Posted by: niadilova | 21/01/2013

Minang Saisuak #120 – Empat Pantolan Komunis Minangkabau di Sumatera Thawalib Padang Panjang

7fe9a38a33d6a960826a4a61e23e117b_minang-saisuak-empat-pantolan-komunis-minangkabau-di-sumatera-thawalib-padang-panjang

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto yang agak unik dan jarang tersua di buku-buku sejarah tentang Minangkabau. Foto ini muncul pertama kali di laman facebook sejarawan UNAND, Fikrul Hanif Sufyan, tgl. 25 Desember 2012. Foto ini mengabadikan empat orang tokoh Partai Komunis Indonesia (penjelmaan dari Sarikat Ra’jat) dari Padang Panjang.

Konteks sejarah foto ini adalah periode 1920-1927, saat ajaran Islam dan ideologi Komunis bersinergi di Minangkabau untuk mengusir penjajah Belanda. Kajian ilmiah yang bermanfaat dibaca untuk memahami latar historis foto ini antara lain adalah: Harry J. Benda and Ruth T. McVey, The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents, Ithaca: Cornell University, 1960, Audrey T. Kahin, “Communist Uprising in Sumatra: A Reapraisal”, Indonesia 62, 1996:19-36, dan Mestika Zed, Pemberontakan Komunis Silungkang, 1927: Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat(Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004).

Empat sosok yang terekam dalam foto ini, dari kiri ke kanan, adalah: Arif Fadillah (baju putih), Natar Zainuddin, Ahmad Khatib Dt. Batuah (tanda x) dan A.Wahab (baju putih). Seperti dapat dikesan dari wajah mereka, dua yang di tengah lebih senior dari dua yang di pinggir. Tapi yang paling senior dari keempatnya adalah Dt. Batuah.

Seperti telah dijelaskan dalam rubrik ‘Minang Saisuak’ tgl. 30 Desember 2012, Dt. Batuah (lahir di Koto Laweh, 1895 meninggal di Koto Laweh, 1949) adalah pembawa paham Komunisme ke dalam kampus Sumatera Thawalib, Padang Panjang. Ia mendirikan dan mengetuai PKI cabang Padang Panjang sekitar Maret 1923, dibantu oleh Djamaluddin Tamin (Sekretaris dan Bendahara), Natar Zainuddin dan Dt. Mangkudum Sati sebagai anggota kehormatan.

Tapi rupanya pihak-pihak yang berseberangan ideologi dengan Dt. Batuah dkk. terus menantangnya. Belanda juga khawartir melihat perkembangan gerakan Sjarikat Ra’jat di Padang Panjang. Djamaluddin Tamin dalam ‘Sedjarah PKI’ (stensilan, 1957:14) menulis:

Mulai sadja terdengar disebut2 gerakan pemuda Thawalib/Student Islam di Padang Pandjang, sudah mempunjai Depot Merah/Cooperasi Thawalib Merah, adanja I.D.C./International Debanting Club, dan Sarekat Rakjat jang sudah meliputi seluruh Minangkabau/Sumatera Barat, maka Abdul Muispun segera meninggalkan Djakarta/Djawa, dan sering2lah pula [ia] ke Padang Pandjang.

Abdul Musi (sic) jang merasa dirinja masih mendapat kepertjajaan Rakjat Minangkabau, ditjobanjalah djuga mengadakan Rapat2 Umum, dan sebagai pertjobaan jang pertama kali, diadakannjalah di Padang Pandjang pada bulan September 1923.

Rapat Umum Musi (sic) ini, dikubrukan, dikatjaukan oleh satu dua orang PKI-ers sadja, jang dengan terang2an Abdul Muis ditelandjangi bulat2 dalam rapat Umum Muis tsb, walaupun usaha mengadakan Rapat Umum ini disokong oleh Alim Ulama Besar di Minangkabau, seperti Hadji Abdul[lah] Achmad, Padang dan Hadji Abdul Karim Amarullah alias Hadji Rasul di Padang Pandjang, dan djiga (sic) mendapat sokongan beberapa ninik mamak/datuk2, penghulu2 jang memang sudah djinak2 kepada Belanda.

Sesudahnja Rapa Umum Muis ini bubar/gagal, maka langsunglah Abdul Muis mengadakan pertemuan rahasia di Padang Pandjang jang juga diikuti oleh Hadji Rassul/Haji Abdul Karim Amarullah ajah kandungnja Pudjangga Islam, Hadji Abdul Malik Karim Amarullah/HAMKA.

Pada tgl. 11 November 1923 Dt. Batuah dan Natar Zainuddin dicokok Belanda di Koto Laweh. Djamaluddin Tamin menduga penangkapan itu sangat mungkin didalangi oleh Abdul Muis dan kawan-kawannya yang memberi kesan kepada Belanda seolah-olah Dt. Batuah dan kelompoknya akan mengadakan pemberontakan. Tamin (ibid.) menulis: “Bertepatan benar hari Minggu tgl 11 Nopember 1923, negeri Kota Lawas-Pandai Sikat, diserbu oleh soldadu Belanda dengan bajonet terhunus, dan ditangkapilah Hadji Dt Batua[h] bersama tudjuh orang murid2nja H Dt Batuah di desa Koto Lawas”. Selanjutnya, ia menulis:

Pada hari Senin 12 Nopember 1923, saja sudah menegaskan dalam lembaran madjalah Pembangunan Islam, dan Djago-djago, jang kami terbitkan di Padang Pandjang sekali dua hari, ijalah artikel saja jang berkepala: TUDUHAN DAN FITNAH, ITU![1] jang diantara isinja artikel saja tsb saja seolah2 sudah menegaskan/bukan membajangkan lagi, bahwa alasannja tindakan militer terhadap H Dt. Batuah dkk, pastilah berdasarkan laporan2 palsu jang sudah disusun oleh Hadji Rasul, Sjech [Djamil] Djambek, H. Abdullah Ahmad bersama2 Abdul Muis, jang isinja laporan itu, ialah: H Dt. Batuah dengan kawan2nja di kota kawasan Pandai Sikat akan mengadakan pemberontakan….katanja!!

Foto ini kemungkinan dibuat sebelum penangkapan itu terjadi. Dilihat dari latarnya, kuat dugaan foto ini dibuat di tempat yang agak tersembunyi di kampung, bukan di kota.

Selama setahun lebih Dt. Batuah dan Natar berada dalam tindakan preventif Belanda di Padang, sebelum kemudian pada bulan Desember 1924 keduanya, dengan keluarga masing-masing, dibuang ke Sunda Kecil (sekarang: Nusa Tenggara Timur/NTT). Dt. Batuah dibuang ke Kalabahi di Pulau Alor dan Natar Zainuddin dibuang ke Kafamenanu di Pulau Timor (lihat: koran Njala, 14 November 1925). Pada tahun 1927 mereka dipindahkan ke Digul. Mereka dan para Digulis lainnya diungsikan Belanda ke Australia menyusul serbuan Jepang ke Hindia Belanda tahun 1942. Mereka baru bisa menghidup udara bebas lagi tahun 1945. Dt. Batuah sempat ke Jawa sebelum kembali ke Sumatera Barat tahun 1948. Natar Zauniddin juga kembali ke Sumatera Barat. Natar (lahir di Padang, 1890) meninggal di Padang tgl. 24 Mei 1950.

Dua tokoh berbaju putih dalam foto ini Arif Fadillah dan A. Wahab adalah penerus perjuangan Dt. Batuah dan Natar Zainuddin. Keduanya juga alumni Sumatera Thawalib. Arif Fadillah mengetuai PKI cabang Padang Panjang setelah dua seniornya yang lain yang menjadi pengurus partai itu, Djamaluddin Tamin dan Mahmud pergi ke Singapura menemui Tan Malaka. Arif sudah aktif di Padang Panjang sejak 1923 dan banyak menulis artikel pedas dalam Djago! Djago!. Ia pernah dipenjarakan Belanda selama 6 bulan tahun 1924. Menurut Benda (op cit.:170) posisi Arif pada waktu itu adalah ‘Sectional Executive’ menggantikan Ketua Umum PKI Sumatra’s Westkust, Sutan Said Ali. Pada tahun itu (1926) Arif pergi ke Jawa beberapa bulan untuk ‘kunjungan studi’. Arif aktif mengorganisir rencana pemberontakan di lapangan, dan juga menyelundupkan senjata. Ia tertangkap Belanda dalam pelariannya pada 29 Desember 1926 dan dibawa ke Sawahlunto.

A.Wahab tercatat sebagai staf PKI seksi Padang, dengan jabatan sekretaris dan bendahara, menyusul keputusan konferensi partai itu di Padang Panjang pada bulan Mei 1925. Ia adalah salah seorang penerima uang sebanyak 300 gulden yang berasal dari dana rahasia Uni Sovyet.

Tanggal dan tempat lahir Arif Fadillah dan A. Wahab belum diketahui. Arif dibuang ke Digul (Tamin 1957:88), sementara nasib A. Wahab dan puluhan simpatisan PKI lainnya, setelah pemberontakan Komunis Silungkang yang keburu bocor itu berhasil dipadamkan Belanda dengan mudah. Lusinan orang muda Minang yang cerdas punah oleh revolusi yang gagal itu. Fikrul Hanif Sufyan sedang menyiapkan buku tentang riwayat hidup dan pemikiran Dt. Batuah. Selain Mestika Zed dan Fikrul Hanif Sufyan, siapakah lagi yang berminat membuka terang sisi-sisi sejarah urang awak yang masihtakalimbun itu?

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Narlis, 70 tahun, keluarga Dt. Batuah, Koto Laweh). | Singgalang, Minggu, 20 Januari 2013

[1] Kata terakhir ini kurang jelas dan sulit dibaca. (Catatan Suryadi).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: