Posted by: niadilova | 04/03/2013

Minang Saisuak #125 – Tuanku Laras Sungai Puar dan anak-istrinya

eb96eaf2cc75a0b91fb8525356574868_minang-saisuak-tuanku-laras-sungai-puar-dan-anak-istrinya

Tuanku Laras (larashoofd) Sungai Puar, Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman, adalah salah seorang kepala laras (larashoofd) yang terkemuka di Minangkabau pada zamannya. Beliau menjadi kepala laras Sungai Puar sejak tahun 1870-an sampai 1930-an. Beliau adalah seorang ungku lareh yang bergaul cukup rapat dengan petinggi Belanda. Karena itu rumah gadang sambilan ruang nan salanjakudo balari miliknya, salah satu rumah gadang yang termegah di Sungai Puar pada zamannya, sering mendapat kunjungan para pejabat dan ilmuwan Belanda. Beberapa foto yang mengabadikan interior rumah gadang ini tersimpan sekarang di KITLV Leiden dan Tropenmusemum Amsterdam, Belanda.

Sudah dua kali rubirik ‘Minang Saisuak’ menurunkan cerita mengenai Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman: pertama, edisi 6 Februari 2011 yang menurunkan profil beliau lengkap dengan pakaian kebesarannya; kedua, edisi 22 Juli 2012 yang menurunkan kodak klasik yang mengabadikan beliau bersama sekitar 40 orang anak kemenakannya.

Kali ini rubrik ‘Minang Saisuak’Singgalang Minggu menurunkan lagi satu foto klasik yang mengabadikan Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman dengan keluarga besarnya. Namun, dibandingan dengan foto yang kami turunkan dalam edisi 22 Juli 2012, kelihatan dalam foto ini jumlah anggota keluarga Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman lebih sedikit jumlahnya.Vrouwen en kinderen van het Larashoodf te Soengei Poear” (Istri-istri dan anak-anak Kepala Laras Sungai Puar), demikian judul foto berkuran 8×14 cm. ini. Kodak ini dibuat sekitar 1890. Namun tidak diketahui siapa nama mat kodaknya. Besar kemungkinan latar foto ini adalah halaman rumah gadang Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman sendiri di Sungai Puar.

Dalam foto ini kelihatan 13 perempuan dan 8 laki-laki, termasuk Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman sendiri yang berdiri paling belakang menggendong seorang anak lelaki (kelihatan kepalanya saja). Tampaknya beberapa wanita yang berdiri di lapis kedua adalah istri-istri beliau. Belum ditemukan catatan sahih berapa persisinya jumlah istri ungku lareh kita ini, tapi pastilah ia mempraktekkan poligami, karena di zaman itu orang babaun seperti Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman tentu banyak yang ingin mengambilnya jadi urang sumando.

Perhatikan juga gaya rambut (anak-anak) perempuan waktu itu: kening dilicinkan dengan cara mencukur rambut di kepala bagian depan. Mungkin itu tanda kecantikan perempuan di zaman itu. Sementara anak laki-laki pakai kopiah, di tempat lain konon ada yang pakai gombak. Tampak sebagian dari mereka sudah pakai sepatu dan sandal. Inilah model keluarga Minangkabau terkemuka dan ‘modern’ di akhir 1900-an.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden) | Singgalang, Minggu, 3 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: