Posted by: niadilova | 29/04/2013

Minang Saisuak #132 – Sebuah Mesjid di Koto Gadang

ea3473cccecb70c0a02b02bd6003ba1a_minang-saisuak-sebuah-mesjid-di-koto-gadang

Nagari Koto Gadang, yang terletak tak jauh dari tubir Ngarai Sianok, akhir-akhir ini mendapat perhatian pers lagi. Hal itu disebabkan oleh pembangunan great wall’ yang memungkinkan orang turun ke Ngarai Sianok. Bangunan baru itu segera menjadi objek wisata bagi masyarakat kita yang haus hiburan ini.

Koto Gadang adalah sebuah nagari yang terkenal di Minangkabau karena berbagai prestasi luar biasa yang diraih oleh anak nagari ini, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Sejak akhir abad ke-19 penduduk Koto Gadang sudah menerima dengan terbuka ide-ide kemajuan yang dibawa oleh orang Eropa (Belanda) ke Minangkabau. Oleh sebab itu penduduk nagari ini sudah lebih dulu maju dibandingkan dengan penduduk nagari-nagari yang lain di Minangkabau. Sudah banyak tela’ah ilmiah maupun laporan jurnalistik mengenai nagari ini. Salah satu yang tertua di antaranya adalah tulisan K.A. James, ‘De Nagari Kota Gedang’ yang dimuat dalam Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur 49 (1916).

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menampilkan sebuah foto klasik yang mengabadikan (sebuah) mesjid di Koto Gadang. “Moskee in Kotagedang” (Mesjid di Koto Gadang), demikian judul foto berukuran 6,9 x 8,2 cm ini. Foto ini dibuat oleh mat kodak Jean Demmeni tahun 1921. Semula foto ini dikoleksi oleh Indisch Wetenschappelijk Instituut (IWI) di Belanda sebelum diserahkan ke Tropenmuseum Amsterdam. Tampaknya mesjid ini sudah lumayan tua juga umurnya. Satu foto lain tentang mesjid ini yang dibuat oleh Woordbury & Page sekitar 1870 juga tersimpan di Tropenmuseum Amsterdam.

Tidak disebutkan apa nama mesjid ini. Yang jelas Koto Gadang sudah lama dimasuki oleh Islam. Ini antara lain terefleksi dalam legenda Tuanku Malim Kecil yang dianggap sebagai orang suci oleh penduduk Koto Gadang (lihat: Jeffrey Hadler 2008:118-19). Kisah Tuanku Malim Kecil dicatat oleh D. Gerth van Wijk dalam artikelnya ‘Een Menangkarbauwsche Heilige’ yang terbit dalam jurnal Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 24 (1877): 224-33.

Terlihat bahwa arsitektur mesjid ini dipengaruhi oleh arsitektur Minangkabau. Atapnya yang bergonjong menunjukkan pengaruh arsitektur rumah gadang. Kubahnya memakai gaya tungkuihnasi, dengan menara yang tidak begitu tinggi. Banyak ahli berteori bahwa sinkretisme agam (Islam) dan adat Minangkabau tidak terjadi. Tapi bentuk fisik mesjid ini jelas menunjukkan terintegrasinya Islam ke dalam adat Minangkabau sebagai efek dari revolusi agama yang terjadi di daerah ini pada paroh pertama abad ke-19. Dua orang lelaki yang berpakaian hitam dan putih yang berdiri di depan mesjid itu juga seakan ingin menunjukkan hubungan harmonis antara adat dan Islam di Minangkabau. Sekarang masih saja ada orang (Minang sendiri) yang mencongkel-congkel permasalahan dengan mengatakan bahwa budaya Minang yang tidak sesuai dengan Islam. Mereka ingin menghapus identitas lokalnya karena berpandangan agama secara sempit.

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Tropenmuseum Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 28 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: