Posted by: niadilova | 17/06/2013

Minang Saisuak #137 – Kantor Telepon Padang

24fedd8ef45b22b6ac3cfa6a1c60f386_minang-saisuak-kantor-telepon-padang

Cikal-bakal teknologi telepon modern ditemukan oleh Alexander Graham Bell di Amerika tahun 1876. Tapi sebelumnya eksperimen-eksperimen untuk membuat alat yang bisa mengantarkan suara manusia sudah dilakukan oleh beberapa orang, seperti John Philipp Reis, Antonio Meucci, Daniel Drawbaugh, dll.

Pada 1883 Perusahaan Telepon Hindia Belanda didirikan di Batavia. Tapi, sebelum itu, di tahun 1856 jaringan telegraf pertama di Hindia Belanda dibangun antara Weltevreden (di Batavia) dan Buitenzorg (kini: Bogor). Di tahun 1918 berlangsung komunikasi pertama menggunakan wireless antara Stasiun di Bukit Malabar di Jawa Barat dengan Stasiun Blaricum di Belanda (Mrazek, 1997:3-5).

Dengan begitu, satu lagi teknologi (komunikasi) baru menyentuh masyarakat pribumi waktu itu. Sebagaimana biasa terjadi, setiap perkenalan masyarakat pribumi dengan teknologi baru selalu menggoncangkan kosmologi/spiritual dan menimbulkan efek ghostliness – meminjam istilah Stephen A. Connor (2000). Jan Fabricius dalam bukunya Tempo doeloe: uit de goeie ouwe tijd (Den Haag: Leopold, 1949) mencatat kebisaan para clerk pribumi di abad ke-19 membungkuk menghormat sebelum mengambil gagang telepon yang berdering karena mereka merasa langsung berhadapan dengan Tuan Eropa mereka.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto klasik Kantor Telepon di Padang. Telefoonkantoor aan de straat Alang Lawas te Padang (Kantor telepon di Jalan Alang Lawas di Padang), demikian judul foto ini yang dibuat sekitar 1920-1926. Belum diperoleh informasi kapan persisnya bangunan ini dibuat. Saya tidak tahu apakah bangunan ini masih ada sekarang atau sudah punah. Rupanya Padang yang sudah relatif tua usianya memiliki cukup banyak bangunan tua bernilai sejarah. Tapi kebanyakan orang, juga penguasa kota ini, tak begitu peduli terhadap warisan sejarah itu. Laku seperti ini jelas mencerminkan apa sesungguhnya arti sebuah kota bagi para penghuninya: sekedar tempat melahirkan anak, mencari pitih (terutama bagi yang berkuasa) dan mati di sana? Atau lebih dari itu?

SuryadiLeiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 16 Juni 2013 (Sumber foto: Indisch Weteschappelijk Institute, Amsterdam).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: