang ini masih tersimpan di satu museum atau perpustakaan di Belanda sekarang, dan bisa dilacak, tentu kita tahu siapa nama kedua orang ini beserta data lainnya tentang diri mereka.

Mengutip deskripsi Tropenmuseum Amsterdam tentang foto ini, dikatakan bahwa foto ini adalah potret ganda dua jamaah haji dari Solok (Sumatra) dengan pas haji di tangan. Foto ini dibuat di Konsulat Belanda di Jeddah akhir 1884. Di Jeddah Snouck Hurgronje berkonsentrasi pada pengumpulan informasi sebanyak-banyaknya mengenai jamaah haji yang datang dari berbagai daerah di kepulauan Indonesia. Semua jamaah haji difoto di halaman Konsulat. Di latar belakang foto-foto terlihat tanaman yang sama, jendela dan lantai Konsulat juga kelihatan.

Sesi pemotretan terhadap jemaah haji Hindia Belanda itu digunakan oleh Snouck untuk mendapatkan informasi. Dalam pembicaraan dengan para jemaah, Snouck berusaha memperoleh sebanyak mungkin informasi mengenai kehidupan beragama di tempat asal mereka. Bagaimana kaitan ajaran agama dengan situasi regional dan struktur sosial masyarakat setempat, buku teks yang digunakan, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kesempatan itu digunakan untuk memata-matai jemaah haji Hindia Belanda. Maksudnya tiada lain agar potensi mereka untuk mengganggu hegemoni penjajahan Belanda di Indonesia dapat dieliminir.

Maka berbahagialah jemaah haji Indonesia di zaman kini. Mereka tidak lagi dimata-matai oleh pihak tertentu. Tapi mereka yang pergi (bolak-balik) ke Mekah pakai uang korupsi pasti tetap dimata-matai oleh para penasehat Allah Yang Maha Kuasa. Hati-hatilah!

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam) | Singgalamg, Minggu, 8 Desember 2013


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: