Posted by: niadilova | 14/01/2013

Minang Saisuak #119 – Para Ahli Perbintangan Kolonial di Pesisir Selatan (1902)

d0d6f9c17b5211fff7cae8f5b4b083e9_minang-saisuak-para-ahli-perbintangan-kolonial-di-pesisir-selatan-1902

Rubrik “Minang Saisuak minggu ini menampilkan satu foto klasik yang mengabadikan satu penelitian ilmiah yang dilakukan ilmuwan kolonial Belanda di Sumatera Barat awal abad ke-20. Foto ini (16,2 x 26,5 cm.) dibuat tahun 1902. Konteks foto ini adalah penelitian ilmiah mengenai gerhana matahari yang dapat diamati dengan jelas dari kawasan pesisir Sumatera Barat. Judul foto ini adalah:met sloepen worden Europeanen aan boord gebracht van een schip op de reede dat uitvaart om een zoneclips waar te nemen, Karang Sagoe afdeling Painan 1902″. Jadi, foto ini mengabadikan beberapa ahli ilmu perbintangan kolonial yang, sehabis melakukan pengamatan terjadinya gerhana matahari dari daerah Karang Sagu, afdeling Painan, kembali ke kapal yang sandar di lepas pantai. Syafroni Malin Marajo, yang memunculkan foto ini pertama kali dalam fb-group ‘Kerajaan-kerajaan di Minangkabau’ mengatakan bahwa Karang Sagu terletak antara Salido-Sago dengan Karang Pauah, Pesisir Selatan.

Rombongan ilmuwan ini mungkin berangkat dari Padang. Pada masa itu mengunjungi daerah Pesisir Selatan lewat jalan darat pasti sangat sulit. Gunung dan hutan lebat di mana-mana. Alternatifnya adalah menggunakan jalan laut. Di balik ombak yang memecah terlihat sebuah sekoci menunggu, dan jauh agak ke tengah ada satu kapal asap besar yang sedang lego jangkar, menunggu rombongan ilmuwan itu kembali ke geladaknya. Asap hitamnya membubung ke udara. Asap kapal itu hitam sekali karena bahan bakar yang dipakai adalah batu bara. Sangat mungkin banyak penduduk yang menonton kapal itu dari pantai.

Baru sekitar setengah abad sebelumnya kapal asap sampai di Asia. Moda transportasi laut dengan teknologi baru itu sempat mencengangkan ‘Bapak Sastrawan Melayu’ Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, seperti dituliskannya dalam Cerita Kapal Asap setelah ia diundang masuk ke perut kapal asapSesotris milik Inggris yang sedang sandar di pelabuhan Singapura di awal Agustus 1841 (lihat: Annabel Teh Gallop, “Cerita kapal asap”, Indonesia Circle 17,47-48, 1989: 3-18).

Sekarang kapal asap sudah makin canggih. Bahan bakarnya tidak lagi batu bara, tapi sudah tenaga diesel. Tapi kapal-kapal seperti itu belum bisa menjangkau berbagai tempat di Indonesia, negaraarchipelagic beribu pulau ini. Para pejabatnya suka naik kapal terbang saja sih.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Tropenmuseum, Amsterdam) | Singgalang, Minggu, 13 Januari 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: