Posted by: niadilova | 11/03/2013

Minang Saisuak #126 – Peresmian Jalan Kereta Api Padang – Bukittinggi

fbf7ad3bc8c600df5b78df6bc370d155_minang-saisuak-peresmian-jalan-kereta-api-padang-e28093-bukittinggi-1894

Pada tahun 1890 Pemerintah Kolonial Belanda mulai membangun jaringan jalan kereta api di Sumatra’s Westkust, menyusul pembangunan pelabuhan Emmahaven (sekarang: Teluk Bayur) yang sudah dimulai sejak 1888. Hadirnya kedua prasarana transportasi modern itu menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat Minangkabau, baik dari segi ekonomi maupun budaya. Kota Padang menjadi lebih ramai dan budaya bandar (urban culture) mulai tumbuh.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan rekaman visual peresmian jalan kereta api di daerah Fort de Kock (sekarang: Bukittinggi). Tampak dalam gambar ini batas terakhir jalan kereta api bergigi yang digunakan untuk rel kereta api dari dataran Pariaman ke kawasan darek. Para pejabat kolonial Belanda dan datuak-datuak bersaluak tentu hadir dalam acara peresmian itu. Terlihat beberapa payung gadang yang mengindikasikan adanya pejabat penting yang sedang berkunjung dipayungi. Di zaman lampau payung adalah semacam simbol kemewahan.

Marawa-marawa (umbul-umbul) juga ditegakkan tanda adanya sebuah helat (pesta) keramaian. Tapi, berbeda dengan marawa tiga corak yang biasa dikenal di Minangkabau sekarang, marawa-marawa yang tampak dalam kodak ini hanya mempunyai satu jenis warna saja: hitam. Penampilan marawa yang berwarna hitam itu seperti melambangkan kaum adat, sebab kaum adat diasosiasikan dengan pakaian warna hitam. Ini memunculkan pertanyaan historis: kapan sebenarnya marawa tigo corakyang dikenal di Minangkabau sekarang (yang konon melambangkan perpaduan tiga elemen pemimpin Minangkabau: kaum ulama, kaum intelektual, dan kaum adat) mulai muncul? Ataukah sebelum munculnya marawa tiga corak, kaum adat, kaum intelektual, dan kaum ulama masing-masing punya marawa sendiri? Memang dalam beberapa laporan Belanda disebutkan bahwa kaum Paderi selalu membawa bendera putih dan al-Quran dengan kantong merah yang digantungkan di dada.

Foto ini dibuat sekitar 1894, kurang lebih empat tahun setelah dimulainya pembangunan jaringan rel kereta api yang menghubungan darek dan Padang. Sebuah foto memang selalu menyimpan cerita sejarah. Melalui foto ini paling tidak kita dapat membayangkan kultur masyarakat kolonial di zaman lampau yang menempatkan manusia dalam segregasi sosial yang ketat dengan aturan-aturan yang tak mungkin kita kembalikan ke masa kini.

Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: KITLV Leiden) | Singgalang, Minggu, 10 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: