Posted by: niadilova | 05/08/2013

Minang Saisuak #142 – Agus Salim Muda (c. 1902)

2193d0c4de1be51446c3f3fe86f95d64_minang-saisuak-agus-salim-muda-c-1902

Kalau kita bertanya kepada orang tua-tua atau orang Indonesia pada umumnya tentang perawakan Haji Agus Salim, anak Minang yang menjadi diplomat ulung yang pernah dimiliki Republik Indonesia, maka hampir dapat dipastikan mereka akan menggambarkannya sebagai seorang kakek yang bertubuh kecil, sering bersarung Bugis, memakai kacamata minus berbingkai unik, membawa tongkat kemana-mana, berjenggot dan berkumis meranting betung, dan memiliki tatapan mata yang tajam.

Memang perawakan Haji Agus Salim yang seperti itulah yang umum diketahui oleh orang Indonesia, sebab foto-foto Haji Agus Salim yang terdapat dalam buku-buku (pelajaran) sejarah memang foto ketika beliau dalam usia yang sudah agak tua.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan sebuah foto Haji Agus Salim yang mungkin jarang dilihat orang orang Indonesia yang hidup di Zaman Suharto dan Zaman Repotnasi sekarang ini. Foto ini adalah foto Agus Salim sewaktu masih bujang tanggung di akhir abad ke-19. Agus Salim muda, dengan nama kecil Mashdul Haq (pembela kebenaran) terlihat jombang dengan jas dan dasi kupu-kupunya.

Foto ini diambil waktu Agus Salim muda bersekolah di Gymnasium Willem III di Batavia (1897-1902). Kita menjadi tahu sedikit mengenai masa remaja Agus Salim berkat cerita koresponden BintangHindia, Landjoemin [Dt. Toemanggoeng] yang kami sarikan dalam rubrik ini.

Agus Salim lahir di Koto Gadang tgl. 8 Oktober 1884 dari pasangan Siti Zainab dan Sutan Mohamad Salim, seorang hoofddjaksa yang terkenal kelahiran Koto Gadang. Umur 4 tahun Agus Salim pindah ke Tj Pinang, Riau Kepulauan, mengikuti ayahnya yang dimutasikan ke kota itu. Usia 7 tahun ia masuk Belanda Lagere School di Tj. Pinang Otaknyaa ternyata encer, tiap tahun dia naik kelas.

Tamat Lagere School di Tj Pinang, Agus Salim melanjutkan studinya ke Betawi. Ia diterima di Gymnasium Willem III yang bergengsi itu. Tapi selama berstudi di Betawi itulah ia mendapat malaria, yang membuatnya sering sakit-sakitan. Sering dia harus tempo sekolah karena jatuh sakit. Tapi semangatnya membaja. Tahun 1902 Agus Salim muda lulus ujian di tingkat 5 (tingkat tertinggi) dengan posisi nomor 1.

Begitulah cerita masa muda si ‘Abang Kecil’ Haji Agus Salim, yang wafat di Jakarta 4 November 1954. Dan kita sudah sama tahu bahwa setamat dari Gymnasium Willem III Agus Salim berniat melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Tapi cita-cita itu tak pernah tercapai. Ia tidak pernah mendapat sokongan moril dan keuangan dari Pemerintah Kolonial Belanda. Nasibnya berbeda dengan adiknya, Abdoel Chalid Salim, yang justru lewat jalan berliku (dari Digoel) sampai di ‘Negeri Penjajah’ – meminjam judul buku Hary Poeze (2008) dan mati di sana dengan kabilaik yang sudah bertukar (lih.: ‘Minang Saisuak’,Singgalang, Minggu, 6 Januari 2013).

Sekarang kita tahu kenapa si ‘Abang Kecil’ di ketika dewasa sering berjalan pakai tongkat, kelihatan agak bungkuk dan ringkih, tapi dengan mata yang terus menyala. Itulah mungkin warisan malaria yang dideritanya waktu muda yang berketuntang dengan semangat baja yang pantang menyerah.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Bintang Hindia, No. 20. Tahoen jang pertama, 3 Oktober 1903:213) | Singgalang, Minggu, 4 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: